Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 126



"Kakak mau ke mana?" tanya Fauzan ketika mendapati kakaknya itu tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya. "Apakah Kakak merasa sangat kesal kepadaku saat ini?"


Sesaat senyum manis Naufal sungging kan di hadapan adik kecilnya. Sesungguhnya ia merasa kesal setengah mati dengan banyaknya perkataan Fauzan yang selalu memojokkannya, menyalahkannya, dan membuatnya malu terlampau sangat. Namun, jelas dirinya tak ingin dan tak akan pernah sanggup untuk menyakiti Fauzan, atau bahkan sampai menginginkan anak itu mendapatkan balasan yang imbas. Cukup hukuman tadi menjadi yang terakhir dan yang paling keterlaluan. Naufal tidak ingin mengulangi hal itu lagi.


"Apa yang tadi dirimu inginkan dari Kakak?" tanya pemuda itu.


"Meminta maaf kepada Kak Farhan dan Kak Tina."


"Hemm, Kakak akan mengusahakan itu. Akan tetapi, Kakak mohon kepadamu untuk sedikit bersabar. Jangan terlalu banyak menuntut atau ini akan sangat menyulitkan bagi Kakak," pinta Naufal dengan sungguh kepada adiknya.


Tanpa tapi, ataupun pertentangan lagi, Fauzan menganggukkan kepala, menyetujuinya. "Terima kasih, Kak."


Sepanjang perjalanannya menuju rumah Nadira, Naufal terus bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Untuk apa usahanya saat ini? Mengapa ia begitu ingin melakukannya, sedangkan jelas-jelas gadis yang hendak ditemuinya bukanlah sosok yang amat penting? Jaminan apa yang akan dirinya dapatkan apabila berhasil memperbaiki hubungannya dengan sang sekretaris? Apakah itu akan membuatnya bahagia?


"Permisi," panggil Naufal sembari mengetuk daun pintu rumah Nadira.


Seakan tidak ingin menyulitkan iktikad baik Naufal, ketukan pintu tersebut lekas disambut oleh kehadiran Yuliana yang membuka pintu kediamannya sembari tersenyum hangat kepada pemuda di hadapannya.


"Ingin bertemu Nadira, ya?"


"Iya, Tante. Apakah saya diizinkan bertemu dengan Nadira? Ada yang perlu kami bicarakan berdua," jawab Naufal.


"Terima kasih, Tante." Naufal lekas mengiakannya dengan mengambil duduk di sofa ruang tamu. Pandangannya secara otomatis beredar dan seketika teringat setiap adegan perdebatannya dengan Farhan, Tina, dan juga Nadira. Kemudian, setelahnya ia merasai nyeri menyergap batinnya erat-erat. Menyiksanya, dan membuatnya menangis tanpa suara. Sungguh itu bukanlah reaksi yang sempat Naufal perkirakan.


"Naufal."


Hingga suara itu berhasil meraih perhatian Naufal sepenuhnya. Lelaki mendongakkan kepalanya yang semula menunduk, mempersilakan air matanya luruh menciptakan titik-titik di atas ubin. 


"Maaf mengganggu. Aku datang untuk-"


"Minum dulu," sela Nadira sembari memberikan secangkir coklat hangat ke hadapan sang ketua osis. "Dirimu datang dalam keadaan yang tidak baik. Apa yang membuatmu menangis, hem?"


Naufal tidak tahu mengapa dirinya bisa merasa sangat kacau saat ini. Ia tidak mampu menahan dirinya untuk tidak menunjukkan secara terang-terangan bahwa dirinya merasa lemah. Berulang kali benaknya menegaskan jika Nadira serta orang-orang yang berkaitan dengan gadis itu bukanlah sesuatu yang perlu ia beri tanggapan berarti. Namun, nalurinya menyerakkan risau yang kian menyengsarakan. Naufal mungkin tidak apa-apa apabila mengabaikan kesalahannya terhadap Farhan dan Tina, tetapi jika hal tersebut membuat hubungannya dengan Nadira menjadi renggang, Naufal serta hati kecilnya telah mengaku tidak akan sanggup. 


"Terima kasih." Naufal lekas menerimanya, lalu menyeruputnya dengan kenikmatan. "Ini enak. Dirimu yang membuatnya?"


Nadira menganggukkan kepalanya. "Iya. Khusus untukmu yang menjadi tamuku hari ini." 


Tak dapat dipungkiri bahwa keduanya saling merasa canggung. Kalimat-kalimat yang telah mereka persiapkan sebelumnya, seketika berat diucap karena lidah yang terasa kelu, dan meminta untuk membisu. Akan tetapi, mereka berdua sadar betul bahwa mereka perlu bicara untuk menyelesaikan kerumitan itu.