
Di akhir pekan, SMA Cakra Buana tampak dipadati oleh kurang lebih seperempat siswa aktif sekolah itu untuk mengikuti seleksi tim promosi. Di antara kerumunan yang tak tentu arah sebab panitia urung hadir memberikan kejelasan kepada para kandidat, Farhan dan Tina menjadi yang paling santai sebab jaminan absensi yang telah Nadira berikan kepada mereka berdua. Namun, keduanya tak dapat menampik perasaan gelisah yang semakin tidak karuan, sebab hari itu akan menjadi pengalaman pertama mereka mengikuti babak penyisihan.
"Maaf aku terlambat. Apakah kalian sudah menunggu lama?" Nadira datang dengan tergopoh-gopoh menyusul kedua sahabatnya tersebut. "Bagaimana? Apakah Kesya telah hadir dan meminta kalian mengisi daftar hadir?"
"Bukan hanya kita berdua yang menunggu lama, Ra. Lihatlah mereka semua." Pandangan Tina beredar pada lalu-lalang para siswa yang menanti teman-teman organisasi Nadira untuk menampung mereka dengan segera. "Kami menunggu panitia sejak setengah jam yang lalu, dan barulah dirimu seorang yang hadir di sini. Jadi, apakah ada solusi untuk kami?"
Nadira pun seketika mengedarkan pandangannya untuk mencari-cari anggota osis lainnya, terutama yang bertugas menyiapkan daftar hadir. Sesuai kesepakatan kemarin, panitia absensi wajib datang satu jam sebelum pembukaan acara. Namun, saat ini justru hal itu menjadi kendala. Kesya, yang diamanati tugas tersebut malah belum menampakkan batang hidungnya, kendati acara akan dibuka sekitar setengah jam lagi.
"Tidak hanya Kesya yang belum hadir. Naufal, Arif, dan Wildan pun sepertinya belum ada di sini." Nadira tidak bisa untuk tidak panik. Meski tugasnya hari ini hanya sekadar mengawasi alur kegiatan itu, tetapi melihat teman-teman organisasinya yang terlalu banyak mengulur waktu, ia tidak betah untuk berdiam diri. "Aku akan atasi ini. Bisakah kalian membantuku untuk menyiapkan mereka agar berkenan antre?" pinta gadis itu kepada kedua temannya.
Farhan lekas mengangguk patuh. "Aku dan Tina akan meminta mereka untuk antre. Dirimu segera lakukan apa yang hendak dirimu lakukan."
"Baik. Aku akan siapkan absensi di depan sana, tolong kalian pastikan semua kandidat tertib." Nadira segera melesat menuju ruang osis untuk mengambil print out absensi yang telah ia siapkan kemarin. Kemudian setelahnya ia mengambil satu meja untuk para kandidat nanti mengisi daftar hadir.
"Baik! Siap!" jawab para kandidat dengan lantang. Mereka semua patuh membentuk barisan berderet-deret ke belakang dengan rapi.
"Bagaimana selanjutnya?" tanya Farhan tertuju kepada Nadira setelah berhasil menertibkan para kandidat.
"Tolong sampaikan kepada mereka untuk menyiapkan kartu peserta sebelum masing-masing maju untuk mengisi daftar hadir," terang Nadira.
Sejenak Farhan mengangguk kepalanya. "Sekali lagi mohon perhatiannya, Rekan-rekan. Sebelum mengisi absensi, dimohon untuk menyiapkan kartu peserta terlebih dahulu. Lalu, setelahnya barisan paling depan dapat segera maju ke meja panitia untuk menandatangani daftar hadir sembari menunjukkan kartu peserta kepada panitia."
Lagi-lagi para kandidat patuh terhadap perintah. Mereka semua seketika tampak sibuk merogoh tas, saku celana, ataupun saku kemeja untuk mencari benda kecil berbentuk persegi nan pipih itu.