Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 71



Sepanjang perjalanan pulang Nadira termenung seraya menatap punggung Naufal yang begitu dekat dengan jangkauannya. Ia tidak pernah mengira bahwa langkahnya mendekati Naufal akan berbuntut panjang seperti sekarang. Ia tidak menyangka jika akan dekat dengan Fauzan, diinginkan oleh anak itu, dan hatinya akan jatuh kepada anak itu beserta kakaknya.


Kini ia dirundung oleh perasaan yang tidak karuan. Ia merasa bersalah, senang, dan juga takut untuk kehilangan keduanya. Sungguh Nadira merasakan hidupnya lebih berwarna sekarang. Selain karena keberadaan Tina dan Farhan, kini Naufal pun turut menjadi alasannya untuk bahagia ketika di sekolah. Kemudian di tempat lain, ia memiliki Fauzan yang terlihat jelas sangat menyayanginya.


"Nadira? Kita sudah sampai di rumahmu," ucap Naufal yang sontak membuyarkan lamunan Nadira. "Apa yang sedang dirimu pikirkan? Apakah dirimu memerlukan bantuanku?"


Nadira tak lekas memalingkan pandangannya terhadap Naufal. Ia sengaja bergeming di sana, menikmati sensasi aneh yang menjalar di tubuhnya sebab kepedulian Naufal barusan.


"Katakan kepadaku, Nadira," ulang Naufal dengan penekanan.


Nadira lekas menyudahi aksinya yang begitu terang-terangan menatap Naufal. Ia mengangguk sejenak, kemudian menjawab, "tidak ada. Terima kasih banyak karena telah mengantarku sampai rumah dengan selamat." Nadira lantas turun dari motor Naufal, lalu melepas helm yang dikenakannya. "Berhati-hatilah di jalan, dan sampaikan maafku kepada Fauzan sebab tak dapat lama-lama menemaninya di rumah. Namun, aku berjanji di lain waktu akan berkunjung tanpa harus dirinya mengundangku," imbuhnya seraya mengembalikan helm di tangannya kepada Naufal.


"Baik. Aku akan sampaikan itu kepada Fauzan. Aku pun meminta maaf kepadamu karena tak sempat berkunjung dan bertemu kedua orang tuamu sebab aku tak mungkin meninggal Fauzan sendiri di rumah berlama-lama."


"Itu tidak masalah."


"Aku akan menjemputmu besok pagi untuk ke sekolah bersama. Apakah dirimu tidak keberatan?"


"Aku akan menunggumu esok. Tolong datang tepat waktu," jawab gadis itu.


***


Hari telah menginjak malam, dan Arif baru saja tiba di rumahnya dengan disuguhi oleh keberadaan Kesya di sana. Arif urung rampung memarkir motornya, tetapi ia telah turun dari sana untuk menghampiri Kesya dengan mengemban perasaan tidak menyangkanya.


"Maaf."


Kalimat itu yang pertama kali Arif dengar sesaat menyaksikan gadis pujaannya yang petang tadi sempat berdebat bersamanya bangkit dari tempat duduknya.


"Aku tahu ini terlambat, sebab seharusnya aku meminta maaf kepadamu sejak tadi. Namun, aku tidak sanggup."


Arif ingin menghambur ke pelukan Kesya, ia berhasrat untuk mendekapnya sekaligus mengelus lembut surai panjangnya. Akan tetapi, nuraninya masih menyimpan benci dan kecewa kepada gadis itu. Hati kecilnya masih terluka dan belum sembuh barang sedikit saja.


"Aku tahu aku salah dengan mengatakan itu kepada Jihan. Persetan dengan niat awalku yang hanya ingin bergurau, aku tetap mengaku salah dengan perkataanku, apa pun alasannya itu." Kesya menangis di tempatnya. Ia tak berani mendekat sebab biasanya Arif lah yang lebih dulu mendekat kepadanya ketika ia menangis seperti ini. Namun, apakah sudah sebegitu keterlaluannya perilaku Kesya hingga Arif bertahan bergeming di sana. Menciptakan jarak yang tak seberapa, tetapi cukup menyesakkan.