
"Kamu tidak boleh lupa dengan kekuatan Papaku, yang bisa dengan mudah menyingkirkan kerikil di jalanku." Kesya bersedekap, menatap tajam ke arah Nadira, seperti tersulut amarah yang masih rapi tersembunyi dibalik seringainya. "Huh, terdengar nepotisme memang. Tapi aku suka, bahkan sangat-sangat suka, sebab posisi terkuat ada di tanganku sekarang." Kesya sendirian, tanpa kedua sahabatnya Mora dan Yustin. Kesya akan menyelesaikan Nadira dengan sendirian.
"Jangan bangga dulu, Kesya. Aku tahu apa yang membuatmu menjadi seperti ini, dan aku sama sekali tidak takut padamu, sekarang." Nadira menjawabnya, dengan tegas tanpa menunjukkan sedikit pun getaran dalam dirinya.
"Aku waras, Nadira. Kamu harus catat di kepalamu baik-baik, jika aku waras, tidak seperti yang kamu katakan waktu itu." Kesya mulai tidak suka dengan kenyataan bahwa Nadira sanggup menjawab semua ucapannya dengan baik dan lancar.
"Jika memang kenyataannya seperti itu, maka tidak seharusnya kamu melakukan hal seperti ini padaku. Karena kamu tahu? Mencela dan menyakiti fisik orang lain tanpa alasan, hanyalah perbuatan orang gila, kamu harus tahu dan catat itu juga dengan baik-baik di kepalamu." Lagi-lagi Nadira menjawabnya dengan tenang. Gadis itu mampu mengendalikan dirinya agar tidak dikuasai amarah, dan tetap tenang menghadapi ucapan Kesya yang tidak akan pernah ada habisnya.
"Persetan tentang orang gila, Nadira! Aku akan tetap lakukan apa yang aku suka, dan kamu, sedikit pun tidak akan bisa menghalangiku." Kesya tetaplah gadis antagonis dalam kisah ini. Dia sendiri yang memilih untuk mempertahankan peran yang jelas-jelas akan membuatnya semakin sulit menggapai Sang Ketua Osis.
"Aku tidak salah dengar, kan? Kamu menantangku?" Kesya berusaha memperjelas pendengarannya, sebab ucapan Nadira terdengar lawak baginya. "Kamu tidak sedang bergurau, kan?" imbuhnya.
Nadira melangkahkan kakinya semakin mendekat pada Kesya, dan kini hanya berjarak sejengkal saja. Nadira dapat melihat jelas wajah sembab Kesya, entah karena apa Nadira sendiri tidak tahu. Yang Nadira tahu saat itu adalah amarah Kesya yang jelas tertuju padanya, sebuah amarah yang membesar sebab usahanya untuk memberontak setelah terkungkung perundungan yang Kesya ciptakan.
Masa-masa penuh nestapa itu akan berakhir, beriringan dengan amarah Kesya yang akan semakin menjadi, sebab Nadira bersikeras melawannya. Membiarkan semuanya larut dengan sendirinya, tanpa ada yang berani menciptakan guncangan ombak di dalamnya, tidak serta-merta berhasil menciptakan semuanya tetap baik-baik saja. Nadira yang tersakiti, dan Nadira yang akan menciptakan guncangan itu untuk mengakhiri ketidakadilan yang menimpanya.
"Aku tidak akan mengalah lagi, Kesya. Aku akan keluar dari lingkaran penderitaan yang telah kamu buat untukku sejak lama. Aku akan keluar dari sana, tanpa memedulikan imbas yang timbul nantinya." Nadira menatap tajam netra Kesya yang hanya berjarak sejengkal di hadapannya. "Dan aku tahu kamu tidak akan pernah suka dengan keberanian ini. Tapi kamu harus mulai terbiasa dengan kenyataan bahwa dirimu akan kehilangan kelemahanku secara satu-persatu. Terlalu aneh, kan? Tapi itu yang akan aku tunjukkan padamu mulai sekarang." Nadira tidak memberikan kesempatan sedikit pun untuk Kesya mencari celah tersembunyi guna menerobos ruang kelemahan yang telah ia kunci.