Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 84



Mobil Tina berhenti persis di depan minimarket tempat persinggahan Nadira dan Naufal. Gadis itu lekas menurunkan kaca mobilnya, kemudian. "Nadira!" Memanggil sahabatnya itu dengan suara yang kencang.


Tak hanya Nadira yang otomatis menoleh ke arah sumber suara, melainkan juga Naufal yang turut merasa terpanggil dengan teriakan Tina tadi.


Tina disusul oleh Farhan, segera turun dari mobil itu dan menghampiri keberadaan Nadira dan Naufal. "Hai, ayolah pulang bersama kami. Bukankah kita akan belajar bersama di rumahmu sore ini?" Tina mengingatkan Nadira yang hampir saja lupa dengan rencana mereka.


Sekilas Nadira menganggukkan kepalanya, lalu beralih menatap Naufal yang masih duduk di hadapannya. "Apakah tidak masalah jika dirimu mengantarku sampai sini saja? Aku akan pulang bersama Tina dan Farhan, karena tujuan kami sama."


Naufal lantas mengiakannya. Ia sama sekali tidak masalah selagi Nadira terjamin aman sampai di kediamannya. "Berhati-hatilah kalian di jalan, sampai jumpa besok!" Sejurus dengan itu Naufal lantas melajukan sepeda motornya kembali membelah jalanan.


"Kalian terjebak hujan?" tanya Farhan dengan sorot mata yang tampak tajam. "Bahkan hujan sudah reda sejak tadi, mengapa kalian tak segera beranjak pergi dari sini?"


Nadira tak mengerti harus menjawab pertanyaan Farhan dengan seperti apa. Ia hanya menikmati aroma khas yang hanya ada setelah hujan turun, juga menikmati kebersamaannya dengan Naufal yang cukup lama itu. "Ada yang kami diskusikan." Nadira ragu dengan jawaban dusta yang dibuatnya. Pasalnya ia tak benar-benar diskusi pada waktu selama itu. "Dirimu tahu jika aku yang menggagas tentang event pameran itu, jadi dia membutuhkan penjelasan lebih banyak dariku tentang itu."


"Lagi pula untuk apa dirimu bertanya seperti itu, Farhan?" Tina merasakan ada hal aneh dalam pertanyaan Farhan. Untuk apa lelaki itu terlihat kesal tatkala mendapati Naufal dan Nadira menghabiskan waktu bersama? Apa masalahnya?


Farhan lantas membuang muka. Seketika ia merasa enggan untuk kembali mengeluarkan kata-katanya apalagi sampai berujung perdebatan dengan Nadira nanti. "Ya sudah, ayo kita segera berangkat saja," ajak Farhan sepihak, sebab Nadira dan Tina masih diam di tempat.


"Ayolah! Kalian ini menunggu apa? Menunggu hujan lebat turun lagi? Atau menunggu Naufal kembali?"


***


Setibanya Arif di rumah Kesya, lelaki itu mendapatkan sambutan hangat dari Tama. Ia diminta untuk mampir, kemudian dijamu dengan berbagai macam menu masakan yang menggugah selera.


"Seharusnya tidak perlu repot-repot seperti ini, Om." Arif sungkan. Pasalnya ini baru pertama kali ia mendapatkan sambutan sedemikian rupa dari ayah sahabatnya. Sebelumnya, ia hanya sebatas mendapatkan sapaan biasa yang menyisakan canggung tak seberapa. Lantas, jika sudah seperti ini bagaimana? Arif tak hanya kikuk di hadapan Tama, melainkan juga bingung kudu bersikap seperti apa.


Kesya yang masih berdiri di sisi Arif pun merasa tak biasa dengan sikap ayahnya yang begitu manis. Biasanya tak pernah seperti ini. Tama tak pernah menganggap berarti teman-teman putrinya yang bertandang dan bertamu di kediamannya.


"Saya sama sekali tidak repot, Arif. Yang menyiapkan semua ini adalah para maid, dan saya hanya perlu memerintah mereka saja." Memang benar apa yang dikatakan oleh Tama. Ia adalah majikan, ia berhak memerintah para pembantunya untuk menyiapkan apa saja yang ia inginkan.


Namun, jelas yang Arif maksud bukan itu. "Betul sih, Om, tapi yang saya maksud itu-"


"Sudahlah, Arif," potong Tama dengan cepat, sembari merangkul bahu sang kapten tim basket itu. "Kamu menyukai putri Om, kan? Maka ini balasannya. Kami akan mengistimewakan kamu." Tama menatap ke arah putrinya sejenak. Kemudian ia memberikan senyumnya yang berbeda kepada anak gadisnya itu sebelum berimbuh, "segera bersihkan tubuhmu, Sayang. Papa dan calon mantu Papa ini akan menunggumu di sini sembari menghabiskan seluruh hidangan," titahnya.