
"Kak Na, ayo kita main lag-" Seketika bibir Fauzan terkatup. Bocah kecil itu tak berani melanjutkan perkataannya ketika dirinya saling beradu pandang dengan lelaki yang berada di hadapannya, lelaki yang kemarin sempat terlibat pertengkaran dengan kakaknya. Fauzan melihat ada Farhan di sana.
Farhan menatap anak lelaki yang berada tak jauh dari posisinya tersebut dengan tajam. Ia tidak menyangka jika kedekatan antara Nadira dan Naufal sudah sedemikian eratnya hingga lagi-lagi ketua osis itu berada di sana. Sejujurnya Farhan ingin mengamuk di tempat. Ia kesal dengan agendanya yang kemungkinan kembali gagal.
"Fauzan, ayo bereskan bekas makanmu dulu." Naufal menyusul. Lelaki yang terlihat payah sebab seragamnya yang berantakan itu pun tak dapat memungkiri bahwa ia terkejut dengan keberadaan Farhan di sana.
"Kita akan belajar di mana? Di ruang tamu atau di kamarku?" Sebab ruang belajar Nadira telah menjadi tempat bagi Fauzan dan Naufal.
Sejenak Farhan menatap Nadira tanpa memberikan jawaban apa-apa. Kemudian ia kembali menatap Fauzan dengan tajam sehingga membuat anak itu beringsut bersembunyi di balik tubuh Nadira sebab ketakutan.
"Kita bisa lakukan kegiatan ini di lain waktu. Untuk saat ini aku akan pulang terlebih dahulu, sebab tidak mungkin aku mengganggu dirimu serta tamumu." Farhan mengatakannya sembari memandang Naufal yang berdiri di seberangnya. Andai saja saat ini dirinya tidak memiliki kendali terhadap emosinya, sudah pasti ia mengumpati Naufal habis-habisan. "Oh ya, Tina. Aku pinjam payungmu lagi, dan akan aku kembalikan di sekolah besok."
"Aku akan ikut bersamamu." Tina lekas menggandeng tangan Farhan, sebagai tanda bahwa kali ini ia mendukung apa pun yang lelaki itu lakukan. "Aku akan mengirim pesan kepada sopirku agar segera menjemput kita."
"Ayo, Farhan. Kita berjalan saja sampai halte di depan perumahan, lalu aku akan menelepon sopirku untuk menjemput kita di sana," ucap Tina meralat. "Aku tidak akan membiarkan pulang sendiri. Kita datang bersama-sama dan akan pergi bersama-sama juga."
Nadira merasa sakit hati dengan ucapan Tina yang meski tak berniat menyinggungnya sama sekali. Kata 'bersama-sama' yang gadis itu ucapkan jelas hanya tertuju kepada dirinya sendiri dan Farhan saja. Hal tersebut memang benar, tetapi Nadira merasa sesak sebab kali ini dirinya tidak dilibatkan dalam kalimat 'bersama-sama' itu.
"Tolong jangan terburu-buru. Di luar masih hujan lebat, dan angin kencang. Ini terlalu bahaya untuk kalian. Jadi, tolong menetap di sini saja paling tidak sampai hujan di luar sana sedikit reda." Nadira berusaha mengulur waktu. Ia akan memikirkan bagaimana caranya kegiatan yang terhambat kemarin sekaligus terencana pada hari ini dapat terlaksana dengan baik. Ia benar-benar tidak ingin mengecewakan kedua temannya.
"Dirimu tidak perlu repot-repot mengkhawatirkan aku dan Tina. Kami bisa pergi dari sini dalam keadaan apa pun, sama seperti tamumu yang dapat berkunjung kapan pun," jawab Farhan ketus. Ia seperti memiliki kesumat hebat terhadap Naufal yang akhir-akhir ini sangat dekat dengan teman karibnya.
"Apa yang Farhan katakan itu benar, Nadira. Kami dapat pergi dari sini sekarang, dan dirimu tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa. Lagi pula, Naufal dan Adiknya lebih dulu berada sini, dan sudah pasti mereka memiliki urusan tertentu denganmu." Tina pun sama kesalnya seperti Farhan, tetapi ia begitu pandai menyembunyikannya dengan tetap bertutur kata lembut, seolah-olah ia sama sekali tidak bermasalah dengan keberadaan sang ketua osis itu. "Jadi seharusnya dirimu menyelesaikan urusan tersebut terlebih dahulu sebelum membersamai kami."
"Berhenti menahan mereka yang ingin pergi, Nadira." Naufal membuka suara setelah benar-benar muak dengan percakapan yang dirinya dengar barusan. "Apakah dirimu tidak sadar apabila mereka berdua itu hadir untuk mengekangmu? Mereka menciptakan batasan-batasan yang membuatmu kesulitan menerima orang baru untuk menjadi temanmu. Mereka hanya ingin dirimu berteman dan bergaul dengan mereka saja, tidak denganku atau yang lainnya. Jadi, berhentilah bersikap bodoh dengan mempertahankan mereka berada di lingkaranmu setelah yang mereka lakukan hari ini kepadamu, dan juga kepadaku."