
Rapat yang berlangsung kurang lebih satu setengah jam itu diakhiri dengan penutupan dari Naufal. Kini para anggota satu-persatu meninggalkan tempat, dan menyisakan Naufal, Nadira, Arif, beserta Kesya yang memilih untuk menetap di ruangan.
"Kesya, apa maksudmu menyela pembicaraan Nadira? Apa yang membuatmu melakukan itu sedangkan jelas-jelas yang Nadira dan juga aku lakukan bukanlah hal yang keliru?" Naufal menyampaikan rasa tidak senangnya atas apa yang telah Kesya lakukan kala rapat berlangsung barusan.
Kesya merasa terganggu dengan perkataan Naufal di saat ia sedang berusaha menahan sakit kepalanya. Gadis itu terpaksa mengangkat kepala dan menatap Naufal dengan memicingkan sepasang matanya. "Apa katamu? Bukanlah hal yang keliru? Jika memang itu tidak keliru, untuk apa sektretarismu yang mulia itu memohon maaf di hadapan kami semua? Lagi pula, coba pertimbangkan tentang pentingnya solidaritas yang awalnya kamu semburkan di depan kami para anggota saat awal-awal kamu memegang jabatan! Apakah tindakan yang baru saja kalian berdua lakukan itu adalah bentuk solidaritas?" Kesya terkekeh-kekeh melihat Naufal tak lekas menjawab selepas ia memberi jeda pada ucapannya. "Kamu, bersama sekretaris yang maha pintar itu, secara tidak langsung telah menganggap kami tidak kompeten dan tidak mampu. Kalian berdua telah menciptakan jalan sendiri, tetapi kami semua harus menempuhnya dengan alasan kita bernaung di bawah organisasi yang sama. Menjijikkan sekali, Naufal. Padahal apa beratnya hanya menanyakan pendapat kami tentang pengajuan proposal sponsor? Meski kemungkinan kami semua akan berkata 'ya' dan menyetujuinya, tetapi itu sangat berharga bagi kami karena masih kamu anggap penting. Padahal sesederhana itu saja, Naufal. Namun, kamu meluputkannya padahal kamu adalah seorang ketua."
Arif termangu ketika menyimak pernyataan panjang lebar Kesya yang berhasil membungkam Naufal beserta Nadira. Jelas biasanya bukanlah hal seperti itu yang menjadi pemandangannya, sebab seringkali Kesya kalah berdebat dengan Naufal, ditambah Nadira yang kini pandai sekali bersilat lidah. Namun, semua yang Kesya katakan terdengar benar menurutnya. Meski berniat mempersingkat waktu dengan mengencangkan laju progres program kerja tanpa meminta pertimbangan seluruh jajaran anggota, tetap saja yang Naufal dan Nadira lakukan adalah aksi yang kurang tepat.
"Lebih baik dirimu diam saja, Nadira! Mengandaikan aku berada di posisi kalian, itu sama sekali tidak menjawab topik inti yang sedang kita bicarakan sekarang! Mungkin posisiku di sini tidak sebaik dirimu sebagai pengurus inti, memiliki wewenang serta tugas yang lebih istimewa atau kalian menganggapnya rumit dan berat. Namun, akan menjadi kesalahan besar jika kamu menganggap otakku berkadar jauh dibawahmu!" Kesya menutup perdebatan sore itu dengan meninggalkan ruang osis tanpa pamit. Gadis itu berjalan terhuyung-huyung, dan disusul oleh Arif di belakangnya.
Nadira terbungkam. Gadis itu seketika kehabisan kata-kata dan keberanian melawan ucapan Kesya. Pun agaknya ia tak perlu membalasnya sekarang sebab Kesya pergi dengan cepat dan tak berharap mendapat jawaban dari ucapannya barusan. Nadira terselamatkan dari malu yang mungkin akan ditanggungnya andai harus memaksakan diri untuk membalas Kesya pada detik itu juga. Setidaknya saat ini ia dapat bersyukur sebab Kesya memberikan waktu kepadanya agar memikirkan strategi untuk mengalahkannya di lain waktu.
"Jangan terlalu dipikirkan. Kita sama sekali tidak melakukan kesalahan dengan mengambil langkah sampai sejauh ini." Seakan mengerti beban pikiran Nadira saat ini, Naufal lantas merangkul bahu Nadira serta memberikan usapan lembut di sana.