
Kesya tak pergi ke kantin seperti biasanya. Ia pun menolak ajakan Mora dan Yustin dengan alasan sakit kepala. Namun, perlu untuk diketahui bahwa hal itu benar. Kesya sakit kepala karena begadang semalaman, menangis semalaman, serta melewatkan sarapan paginya. Gadis itu sedang tidak enak badan, dan hanya ingin menidurkan kepalanya sepanjang waktu istirahat.
Arif yang menyaksikan hal itu pun menjadi enggan untuk keluar kelas maupun memulai pembicaraan dengan Kesya. Ia bimbang, bingung, dan tak mengerti harus bertindak bagaimana. Ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Kesya, tetapi tak mengerti harus mengawalinya dengan melakukan apa.
Satu-persatu penghuni kelas meninggalkan tempat dan menyisakan Kesya bersama Arif berdua. Kesya semula meletakkan kepalanya, kini perlahan mengangkatnya kemudian memutar tubuhnya untuk menghadap kepada Arif. "Maaf, Arif," ucapnya lirih.
Arif melihat wajah Kesya yang pucat dan sembab. Ia pun melihat bagaimana lingkar hitam di mata gadis itu tampak samar menghias. Mengapa sepayah itu Kesya sekarang? Mengapa ia terlihat menyedihkan sedang setiap harinya ia berperan sebagai antagonis yang berkuasa?
"Kamu sakit, Kesya." Arif tak dapat mengabaikan kondisi buruk gadisnya yang terlihat kontras. "Apa yang membuatmu seperti ini?" Arif mengambil tangan Kesya untuk digenggamnya, dielusnya, dan terakhir dikecupnya dengan lama.
"Maafkan aku, Arif. Aku mohon maafkan aku," ulang Kesya sekali lagi.
Arif mendongakkan wajahnya dan mempertahankan netranya terkunci pada pandangan gadis di hadapannya. "Apa kamu berpikir aku belum memaafkanmu saat ini?"
Mengapa mendengar pernyataan itu membuat Arif merasa sangat bersalah? Mengapa perkataan Kesya seolah-olah menempatkan Arif sebagai tokoh jahat di sana? Apakah Arif memang telah begitu keterlaluan sehingga berimbas pada Kesya yang pucat saat ini?
"Aku tidak akan mengulangi hal yang sama apabila dirimu benar-benar tidak ingin dan tidak dapat mentoleransi perbuatanku kemarin. Aku tahu mungkin denganku menganggap itu sebagai candaan adalah kesalahan yang besar, sebab ternyata hal tersebut sangat tidak dirimu sukai. Namun, bisakah kita berdiskusi sekarang? Katakan kepadaku hal apa yang tidak dapat dirimu terima, hal apa yang akan membuatmu kesal, marah, dan kecewa. Mari kita terbuka, Arif. Dan tolong maafkan aku." Kesya sungguh-sungguh memohon meski tidak ada air mata yang menggenang di wajahnya.
Arif pun tersentuh mendengar penuturan Kesya yang demikian. Dengan lancang lelaki itu pun berprasangka jika Kesya mulai mencintainya, mulai menginginkannya, dan diamnya kemarin berhasil membuat gadis itu menyesal. Namun, siapa yang mengira bahwa.
"Kita sahabat, Arif. Tidak ada salahnya kita menjadi lebih banyak berbicara dan berdiskusi sekarang." Kesya kembali menekankan adanya batasan di antara dirinya dan Arif. Kesya kembali menjatuhkan harapan lelaki itu dengan cara-cara halusnya.
Arif sontak mengendurkan genggaman tangannya. Meski ia tahu kenyataannya bahwa Kesya tak akan mudah menerimanya, entah mengapa hatinya tetap terluka apabila Kesya menegaskan adanya batasan pada hubungan mereka berdua. Arif tak kunjung kebal terhadap nyeri atas penolakan yang diterimanya, kendati ia telah mendapatkannya berulang kali.
"Pergilah ke UKS. Kondisimu terlihat tidak baik-baik saja. Kita dapat bicarakan hal ini lain waktu, dan yang terpenting saat ini adalah keadaanmu." Arif mengurungkan niatnya untuk memaafkan Kesya pada detik itu. Lelaki itu justru meninggalkan kelas dan lagi-lagi menghindar dari gadisnya, Kesya.