Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 60



Pagi ini Farhan akan pergi ke sekolah, keadaan batinnya telah membaik meski masih ada duka di sana, Farhan merasa jika dirinya tidak akan apa-apa. "Bu, Farhan sudah siapkan makanan untuk Ibu. Jadi, Farhan minta tolong pada Ibu untuk tidak melewatkan sarapan pagi ini." Hening, tidak ada jawaban yang Farhan dapatkan kendati telinganya telah menempel pada daun pintu kamar Hawa. 


Lelaki itu segera pergi ke sekolah dengan wajahnya yang murung, dan tampak menyedihkan. Dalam benaknya, Farhan bertanya-tanya untuk apa sekarang usahanya? Toh, dia tidak dapat menunjukkan hasilnya nanti pada ayahnya. Sebelumnya, harapan yang Farhan miliki adalah Hawa, tetapi setelah melihat ibunya yang tampak tidak memiliki hasrat hidup lagi, kini dirinya berpikir siapakah yang dimilikinya sebagai alasan untuk tetap bertahan? 


***


"Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" Tina memperhatikan Nadira yang terlihat semakin berani. Gadis cupu itu telah terbiasa mendongakkan wajahnya saat berhadapan dengan Kesya. Dan sebenarnya Tina merasa sangat senang dengan perubahan tersebut, tetapi di sisi lain dirinya juga merasa takut, mengingat Kesya bukanlah gadis yang gampang menyerah, harapannya Nadira tidak akan kenapa-kenapa kedepannya. 


"Aku memiliki sesuatu yang dapat memikat Naufal. Langkahku akan semakin mudah, Tina." Kecerdasannya akan senantiasa mengiringi kepemimpinan Naufal, dan dari sini Nadira akan menemukan banyak kesempatan. "Lihat dia, Tina. Naufal pasti sedang mencariku." Kini, Nadira dan Tina tengah berjalan di koridor yang akan mengantarkan mereka ke kelas. Lalu beberapa meter dari posisi mereka berdua berada, tampak Naufal sedang berdiri di samping kelas sebelas Ilmu Pengetahuan Sosial-2, dan saat ini adalah waktunya Nadira melancarkan aksinya. 


"Lalu apa yang akan kamu lakukan?"


"Gunakan layar ponselmu untuk melihat Kesya yang berada di belakang kita."


Tina benar-benar mengangkat ponselnya dan menghadapkan layarnya di depan wajahnya. Kemudian gadis itu perlahan menggesernya ke sisi, mencari celah agar kaca gawainya itu dapat menangkap siluet Kesya. "Dia ada, bersama kedua temannya. Apa yang akan kamu lakukan?"


"Tunggu." Nadira dengan cepat mengeluarkan sebuah obat tetes mata dengan merek pasaran. "Aku akan menangis, dan mendapatkan simpati dari Naufal." Lalu Nadira meneteskan obat tersebut secara berulang-ulang pada kedua sudut matanya. "Rangkul aku, Tina," titahnya.


Tina benar-benar menuruti perintah Nadira, tangannya segera melingkar pada bahu sahabatnya tersebut. 


Tina gelagapan, dia hanya diminta merangkul bahu Nadira tanpa diberi tahu harus berkata apa. 


"Tidak apa-apa, Naufal." Nadira menggelengkan kepalanya dengan pelan. Sandiwaranya berhasil menarik perhatian Naufal secara seketika. "Ada keperluan apa dirimu kemari?"


Naufal tidak segera menjawabnya. Tatapan lelaki itu justru terpaku pada Kesya yang berjalan tak jauh di belakang Nadira. "Apa Kesya yang melakukannya? Apa gadis itu yang membuatmu seperti ini?"


"Tidak, Naufal. Jangan lakukan apa pun padanya, sungguh aku tidak apa-apa."


Tina terperangah dengan aksi Nadira yang luar biasa. Dirinya tidak pernah menyangka jika sahabatnya itu dapat bermain dengan cantik demi membalas dendam. 


"Aku tidak bisa membiarkan dirimu seperti ini, Nadira. Kesya perlu diberi ketegasan, perbuatannya melarang hukum, dan merugikan dirimu."


"Aku tidak ingin dia semakin marah, aku takut."


"Kalau begitu tenang saja." Dengan lembut Naufal menghapus air mata Nadira menggunakan jari telunjuk serta jari tengahnya yang dirapatkan. "Aku akan ada untukmu."