Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 137



“Mengapa seperti itu?”


“Dirimu seharusnya tahu jika Farhan dan diriku, kami berdua memiliki masalah dengan ketua osis,” jawab Tina.


“Maksudmu lelaki yang mendatangi rumah Farhan kemarin?” Adiyasta mencoba menerka. Ia sama sekali tidak mengira jika Farhan dan Tina memiliki masalah pelik dengan lelaki yang sempat ditemuinya sore kemarin.


Tina menganggukkan kepalanya. “Dia dapat mendiskualifikasi aku dan Farhan jika dia mau. Jadi, untuk apa aku berharap berhasil lolos pada seleksi ini, jika kemungkinan gugurnya saja sudah senyata itu.” Gadis itu tidak berniat berprasangka buruk. Ia hanya berpikir logis mengenai apa yang bisa terjadi. “Aku dan Farhan memilih untuk tetap mengikuti seleksi ini karena Nadira yang kadung menaruh harapan besar kepada kami. Meski telah diwanti-wanti, dia tetap bersikeras menginginkan aku dan Farhan agar mencobanya.”


***


“Bisakah dirimu memasukkan nomor telepon rumah ataupun nomor ponselmu ke sini?” tanya Wildan seraya menyodorkan gawai barunya kepada Nadira.


Sesaat Nadira memandang benda berbentuk persegi panjang nan bervolume tersebut, sebelum menyadari jika. “Ini ponsel baru? Apakah ini juga menjadi kali pertama untukmu memilikinya?”


“Sayangnya aku belum diizinkan menggunakan ponsel, Wildan. Apakah tidak masalah jika aku simpan nomor rumahku saja?” tanya Nadira.


“Itu sama sekali bukan masalah, Nadira,” sangkal Wildan dengan cepat. “Selagi kita dapat terhubung untuk saling memberi kabar, aku rasa itu tidak apa-apa,” imbuhnya.


Tak menunggu lama, Nadira lekas menerima gawai Wildan untuk menyimpan nomor rumahnya di sana. Namun, gadis itu justru dibuat tertegun oleh adanya satu kontak yang telah tertera lebih dulu di sana. ‘Peri Hyrana’ Nadira melihat nama dari kontak tersebut.


“Dia adikku, namanya Hyrana, Salliana Hyrana. Seharusnya, kedua orang tuaku tidak memberikannya nama sesulit itu, hingga berimbas juga pada hidupnya yang terasa sulit saat ini.” Seakan memahami diamnya Nadira, Wildan lantas buka suara untuk memberikan penjelasan. “Dia kehilangan kaki kirinya hingga harus mengenakan tongkat ke mana-mana. Usianya delapan tahun, tetapi ia tumbuh lebih dewasa karena keadaan yang membentuknya tanpa sadar. Gawai itu adalah ide sekaligus desakannya sebab kerap mengkhawatirkan aku jika tak kunjung sampai rumah,” imbuhnya mengenalkan.


Nadira iba mendengarnya. Ia tahu pasti tak mudah bagi Wildan menyaksikan adiknya yang tumbuh tak seperti anak-anak normal kebanyakan. Ia tahu pasti banyak paksaan dalam diri lelaki itu untuk senantiasa tampil tegar, demi menumbuhkan suasana yang baik-baik saja.


“Ayah dan ibuku tidak mengerti sekaligus tidak merasakan bagaimana membersamai putri kecil mereka yang seringkali merasa rendah diri. Aku tidak pernah bermaksud menyalahkan mereka, sepasang manusia yang acap kali dipandang malaikat tak bersayap. Namun, mau bagaimanapun juga aku adalah manusia biasa, aku sering merasa lelah dengan sajian kehidupan yang katanya adalah takdir dari Tuhan.” Wildan menunjukkan sisi kacaunya yang selama ini ia sembunyikan. Entah mengapa, nuraninya berkata jika menceritakan kepayahannya kepada Nadira akan membuatnya merasa lebih tenang. “Aku dan Hyrana menjadi yatim piatu setelah tragedi kecelakaan yang menimpa kedua orang tuaku dua tahun silam. Duka itu, masih terasa baru bagi kami, masih terkesan seperti baru saja terjadi kemarin.” Setelah mengatakan itu Wildan beralih menatap Nadira lekat-lekat. Sepasang netranya seolah berterima kasih atas kesediaan Nadira untuk mendengarkan ceritanya.