Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 30



"Kamu pernah gagal membinanya." Arif ingat. Dirinya dan Naufal, serta Kesya, bukanlah orang asing. Sekolah menengah pertama adalah tempat di mana pertemuan mereka bertiga bermula. Hanya sebatas teman, tidak dekat, atau bahkan bersahabat. "Kamu gagal, Naufal. Tapi kamu harus tahu jika hubungan-hubungan selanjutnya belum tentu akan gagal untuk terus-menerus."


"Kamu tidak tahu bagaimana rasanya, karena kamu belum pernah berada di posisi itu." Apa yang dikatakan Naufal memang benar. Arif belum pernah menjalin sebuah hubungan dengan seorang wanita sebelumnya, karena Arif hanya menyukai Kesya, sejak di bangku sekolah menengah pertama. Arif tidak pernah merasakan kepedihan seperti yang Naufal rasakan, akan tetapi lelaki tersebut merasakan hal yang lebih menyakitkan dari itu. Andai Naufal tahu! 


"Aku merasakan yang lebih menyakitkan, Naufal! Aku mencintai gadis yang mencintai lelaki lain, dan itu terjadi sejak lama! Bayangkan bagaimana rasa sakitnya saat ini, saat harus menggadaikan rasa cintaku dengan membujuk lelaki lain agar sudi membersamai gadis yang amat aku cintai." Itu kebenarannya. Tidak ada yang lebih menderita daripada Arif. Seharusnya Naufal tahu keadaannya, tahu lukanya, sedikit saja. Membandingkan lara yang ditanggung Arif, dengan masa lalunya yang menyedihkan, benar-benar bukan hal yang setara. 


"Jika kamu mencintainya, sebegitu besarnya, maka perjuangkan." Naufal kali ini terdengar bodoh. Dia seharusnya dapat melihat salah satu perjuangan terbesar Arif saat membujuknya. 


"Kamu buta, Naufal! Kesya menginginkanmu! Aku sudah berulang kali berjuang untuk memilikinya! Tapi aku tidak jahat dengan memaksanya agar menerima cintaku! Ini salah satu perjuanganku, perjuangan untuk membahagiakannya untuk terakhir kalinya!" Arif lelah. Dia terpaksa mengorek kenyataan yang menjadi lukanya. Sudah berusaha ia pendam, ia tutup rapat-rapat, dan bergerak untuk melupakannya. Namun kebodohan Naufal memaksanya untuk kembali membedel dan mengacak-acaknya hingga tak karuan. 


Sakit sekali. Arif ingin mengatakan bahwa dirinya sakit, sekarang. Andai ada yang tahu, andai ada yang bersedia menjadi bahu untuknya bersandar sejenak saja, andai ada yang peduli walau hanya berdusta mengatakan sebuah perhatian. Sayangnya untuk pencitraan saja Arif tidak mendapatkannya.


"Tapi dia yang terbaik untukmu, Arif." Apakah Naufal berusaha menghibur? 


"Tidak perlu membuatku senang seperti itu. Kesya adalah dunia untukku, tapi itu percuma saja." Kembali pada sebuah fakta yang pahit. "Toh, yang dia inginkan bukan aku, dan mungkin tidak pernah menginginkanku. Jadi tidak perlu mengungkapkan kemungkinan manis, yang jelas sulit untuk aku jangkau."


Arif selalu mensugesti dirinya seperti itu. Walau akan selalu berakhir luka, sebab kenyataannya selalu berbeda. Jangankan mendapatkan hasil yang indah dan sesuai keinginannya, mengendus balasan baik atas prosesnya saja tidak. Hanya kata 'Sia-sia' yang jelas menjadi penggambaran paling tepat. Terdengar sangat miris, bukan? 


"Semoga kamu bisa lebih tabah." Naufal iba pada Arif. Namun bukan berarti dia menerima permintaan Arif beberapa menit yang lalu. "Aku pergi dulu." 


Permintaan Arif jelas-jelas tidak dipertimbangkan oleh Naufal. Sang Ketua Osis melesat meninggalkan Gedung SMA Cakra Buana, sedangkan Arif masih tampak menyedihkan dengan penampilannya yang semakin berantakan. Arif menangis, sangat-sangat deras, dan isaknya menggema di ruang tempat parkir yang sepi dan gelap.