Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 42



"Maksudku bukan seperti itu." Naufal menghela napasnya, lalu mengembuskannya dengan kasar. "Sudahlah, tidak penting juga." Biarkan jadi privasi Nadira, Naufal tak perlu mengusiknya, dia tak berhak, dan itu tak pantas. 


Kedatangan ibu kantin secara langsung menjeda perbincangan Nadira dan Naufal. Dua piring nasi campur akan menjadi menu makan siang mereka berdua. "Silakan dinikmati," ucap ibu kantin sebelum benar-benar pergi meninggalkan meja Naufal dan Nadira. 


"Bagaimana kabar Fauzan?" Setelah memastikan makanan dalam mulutnya sudah tertelan, Nadira teringat akan Fauzan, adik dari Sang Ketua Osis, yang tempo hari sempat bertemu dan berbincang banyak dengannya. 


"Kabarnya baik." Naufal senang, karena Nadira mengingat adiknya. "Hanya saja, sekarang dia berbeda. Setelah bertemu denganmu tempo hari, dia sekarang menjadi cerewet sekali, dia ingin berjumpa denganmu lagi, Nadira. Tapi aku tidak bisa menurutinya."


"Kenapa?" Nadira tidak keberatan jika harus bertemu Fauzan lagi, dan menghabiskan waktu bersama bocah kecil itu lagi. "Aku tidak keberatan, Naufal. Jika dia meminta lagi, hubungi aku, ya." Lantas Nadira merobek secarik kertas dari buku tulisnya. Nadira menuliskan nomor telepon rumahnya, dia ingin Naufal bisa menghubunginya sewaktu-waktu. "Hubungi aku, ini nomor telepon rumahku," imbuhnya seraya menyodorkan secarik kertas tersebut pada Naufal. 


"Terima kasih." Naufal menerima secarik kertas itu, lalu memasukkannya ke dalam saku kemeja putihnya. "Maaf jika akan merepotkanmu, nanti."


"Tidak masalah." Nadira tersenyum, pipinya sedikit menggembung, dan netra indahnya tampak menyipit. "Menghabiskan waktu bersama Fauzan, pasti akan sangat menyenangkan."


Naufal dan Nadira bergegas menyudahi obrolan itu. Kembali pada nasi campur di atas piring masing-masing. Setelah kegiatan makan siang itu, akan ada kegiatan lain. Semuanya harus dijalankan dengan baik, dengan cepat, dan tepat. Ini bukan tuntutan, melainkan sebuah kewajiban. Organisasi mereka memang melelahkan, tapi juga menyenangkan. 


Di ruang osis hanya ada Naufal dan Nadira. Wildan yang digadang-gadang akan datang, sekarang entah ada di mana. Berduaan seperti ini rasanya tidak nyaman, Nadira tidak suka, dia berharap Wildan segera bergabung, maka suasana canggung tidak akan lagi mengganggu.


"Permisi, maaf telah membuat kalian menunggu." Syukurlah, ekor mata Nadira telah menangkap siluet tubuh Wildan di depan pintu ruang osis. 


"Silakan masuk, Wildan." Naufal mengajak Wildan untuk ikut serta. Lantas bendahara osis itu mengangguk mengiakan, kemudian melangkahkan kakinya menuju meja rapat, dan lekas duduk di kursinya.


"Aku harus mengkaji ulang program kerja kita. Aku juga mencatat ulang anggaran yang kita perlukan, sebab ada beberapa kebutuhan yang aku tambahkan." Wildan menunjukkan catatannya pada Naufal, kemudian menunjukkan beberapa keperluan yang mungkin luput dari rancangan Naufal sebelumnya. 


"Tidak masalah, kita memang perlu saling menambahkan seperti ini. Untuk meminimalkan sebuah kesalahan." Naufal menepuk pundak Wildan, dia tidak menyangka jika bendaharanya akan secerdas itu. Andai saja Naufal mengenal Wildan sejak lama. 


"Kamu bisa membuat proposalnya sekarang, Nadira. Buatlah latar belakang yang berbobot, serta maksud dan tujuan yang mudah dipahami." Naufal ingin proposalnya kali ini tidak tertimpa revisi.


Nadira, Naufal, dan Wildan, mereka bertiga sudah mulai bekerja sekarang. Sesekali mereka juga berdiskusi demi menghasilkan proposal yang baik. Walaupun telah diwadahi oleh satu organisasi sejak satu tahun yang lalu, kenyataannya Nadira, Naufal, dan Wildan tetap terlihat saling canggung. Baru kali ini, pada tahun ini, mereka mendapatkan jabatan sebagai pengurus inti, yang secara langsung membuat mereka bertiga menjadi dekat, sebab komunikasi penting sekali untuk ada di antara mereka.