
Nadira bergabung dengan kedua temannya di ruang belajar dengan penampilan yang lebih santai. Ia telah membersihkan tubuhnya hingga membuatnya terasa lebih segar. Gadis itu mengenakan kaos hitam polos dengan celana training, ditambah rambutnya yang seluruhnya diikat sanggul hingga menampakkan lehernya yang jenjang.
Nadira hadir di tengah-tengah Tina dan Farhan dengan membawa ubi goreng buatan ibunya untuk dimakan bersama-sama. "Ayo makan dulu. Belajarnya dilanjut nanti saja," tuturnya membubarkan sesi diskusi antara Tina dan Farhan.
"Oh ya, bagaimana kelanjutan dengan event pameran itu? Kapan akan dilaksanakannya?" tanya Farhan seraya meraih ubi goreng yang baru saja disuguhkan oleh Nadira. "Seharusnya progres itu sudah sangat maju, bukan? Mengingat dirimu dengan Naufal seringkali bersama."
Sontak Tina menoleh ke arah Farhan. Teringat sudah menjadi kali berikutnya ia mendengar nada bicara sahabatnya itu semu-semu ketus tatkala menyinggung tentang Naufal. Tina tidak dapat menampik pernyataan tersebut, sebab air muka lelaki itu yang selalu terlihat kesal ketika membahas segala hal yang berkenaan dengan sang ketua osis.
"Kami baru mengerahkan masing-masing sie untuk mengerjakan tugas mereka sebagai persiapan pra-acara. Lalu, jika kamu bertanya mengapa baru sampai tahap itu? Jawabannya karena kami baru saja tanda tangan perjanjian kerja sama dengan penyedia sponsor," terang Nadira dengan lugas. Ia tahu ada yang sedang tidak beres dengan Farhan. "Farhan, ada apa?" imbuhnya.
Farhan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak ada. Aku hanya bertanya saja." Farhan kembali mengambil ubi goreng di hadapannya setelah yang sebelumnya habis dilahapnya.
"Tetapi kamu terlihat seperti ada apa-apa, Farhan. Sejak tadi, dirimu terlihat kesal. Jadi, katakan saja yang sebenarnya," sahut Tina dengan cepat. Ia sudah tak kerasan menyaksikan Farhan yang sikapnya demikian.
***
"Terima kasih, Arif. Sekali lagi terima kasih." Kesya mengeratkan pelukannya pada tubuh Arif. Ia merasa nyaman sekali berada di sana. "Berhati-hatilah di jalan, dan jangan lupa menjemputku esok tepat waktu."
Arif mengelus lembut puncak kepala Kesya yang berada dalam pelukannya. "Aku pastikan hari ini menjadi hari terakhirmu terlambat sekolah. Aku berjanji akan menjemputmu tepat waktu baik besok, lusa, maupun hari-hari selanjutnya."
Hubungan Arif dan Kesya memiliki kemajuan yang sangat baik. Keduanya sepakat untuk meniti hubungan baru itu dengan sabar dan perlahan-lahan. Arif akan terus membersamai Kesya yang telah berkomitmen untuk berusaha mencintainya. Arif percaya bahwa hal itu akan menjadi awal yang baik, awal yang akan membahagiakan bagi mereka.
"Kesya, jika aku boleh meminta satu hal kepadamu, aku mohon jangan pernah khianati aku." Arif menghela napasnya dalam-dalam, kemudian mengembuskannya perlahan. "Kita sudah beralih status setelah kesediaanmu untuk berusaha menerimaku, dan karena itu aku tidak ingin ada pengkhianatan di hubungan kita dalam bentuk apa pun."
Pelan-pelan Kesya melepas pelukannya pada tubuh Arif, kemudian beralih menatap sepasang netra lelaki itu dengan lekat. "Apa aku terlihat berniat mengurangimu? Bahkan selama ini aku sangat sering bersamamu, di dekatmu, dan mungkin akan lebih banyak waktu yang aku habiskan denganmu saja." Kesya menyunggingkan senyumnya seraya membelai rahang Arif dengan tangan lembutnya. "Arif, aku tidak akan memaksamu untuk percaya padaku. Biarkan aku berusaha menjalani hubungan denganmu sebagaimana semestinya. Sebuah hubungan yang sehat, di mana kita akan sama-sama bahagia dan membahagiakan."