
Seperti inilah keadaan Farhan sekarang. Ia dihadapkan oleh barang-barang yang sebenarnya tidak asing baginya, tetapi tak mengerti harus diapakan.
"Ini benang kur, benang wol, kawat emas, dan bambu. Aku berencana untuk membuat kerajinan pohon dan hiasan dinding. Aku tahu bagaimana cara membuatnya, hanya saja aku memerlukan bantuanmu agar semua ini dapat selesai lebih cepat," ujar Adiyasta menerangkan.
"Kurasa ini akan lebih sulit daripada membuat prakarya tanaman kantong plastik kemarin." Membayangkan kerumitan yang akan dihadapinya tak lama lagi, membuat Farhan lemas sendiri. Adiyasta dengan kreativitasnya itu memang sering merepotkannya.
"Itu sudah pasti. Aku ingin karyaku lolos dan dipamerkan. Dirimu tahu sendiri, jika event yang diselenggarakan oleh SMA Cakra Buana selalu bergengsi. Aku ingin menaikkan pamorku setidaknya di antara para siswa di sekolahku sendiri. Aku ingin memenangkan nominasi kategori pencipta karya paling kreatif, dan mendapat piagam penghargaan sebagai tiketku masuk perguruan tinggi nanti." Adiyasta mengatakannya dengan binar yang tampak jelas di matanya. Harapannya begitu besar, hingga membuat Farhan sekalipun tidak ingin mengecewakannya. "Undangan perihal keikutsertaan pameran itu baru sampai di sekolahku tadi pagi. Namun, kabarnya telah tersebar sejak beberapa hari kemarin. Sekolahmu luar biasa sekali, Farhan, dan beruntungnya dirimu dapat menjadi bagian dari sekolah itu."
***
"Kak! Tolong keluarkan Fauzan dari sini! Mengapa Kakak mengunci Fauzan di kamar ini sendiri!" Pekikan Fauzan begitu lantang disertai oleh gedoran keras pada daun pintu kamarnya yang telah dikunci oleh Naufal dari luar.
Napas sang ketua osis itu tampak memburu dengan wajahnya yang merona merah menandakan amarahnya tak lagi mampu untuk ditahan. Setelah mendengar kelancangan Fauzan atas kalimat yang seolah-olah menyalahkannya itu, Naufal tak lagi dapat bersabar. Ia tidak menyangka jika Fauzan akan berucap dengan seberani itu kepadanya.
Mendengar itu Naufal mendadak panik. Ia tidak boleh mengabaikan perkataan adiknya yang terakhir itu. Meski nanti faktanya hanya sebatas tipuan sekalipun, atau bahkan hanya ancaman untuk memperoleh belas kasihannya, tetap saja Naufal tidak boleh menjajal nyali adiknya bak jajanan pasar.
"Kakak minta kepadamu untuk berhenti merengek-rengek tentang Nadira. Kakak tidak akan mengusahakan apa pun terhadap gadis itu mulai sekarang. Jadi, dirimu jangan pernah mengharapkan dia dapat kembali akrab bersama kita," pinta Naufal kepada adiknya.
"Seharusnya Kakak mengakui kesalahan Kakak kepada teman-temannya. Kepada Kak Farhan dan Kak Tina. Kakak memiliki kesalahan besar terhadap mereka berdua. Kak Na marah terhadap Kakak karena dua orang itu adalah sahabatnya," terang Fauzan tak gentar dengan pendapatnya yang sejak awal tidak berubah.
Naufal tak sudi meminta maaf baik kepada Tina atau bahkan Farhan. Sang ketua osis dengan egonya adalah suatu hal yang amat sukar untuk dipisahkan. Di tambah, statusnya sebagai petinggi organisasi terelit di sekolah, Naufal enggan menurunkan gengsinya untuk meminta maaf kepada Farhan dan Tina dengan begitu mudahnya.
"Ingat, Kakak hanya keberatan untuk meminta maaf kepada Kak Farhan dan Kak Tina sebab mereka bukanlah seseorang yang Kakak inginkan. Coba bandingkan dengan Kak Na, Kakak rela melakukan apa pun kepadanya, karena Kakak menginginkannya," ucap Fauzan lagi. "Kakak tidak benar-benar mampu memutus hubungan dengan Kak Na."