Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 18



"Kakak sedang memikirkan apa?" Fauzan dengan noda es krim di sekeliling bibirnya hingga ke pipinya, mengetahui jika kakaknya sedang memikirkan sesuatu. 


"Tidak ada, Sayang. Habiskan saja es krim-nya," ucap Naufal menggelengkan kepalanya. 


Hening menguar menggiring kecanggungan di tengah kebersamaan Naufal, Nadira, dan Fauzan. Namun kabar baiknya, kecanggungan tersebut tidak sepenuhnya membuat Nadira kikuk di hadapan Naufal. Ada Fauzan yang sangat menyenangkan ia ajak bicara, hingga Nadira hampir tidak menganggap ada kehadiran Naufal di sekitarnya. 


"Nadira, ada yang ingin saya bicarakan," ucap Naufal yang sontak mendapat perhatian dari Nadira. 


"Tentang apa?" Tidak ada salahnya Nadira bertanya seperti itu. Karena kenyataan tidak ada kedekatan khusus antara dirinya dan Naufal. Sebab baru kali ini ada sebuah kesempatan untuknya berbicara banyak dengan Naufal. 


"Saya mau minta maaf." Penuturan Naufal mengundang tanda tanya besar dalam benak Nadira. "Karena saya lalai selama ini. Saya membiarkan kamu dirundung Kesya berulang kali, seharusnya saya memperhatikannya sejak dulu, dan tidak membiarkannya berlarut-larut seperti ini." Naufal langsung membabat habis kebingungan Nadira dengan penjelasannya. 


"Tidak masalah, Naufal. Lagi pula semuanya sudah membaik sekarang." Nadira terenyuh tatkala menemukan sisi kepedulian Naufal yang ditujukan padanya. Sangat manis bukan? Bayangkan saja jika Nadira adalah kekasih Sang Ketua Osis, maka perhatian sederhana itu sudah jelas membuat Nadira bagai tenggelam dalam buaian hingga hampir lupa diri. 


"Kesya dulu tidak seperti itu, aku tahu karena aku bersamanya sejak di bangku sekolah menengah pertama." Naufal terlihat hendak bercerita, dan Nadira langsung memasang sikap seolah memang ingin mengetahui dan mendengarnya. "Dulu dia memang gadis yang manja, sama seperti sekarang, akan tetapi sifat gemar merundung bukanlah bagian dari kepribadiannya. Kesya yang dahulu adalah gadis pendiam dan pemalu, dan aku mengenalnya karena dulu kami satu kelas," imbuhnya. 


"Mungkin ada alasan yang membuatnya seperti itu sekarang." Nadira memberikan sebuah kesimpulan yang logis untuk dicerna otak siapa pun. "Atau bisa saja dahulu Kesya adalah korban perundungan sepertiku. Lalu apa yang dia lakukan sekarang adalah sebuah bentuk pelampiasan," imbuhnya. 


"Tidak mudah untuk seorang korban perundungan melakukan balas dendam pada pelakunya. Karena ada satu hal yang telah dikuasai oleh pelaku tersebut, yaitu kelemahan sang korban. Jika sudah seperti itu tidak akan ada banyak cara yang bisa korban dapatkan untuk melawan pelakunya, karena korban akan selalu berakhir ketakutan saat berhadapan dengan pelakunya." Nadira berharap penjelasannya dapat dipahami dengan baik oleh Naufal. "Akan tetapi di kemudian hari, korban bisa saja melakukan perundungan sebab dia sudah mempelajari cara membuat takut targetnya, dan dia juga paham betul ketakutan dan kelemahan seperti apa yang mampu untuk dirinya kuasai," imbuhnya. 


"Jadi?" Naufal memiringkan kepalanya menginginkan Nadira menjelaskan lebih. 


"Apa yang Kesya lakukan, merundung, menyakiti fisik, dan sebagainya, itu bisa saja murni sebuah bentuk pelampiasan. Dia dapat melakukannya karena dia tahu dari pelaku yang merundungnya dulu, dan dia dapat menguasai ketakutan dan kelemahan target, karena dia pernah memilikinya dulu." Nadira menjelaskannya dengan baik, hingga Naufal menjadi kagum saat mendengarnya. 


"Apa kamu akan menjadi pelaku perundungan setelah ini?" Nadira tidak terkejut dengan pertanyaan tersebut, karena penjelasannya memang mengarah pada pertanyaan itu. 


"Tidak semua korban berniat melakukan hal tersebut. Sebagian ada yang memilih untuk tidak melakukannya. Dan aku memilih untuk tidak melakukannya karena aku berpikir bahwa 'Rasanya dirundung itu seperti ini, menyakitkan dan memalukan. Maka biarkan saja aku yang merasakannya, jangan ada yang merasakannya lagi' aku tahu betul bagaimana menderitanya menjadi korban perundungan, jadi aku tidak ingin banyak orang lagi yang menderita," jawab Nadira. 


'Takjub' Naufal berbicara dengan gadis berpikiran luas dan berhati sangat baik. Naufal tidak menyangka jika salah satu jajaran organisasinya, seorang gadis pendiam di sudut ruangan, kini sedang mengutarakan pemikirannya. Nadira dapat membaca sudut pandang dari berbagai arah. Tidak terlihat otoriter dengan menjunjung tinggi dan membanggakan pendapatnya saja. 


"Menurutmu apa yang diperlukan pelaku perundungan agar dia menyudahi tindakannya?" Naufal mulai tertarik dengan topik pembicaraannya kali ini.


"Seorang pelaku perundungan dia dapat hidup secara individual atau bisa saja memiliki suatu kelompok di mana sifat mereka hampir dominan serupa. Kita perlu berbicara, menunjukkan kepedulian kita, bukan bentuk formalitas, melainkan kesungguhan. Kita tunjukkan kepada si pelaku, bahwa kita bisa mendapatkan kesenangan yang lain selain melakukan hal yang tidak baik seperti kebiasaan yang dia lakukan. Kita juga harus menjelaskan, bahwa tidak akan ada keuntungan yang diperoleh dari melakukan sebuah perundungan, selain kerugian yang akan ditimbulkannya." Nadira berusaha mengeluarkan apa yang ada di pikirannya. "Akan tetapi tetap saja hal tersebut tidak mudah untuk dilakukan. Karena rata-rata pelaku perundungan itu keras kepala dan egois. Maka dari itu pendidikan moral dan agama jelas harus ditanamkan pada pelaku tersebut," imbuhnya.