Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 115



Nadira menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Bukan kita yang perlu bicara berdua, melainkan dirimu dan Farhan. Kalian belum berdamai sejak permasalahan kemarin."


Apa yang Nadira katakan memang benar. Naufal telah mencaci Farhan semalam, dan agaknya urung terlihat akan adanya iktikad baik dari sang ketua osis untuk meminta maaf kepada lelaki itu.


"Tetapi, Nadira." Naufal gelagapan. Mendadak ia merasa hilang muka sesaat setelah Nadira berkata demikian. 


"Apa? Apa susahnya mengakui kesalahanmu dan minta maaf kepada Farhan? Dirimu telah melukai hatinya, dirimu telah mengatakan hal buruk tentangnya, dan aku sebagai sahabatnya jelas tidak terima apabila dirimu melakukan itu kepadanya."


Mendengar itu Farhan seketika termangu sekaligus terenyuh. Dia tidak bisa untuk tidak bahagia mendengar Nadira kembali membelanya. Ia tahu Nadira pasti kesulitan untuk menempatkan diri agar berpihak kepadanya, padahal akhir-akhir ini Naufal beserta adiknya senantiasa membersamainya untuk bersenang-senang bersama.


"Jangan diperpanjang lagi, Nadira. Aku tidak ingin Naufal melakukan apa pun. Aku hanya ingin kita segera berangkat sekolah sekarang, atau nanti kita akan terlambat." Farhan kembali merangkul bahu Nadira serta menggiring gadis itu agar mengikuti langkahnya yang kian menjauh dari keberadaan sang ketua osis.


Masih di tempatnya, Naufal terpaku menatap gadis yang sengaja ia hampiri justru pergi bersama orang lain. Ia merasa seperti patah hati, meski sesungguhnya tak mengerti apa yang menyebabkan perasaan itu ada dan menyakiti. Naufal tidak rela menyaksikan Nadira berpaling darinya demi menyertai Farhan walaupun ia tahu bahwa lelaki itu adalah sahabat dari gadis yang diinginkannya sekarang.


"Seharusnya dia meminta maaf kepadamu, Farhan. Dia telah melakukan kesalahan kepadamu," ujar Nadira sembari melepas rangkulan Farhan di bahunya. "Mengapa dirimu justru seperti ini? Dirimu membuatku semakin merasa bersalah."


"Memangnya apa yang akan aku dapatkan jika aku memintanya untuk melakukan itu kepadaku? Dia tidak akan meminta maaf dengan sungguh-sungguh karena hatinya urung tergerak untuk melakukan hal itu. Dia mungkin akan menurut apabila dirimu yang memintanya, dan jika sudah seperti itu, apakah permintaan maafnya murni disebabkan oleh perasaan bersalahnya?" Farhan berusaha memahami keadaan. Ia tidak ingin terlalu bermudah-mudah dengan Naufal apa pun keadaannya. "Tidak, Nadira. Dia tidak menyesal dengan apa yang telah ia perbuat kepadaku. Dia hanya ingin dirimu terkesan dan hubungan kalian kembali membaik seperti sedia kala. Aku tidak ingin dirimu terlalu lama berurusan dengan lelaki bermulut pedas sepertinya. Aku tidak ingin hal buruk terjadi kepadamu suatu saat nanti," imbuhnya.


Apa yang Farhan katakan sepenuhnya benar. Naufal hanya terlihat menyesal sebab hubungannya dengan Nadira yang terasa mulai canggung. Sang ketua osis itu tidak terlihat bersalah terhadap apa yang telah diperbuatnya kepada Farhan, padahal itu adalah titik masalah utama yang berhasil merebak merusak hubungannya dengan sang sekretaris.


"Maafkan aku, Farhan. Karena aku, dirimu jadi mendapatkan imbasnya seperti ini." Nadira tidak dapat membiarkan hal buruk terjadi kepada Farhan sebab lelaki itu adalah teman pertama yang menerimanya sesaat masih menjadi seorang gadis cupu yang kehadirannya tidak dianggap ada. Farhan terlalu berjasa dalam hidupnya untuk sekadar digadaikan oleh segala kesenangan yang mampu Naufal berikan. Farhan beserta ketulusannya adalah sesuatu yang menjadi alasan bagi Nadira untuk terus berterima kasih dan terus merasa berutang budi.


"Dia mencintaimu, Nadira. Dia cemburu denganku yang dapat lebih dekat denganmu, maka dari itu dia menjadi kehilangan kendali terhadap emosinya sendiri."