Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 9



Kesya, Mora, dan Yustin terkejut dengan ucapan enteng dari Nadira. Mendengar kata 'mental terganggu' lalu 'psikiater' Kesya mengira jika Nadira sedang menghinanya sebagai orang gila, dengan ucapan yang halus. Melihat tidak ada tubuh bergetar ataupun netra yang berkaca-kaca, Kesya merasa kehilangan sisi kelemahan Nadira, dan dia tidak menginginkan hal itu. 


"Nadira! Kamu menghinaku sebagai orang gila? Apakah kamu berniat membalas dendam padaku?" Kesya memberi tatapan nyalang nan menusuk, dengan harapan benteng pertahanan Nadira mampu ia runtuhkan. 


"Tidak, Kesya. Sungguh niatku bukan itu," sanggah Nadira. "Jujur saja aku merasa jijik untuk memegang kotoran dan melemparkannya padamu, dan perlu untuk digaris bawahi bahwa aku tidak sepertimu yang senantiasa melakukan hal keji seperti itu dengan berulang kali," imbuhnya. 


Tutur kata Nadira sejak awal terdengar sangat santai, tanpa adanya bentakan, dan volume suaranya senantiasa stabil serta menenangkan. Namun sebenarnya, isi dari ucapannya berhasil menohok gundukan hati Kesya yang penuh hal tercela. Nadira melakukan semuanya dengan baik, akan tetapi belum berhasil menjadi air yang sanggup memadamkan api jelmaan Iblis Apollyon. 


"Dasar gadis kampungan!" Kesya telah memasang kembali ancang-ancang, hanya saja kali ini berniat untuk menjambak rambut Nadira yang terurai. "Akh" yang terdengar bukanlah rintihan Nadira, melainkan rintihan Kesya. Semua itu terjadi sebab Nadira melakukan atraksi yang cukup handal dalam mengelak dan kembali mencengkeram tangan Kesya.


"Kenapa selalu begini? Kamu pikir rasanya tidak sakit berulang kali kamu tarik?" Nadira hafal betul kebiasaan Kesya dalam menyiksanya, dan kali ini gadis itu berkata seolah mencurahkan perasaannya. 


"Dasar gadis penuh drama! Kamu itu menjijikkan dan akan selalu menjijikkan! Baik sebelum perubahan ini ataupun setelahnya, kamu akan tetap menjijikkan!" Kesya yang benar-benar geram hanya mampu berteriak berulang kali untuk melampiaskan amarahnya, dan justru hal itu menarik perhatian beberapa siswa-siswi yang berada di kantin atau yang sedang berlalu lalang di sekitarnya. 


...----------------...


Sedangkan di tempat lain, di ruang Osis yang hanya ada Naufal dan Arif yang merupakan Wakil Ketua Osis, sedang membahas rancangan program kerja. Tiba-tiba saja pintu ruang Osis terbuka lebar tanpa didahului sebuah ketukan yang telah menjadi peraturannya. Naufal hendak marah, akan tetapi seseorang yang masuk ke dalam tanpa permisi tampak terengah-engah dan kelelahan. 


"Kesya-Kesya di kantin," ucap seorang siswa, seraya memegangi lututnya. 


"Apa hubungannya sama saya kalau Kesya di kantin?" Naufal mengernyitkan dahinya sebab tidak paham. "Lebih baik kamu tinggalkan ruangan ini, saya sedang rapat, dan tidak mau diganggu," imbuhnya. 


"Naufal, apakah tidak lebih baik jika kita dengarkan dulu maksudnya," ujar Arif. "Tidak mungkin dia datang kemari tanpa adanya tujuan, atau sesuatu yang akan dia sampaikan," sambungnya. 


"Sebenarnya apa maksud kamu? Cepat katakan, saya tidak punya banyak waktu," Naufal benar-benar kesal karena kegiatannya terganggu. Sang Ketua Osis tersebut telah kehilangan ide-ide yang berkelana di benaknya, hanya karena kedatangan siswa tersebut secara tiba-tiba di ruangannya. 


"Kesya membuat kerusuhan di kantin. Dia marah-marah tidak jelas, dan mencaci maki Nadira," ucap siswa tersebut. 


Sebenarnya hal yang dikatakan siswa tersebut sudah terdengar lumrah bagi seluruh jajaran anggota Osis SMA Cakra Buana. Hanya saja belum pernah ada salah satu siswa-siswi yang melaporkannya pada Naufal saat kejadian tersebut masih berlangsung. Naufal hanya sesekali mendengar perundungan yang dilakukan Kesya melalui percakapan siswa-siswi saat di lorong. Naufal tidak ingin membahasnya atau mempermasalahkannya, sebab dirinya tidak pernah menyaksikan dengan sendirinya.


"Apa kamu tidak berbohong? Untuk apa Kesya lakukan itu." Arif berharap yang dikatakan siswa tersebut tidaklah benar. 


"Argh, seharusnya kamu tahu perilaku buruk Kesya sejak dulu. Merundung Nadira adalah kegemarannya sejak dulu," ucap siswa tersebut membenarkan. 


"Kamu tidak berusaha untuk memfitnahnya, kan?" Arif memberi tatapan menyelidik, karena tidak ingin apa yang diucapkan siswa tersebut menjadi kebenarannya. 


"Jangan katakan hal buruk seperti itu, ya! Kesya adalah gadis baik-baik, tidak mungkin dia lakukan hal buruk seperti itu!" Arif murka, tidak terima jika gadisnya digambarkan seperti sosok yang buruk. 


"Kita buktikan saja, karena berdebat tidak akan memberikan jalan keluar apa pun untuk masalah ini." Naufal menengahi pertengkaran Arif dan siswa itu. 


"Ingat ya, jika Kesya terbukti tidak bersalah, kamu akan aku hukum di lapangan, camkan itu!" Sejenak Arif memberikan peringatan bertabur ancaman untuk siswa tersebut.


Naufal segera menarik lengan Arif agar mengikutinya menuju kantin dan membuktikan kebenarannya, sedangkan siswa tadi setia mengekori langkah Sang Ketua Osis beserta wakilnya. 


Akhirnya kebenarannya terungkap, suasana kantin terlihat padat dengan kerumunan yang tidak diundang. Naufal beserta Arif segera menerobos kerumunan tersebut dan dilihatnya tangan Kesya melayangkan tamparan keras di pipi Nadira. 


"Plak!" Nadira meringis kesakitan, karena sudut bibirnya tampak berdarah. 


"Kesya!" Suara lantang Naufal mengejutkan semua orang yang terlibat dalam aksi perundungan tersebut, baik korban, pelaku, ataupun para saksi matanya. 


"Akhirnya aku bisa melihatnya secara langsung aksi perundungan di sekolah ini." Naufal berjalan mendekati Kesya, sedangkan gadis tersebut tampak gemetaran ketakutan. "Miris sekali, seorang putri dari Direktur Utama ternyata mewarisi watak yang tak selayaknya manusia," imbuhnya. 


"Jangan katakan itu, Naufal! Kamu menyakiti hatinya." Arif menentang ucapan Naufal barusan. Dilihatnya tubuh bergetar Kesya telah bersembunyi di balik tubuhnya. Kesya butuh perlindungan dan pembelaan saat itu, dan Arif memberikannya saat itu juga. 


"Kamu bodoh sekali, Arif! Mencintai gadis seperti itu, apa untungnya untukmu?" Naufal benar-benar tidak habis pikir dengan pilihan Arif yang terus setia mencintai Kesya. 


"Aku lelaki yang memiliki hati, Naufal! Tidak seperti dirimu!" Arif mencari pembenaran atas kenyataan bahwa dirinya masih setia mencintai Kesya walau berada di tengah pertentangan. 


Kesya menangis saat itu, entah air mata sungguhan atau hanya pura-pura. Tangan gadis itu perlahan melingkar di perut Arif, lalu memeluknya dengan erat. Kepalanya menyembul sedikit untuk memperhatikan lelaki di seberang sana yang masih terlihat murka terhadapnya. 


"Aku hanya ingin berteman dengan mereka, Naufal. Namun kenyataannya, Nadira menolak keinginanku dengan kasar, dia memukulku di mana-mana, lalu menghinaku, dan akhirnya aku berniat membalasnya," ucap Kesya berdusta. 


"BOHONG!" Secara bersamaan Farhan dan Tina menyangkal ucapan Kesya. 


"Kamu sangat bodoh, Kesya! Bahkan dalam menipu sekalipun kamu sangat bodoh!" Tina memekik di depan wajah Kesya.


Kesya menangis semakin deras, mengubah kebenarannya menjadi drama yang menyebalkan. "Tina, sungguh maafkan aku, jika kesalahan-kesalahanku yang lalu membuatmu dan kedua temanmu membenciku," ucapnya.