
"Saya mau tahu apa maksud dari surat edaran ini!" Di ruang Kepala Sekolah, Tama terdengar tidak terima dengan hukuman 'Skors Dua Minggu' yang diberikan pada putrinya. Tama marah, dan pria tersebut telah menatap tajam dua lelaki yang ada di hadapannya.
"Putri Bapak telah melakukan kesalahan," tutur Bapak Kepala Sekolah dengan tenang. "Kesya melakukan perundungan berulang kali terhadap salah satu siswi di sekolah ini," imbuhnya.
"Saya tidak peduli dengan itu semua. Saya hanya ingin Kesya kembali bersekolah dan mendapatkan pelajaran seperti biasa." Tama yang keras kepala, dia bersikeras menentang hukuman yang telah ditetapkan oleh pihak sekolah untuk putrinya.
"Mohon maaf untuk sebelumnya. Izinkan saya untuk menyela pembicaraan di sini." Untuk kali ini suara Naufal yang menyahut. "Bapak Tama, selaku orang tua Kesya. Untuk sebelumnya kami telah mempertimbangkan sebaik mungkin keputusan untuk memberikan skors dua minggu kepada Kesya. Bahkan Bapak harus tahu, jika hukuman yang kami tetapkan untuk Kesya, sama sekali tidak sebanding dengan kesalahan yang Kesya perbuat. Teman kami yang bernama Nadira, adalah salah satu korbannya. Menurut saksi dan keterangan korban sendiri, ternyata Kesya telah melakukan kekerasan fisik secara berulang kali kepada Nadira. Perlu kami tegaskan sekali lagi, sebuah kekerasan fisik telah berulang kali Kesya lakukan kepada Nadira. Selain itu, sebuah cacian atau nistaan juga ikut serta Kesya berikan kepada Nadira." Naufal menjelaskannya panjang lebar, karena dia ingin seorang Direktur Utama di hadapannya dapat menerima dengan lapang dada hukuman yang diberikan untuk Kesya.
"Saya tidak memedulikan apa pun yang Kesya perbuat di sekolahan ini. Saya hanya ingin putri saya kembali bersekolah, hanya itu!" Tama tetap tidak terima, pria itu tetap menyuarakan pendapatnya dengan memaksa.
"Saya mohon untuk kerjasamanya, Pak. Jika kami tidak memberikan tindakan tegas, atas perbuatan yang sudah jelas-jelas salah, maka citra sekolah ini akan buruk, Pak." Naufal tahu jika membujuk Tama tidak mudah. Naufal tahu jika Direktur Utama di hadapannya begitu menyayangi putrinya.
"Saya hanya ingin Kesya bersekolah seperti biasa. Saya tidak akan pernah terima hukuman apa pun untuk anak saya." Tama benar-benar keras kepala. Bahkan Naufal menjadi geram saat mendengarkan penolakan Tama yang sungguh menyimpang dari peraturan sekolah. "Saya mau kalian cabut hukuman untuk Kesya, sekarang," imbuhnya.
"Tidak bisa, Pak. Kita harus adil dengan siswa-siswi lainnya. Memberikan hukuman untuk Kesya, maka kami juga akan memberikan hukuman kepada siswa dan siswi yang lain jika melakukan kesalahan," ucap Bapak Kepala Sekolah dengan tegas.
"Sekali lagi saya minta pada Bapak, cabut hukuman Kesya sekarang juga." Tama mengulang kembali permintaan yang sama. Dia tidak akan pernah rela putrinya di skors dan ketinggalan materi pelajaran.
"Bapak bisa dengarkan penjelasan saya sekali lagi?" Naufal kembali meminta perhatian Tama agar mendengarkan ucapannya. "Saya sebenarnya kehabisan cara untuk menjelaskan kepada Bapak betapa buruknya perilaku Kesya di sekolah ini." Pedas sekali ucapan Naufal kali ini. Sehingga Tama yang mendengarnya sontak membelalakkan matanya.
"Kamu mencela putri saya?" Tama memiringkan kepalanya, menatap Naufal yang tingginya sepuluh senti di bawahnya.
"Awalnya saya tidak ingin melakukan hal tersebut. Namun, saat mendengar Bapak membela habis-habisan putri Bapak, tanpa melihat sedikit pun kesalahannya, dan penderitaan korban yang dirundung olehnya, saya menjadi muak mendengarnya, Pak." Naufal mengatakan kejujurannya, tanpa mengkhawatirkan suatu hal buruk yang mungkin menimpanya tidak lama lagi.
"Lancang sekali kamu berbicara seperti itu sama saya." Tatapan nyalang Tama sama sekali tak dihiraukan oleh Naufal. Sang Ketua Osis tersebut justru membalas tatapan Tama seolah tidak ada ketakutan sedikit pun dalam dirinya.
"Bapak Tama Yogi Renaldi. Seorang Direktur Utama PT. Omica Tekstil. Siapa yang tidak mengenal Bapak? Siapa yang tidak menghormati Bapak? Karisma mengagumkan yang Bapak miliki dapat mengharumkan citra Bapak, bukan?" Nyali Naufal benar-benar besar, bahkan Bapak Kepala Sekolah menjadi diam terkatup memperhatikan Ketua Osis di hadapannya bertindak untuk mengatasi sifat keras kepala Tama. "Tapi, apa Bapak yakin hal tersebut akan terus Bapak dapatkan, jika perangai buruk putri Bapak diketahui banyak orang?" Apakah setelah ini sifat kepala batu Tama akan hilang?
"Kesya adalah putri saya satu-satunya. Saya telah kehilangan istri saya, dan hanya Kesya yang saya punya di dunia ini sekarang." Kenyataannya Tama tidak menghilangkan sifat keras kepalanya. "Saya ingin yang terbaik untuk Kesya. Saya ingin putri saya bahagia, tanpa penderitaan sedikit pun. Saya ingin sisa kehidupan yang saya miliki, saya gunakan untuk memberikan segalanya kepada Kesya." Terlalu egois! Naufal benar-benar tidak habis pikir dengan cara Tama mendidik putrinya.