
Cukup lama Farhan mempertahankan posisi itu. Seolah bahu Nadira adalah satu-satunya tempat paling nyaman untuknya mencurahkan duka. Farhan terisak-isak di sana, dukanya benar-benar menghilangkan asanya. Tanah basah di bawah kakinya telah memendam jasad ayahnya, pria pertama yang melantunkan azan di telinganya. Namun pada hari ini, tepat beberapa waktu yang lalu, sesaat sebelum bumi menelan tubuh Hamdani, Farhan menguatkan diri untuk melantunkan azan di telinga ayahnya itu. Melakukan hal yang serupa, dengan suasana serta rasa yang jauh berbeda.
"Farhan." Nadira sedikit berjinjit, dia ingin Farhan merengkuh tubuhnya dengan nyaman. "Aku tahu ini sulit sekali untuk kamu terima. Kematian, adalah sumber kesedihan paling memilukan yang diberikan Tuhan untuk manusia. Tidak mudah untuk kuat setelah yang terjadi hari ini. Kamu boleh tuli, Farhan. Akan banyak yang meminta dirimu untuk sabar, dan tabah, tanpa ingin berada di posisi yang sama." Nadira merasakan tubuh Farhan bergetar, lantas tangannya bergerak untuk mengusap lembut punggung lelaki itu.
Farhan mendengarkan semua ucapan Nadira, dan dia bersyukur karena masih ada yang mengerti bagaimana perasaannya. Tidak mudah untuk tetap baik-baik saja setelah kesedihan yang separah ini. Ayahnya pergi untuk selamanya, memutuskan kesempatan untuk bersua kala rindu melanda, dan lagi-lagi untuk selamanya. Lalu meminta Farhan untuk lekas sembuh dan melupakannya, bukanlah hal yang sederhana seperti yang dipikir banyak orang.
"Memang aku tidak pernah merasakannya, Farhan. Tapi aku tahu, kalau kejadian hari ini, akan membuatmu menderita hingga beberapa waktu ke depan." Nadira merasakan Farhan mulai melepaskan pelukan pada tubuhnya. Lelaki itu sudah tak lagi menangis, walau jejak basah di wajahnya masih jelas tak tersirat. "Tapi aku minta padamu satu hal, Farhan. Berusahalah sedikit saja untuk bangkit. Cari puing-puing harapan ayahmu, yang harus kamu wujudkan. Hanya itu, Farhan, hanya itu yang bisa kamu lakukan untuk membalas segala kebaikan ayahmu."
Farhan masih ingat dengan cita-cita ayahnya yang dibebankan di pundaknya. Hamdani ingin Farhan jadi sarjana, dan dapat berguna untuk orang banyak. "Nadira, kumohon bantu aku, ya. Bantu aku untuk lupa dengan duka ini, bantu aku untuk bangkit dari kesedihan ini, kumohon bantu aku." Farhan membuka suara. Dia memohon bantuan, dia tahu cobaannya kali ini terasa berat, dia butuh seseorang untuk menyemangatinya.
Nadira mengangguk. Dia tidak akan pergi, dia akan berada di sisi Farhan, sampai lelaki itu benar-benar berhasil melepaskan deritanya. "Iya, aku akan selalu bersamamu. Aku akan membantumu, aku janji." Nadira memberikan jari kelingkingnya, berharap Farhan akan menyambutnya dengan tautan perjanjian.
......................
"Iya." Naufal mengangguk mengiakan.
"Kita tidak meminta Arif untuk ikut serta?" Wildan mengernyitkan dahinya. Seingatnya yang pantas mendampingi Sang Ketua Osis, seharusnya adalah wakilnya.
"Sudah, aku sudah memintanya." Naufal mengembuskan napasnya dengan kasar. "Dia memilih untuk pergi ke rumah Kesya. Katanya, gadis itu sedang sakit, sekarang."
Bahkan Arif juga memaksa Naufal untuk pergi ke rumah Kesya, untuk menjenguk gadis itu. Namun, Naufal jelas memilih untuk menolaknya, karena Naufal tidak mau terlibat apa pun dengan Kesya.
"Apa kita perlu menjenguknya juga?" Wildan berinisiatif.
"Tidak perlu." Naufal menggelengkan kepalanya. Jelas sekali dia enggan, atau sudah berubah menjadi tak sudi.