Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 38



"Nadira, apakah tidak masalah jika kamu menunggu sendirian?" Farhan merasa tidak enak. Kemarin dia masih menunggu Nadira hingga mendapatkan jemputan. Akan tetapi untuk hari ini dia tidak bisa melakukan hal yang sama.


"Tidak apa-apa, Farhan." Nadira mengangguk pelan. Tina telah meninggalkannya berdua bersama Farhan, hingga kecanggungan kembali menghinggapinya. "Hati-hati di jalan."


"Nadira!" Dari kejauhan Naufal berlari. Lelaki itu menghampiri Nadira, sepertinya ada keperluan. "Ikut denganku, kita harus membuat proposal sekarang."


"Naufal, Nadira belum makan siang." Farhan protes. Walau dia tahu Nadira sudah terbiasa diberi tugas mendadak dari organisasi, entah mengapa untuk kali ini dia merasa tidak tenang, dia ingin bersamanya, menemaninya, Farhan ingin di dekat Nadira, begitu lebih singkatnya. "Biarkan dia mengisi perutnya lebih dulu."


Naufal menatap Farhan sejenak. Dia tidak begitu mengenal Farhan, karena dia tidak pernah melihat sahabat lelaki Nadira itu berada di lingkup organisasi. Farhan hanya fokus pada nilai akademisnya, mendapat ranking satu di kelas sudah menjadi keharusannya, dia ingin berkuliah gratis, maka dia harus berusaha mendapatkan nilai terbaik demi mendapatkan beasiswa kuliah hingga lulus. 


"Aku akan mengajaknya ke kantin. Kami akan menghabiskan makan siang bersama di sana." Naufal tersenyum, dia tahu Farhan khawatir dengan sekretarisnya.


Entah mengapa saat mendengar jawaban Naufal, Farhan menjadi tidak suka. Farhan sedikit terganggu dengan niat Naufal menghabiskan makan siang bersama sahabatnya, sedikit tidak rela, dan tidak tenang. 


Farhan akhirnya mengangguk. "Aku titip, Nadira. Antarkan dia pulang setelah selesai nanti." Setelah itu Farhan pergi karena angkotnya telah menunggu. 


"Nadira, bagaimana? Kamu bisa?" Naufal memastikan kembali, sebab sejak tadi Nadira hanya diam. 


"Bisa." Nadira mengangguk. 


Nadira menaikkan salah satu alisnya. Dia terkejut dengan pandangan Naufal. "Boleh aku koreksi sedikit?" Nadira mendapatkan anggukan dari Naufal. "Dia sahabatku, bukan pacarku." Nadira membenarkan, bukan karena benci dengan anggapan Naufal, dia hanya tidak ingin ada kesalahpahaman suatu saat nanti.


Naufal menarik lengan Nadira, membawanya kembali masuk ke dalam sekolah. "Persahabatan kalian manis sekali." Naufal tidak mereta-reta, kenyataannya memang begitu, perlakuan Farhan sangat manis, dan Nadira juga menyadarinya, sejak lama. 


"Apa hanya kita yang bekerja hari ini?" Nadira tidak perlu menjawab ucapan Naufal yang terakhir. Langsung pada intinya saja. 


"Ada Wildan juga." Naufal diam sejenak, dia terlihat sedang memikirkan sesuatu. "Kita hanya membutuhkan data anggaran, kepanitiaan, jadwal dan agenda kegiatan, dan segala keperluan pendukung, seperti properti serta perlengkapan-perlengkapan lainnya."


"Dirimu dan Wildan sudah mencatat semuanya?" tanya Nadira. 


"Sudah." Naufal mengangguk yakin. 


"Sudah tepat semuanya?" Nadira harus mendapatkan kepastian yang jelas. Atau tugasnya membuat proposal tidak akan ada habisnya. Revisi adalah musuhnya, jika sekali dua kali masih bisa dia maklumi, akan tetapi jika lebih dari itu, Nadira tidak suka. 


"Ini baru rancanganku, Nadira. Bu Iis memintaku untuk membuat proposal lalu dibahas bersama beliau. Jika sudah tepat bisa langsung diajukan kepada kepala sekolah, akan tetapi jika tidak, maka Bu Iis akan mengoreksi dan menambahkannya." Naufal tahu keresahan Nadira. Pasalnya saat di awal masa jabatannya menjadi Ketua Osis, Naufal pernah membuat Nadira kesusahan. Saat itu sedang merancang rencana untuk acara ulang tahun sekolah, dan rancangan Naufal tidak matang, terlalu terburu-buru, serta data anggarannya terlalu besar, sedangkan properti dan perlengkapannya tidak seberapa. Waktu itu Naufal belum cukup melakukan riset dan observasi, Naufal terlalu membesarkan nominal anggaran sebagai dana mendesak, dan itu melelahkan sekali, sampai-sampai Nadira harus merevisi proposal delapan kali.