
"Dengarkan aku, Kesya." Arif tersenyum, akan tetapi netranya masih meluncurkan tetesan demi tetesan air mata. Bagaimana cara memberikan pemahaman pada Kesya? Cintanya begitu besar, tak mudah dihapus dengan kenyataan bahwa tak mungkin mendapat balasan. Memang Arif siapa? Dia hanya lelaki biasa, hatinya yang tulus, dan cintanya pada Kesya itu hadir dengan sendirinya, tidak dibuat-buat. "Benar, aku sakit itu benar. Tapi aku akan menjadi yang paling kuat, Kesya. Kamu rapuh, dan lelaki yang kamu inginkan, tidak akan ada di sisimu, Naufal tidak akan ada di sisimu." Hanya Arif yang bersedia. Hanya Arif yang sanggup membantu Kesya untuk bangkit, tanpa memedulikan hatinya yang runtuh perlahan-lahan.
"Kamu jangan membuatku semakin bersalah, Arif. Aku tidak suka berada di posisi ini. Biarkan aku jatuh sendiri, Arif. Biarkan aku terluka sendiri. Kamu jangan datang lagi, jangan hadir lagi, dan jangan peduli lagi." Tak peduli akan sesakit apa rasanya nanti. Setidaknya Kesya berhasil membebaskan Arif dari belenggu yang serupa dengannya. Masalah kuat atau tidaknya biarkan menjadi urusannya sendiri nanti. "Aku mohon, Arif. Jangan sakiti hatimu seperti ini, aku tidak tega."
Tidak ada yang tidak sesak. Arif dan Kesya sama-sama bergeming. Hanya isak tangis mereka yang terdengar saling bersahutan. "Aku harus bagaimana? Bagaimana caranya melupakanmu, Kesya? Bagaimana caranya pergi dari sisimu tanpa menyakiti hatiku?" Arif ingin tahu, apakah Kesya memiliki satu saja solusi untuk pertanyaannya.
"Tidak ada satu pun cara, Kesya! Kamu bisa membuat banyak alasan agar aku pergi. Tapi aku juga punya satu alasan untuk bertahan, hanya satu, tapi cukup membuatku kuat." Dan Arif masih memegang satu alasan itu, lantas menanamnya sangat dalam di kalbunya. "Aku mencintaimu, Kesya. Sangat-sangat cinta." Hanya itu alasannya. Terdengar sederhana memang, tapi lihatlah perjuangannya, sangat keras, sebab Arif senantiasa bertahan, dari ombang-ambing yang bisa saja menenggelamkannya.
Arif menggelengkan kepalanya. Yang tahu kondisi hatinya hanya dirinya sendiri. "Lupakan jika aku pernah menyatakan cintaku. Lupakan bahwa aku sedang memperjuangkanmu sekarang. Lupakan bahwa aku baru saja menangis karena gadisku mencintai laki-laki lain. Kita yang akan membuat lembar baru, dan membakar lembar lama. Aku berjanji aku akan berpura-pura dengan baik, berpura-pura menunjukkan bahwa tidak ada rasa lebih untukmu dihatiku, tapi kamu juga harus berjanji untuk bersungguh-sungguh menerima hadirku, masih sebagai sahabatmu."
Kesya memeluk Arif sangat erat. Mengapa ia dipertemukan dengan lelaki yang sangat tegar seperti Arif? Mengapa ia harus mendapatkan kasih sayang yang tak menuntut balas dari lelaki seperti Arif? Kesya kecewa, dia kecewa pada dirinya sendiri, dia tidak mampu membalas segala kebaikan Arif dengan hal yang serupa. Yang Kesya ingat, dirinya justru menyakiti Arif, melukai hati lelaki itu, dan Kesya bersalah sekali.
"Kamu bodoh, Arif! Kamu lelaki yang bodoh!" Kesya menangis deras di bahu Arif, dia menyayangi Arif, akan tetapi dalam konteks yang berbeda. "Seharusnya jangan aku, sudah kubilang jangan aku, dasar keras kepala!" Kesya senang, dia begitu dicintai oleh Arif, akan tetapi hatinya tak jauh berbeda dengan Arif, mereka berdua sama-sama bersikeras memperjuangkan cinta pertama mereka, apa pun kemungkinannya nanti.