Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 127



"Aku tahu, daripada kepadamu, seharusnya aku meminta maaf terlebih dahulu kepada kedua sahabatmu. Kesalahanku ada kepada mereka." Naufal tak ingin berbasa-basi terlalu lama lagi. Ia ingin menyelesaikannya semuanya dengan cepat, atau benaknya akan terus karut marut. "Tetapi, Nadira. Melihatmu yang menjaga jarak denganku, memberi batasan yang jelas di antara hubungan sederhana kita, dapatkah jika dua hal itu menjadi alasan untukku meminta maaf kepadamu juga?"


Nadira diam untuk sesaat. Ia berusaha mencerna segala perkataan Naufal yang sedikit banyak berhasil menyentuh hatinya. Ia sama sekali tidak menyangka jika lelaki di hadapannya mampu mengatakan secara gamblang mengenai sesuatu yang menyangkut perasaannya.


"Aku sudah memaafkanmu, Naufal. Aku pun tidak sedang berniat atau bahkan sampai berusaha menjaga jarak denganmu." Hanya saja kebetulan situasinya mengatur agar keduanya seperti itu. "Apakah dirimu merasa tidak senang?"


Sebenarnya, Naufal dapat enggan untuk mengakui kebenarannya. Namun, merasakan hatinya yang justru semakin berantakan, dirundung kegelisahan, hingga lama-lama menderita tak tertahan, Naufal memutuskan untuk mengatakan, "iya." Seraya menganggukkan kepala, lelaki itu mengakuinya. "Bukan hanya aku, tetapi juga Fauzan. Kami tidak bisa menerima maupun menjalani hubungan dingin seperti ini denganmu. Kami ingin semuanya baik-baik saja. Kembali seperti semula, dan kita dapat mengambil banyak waktu untuk dihabiskan bersama-sama."


Nadira kembali dibuat terdiam. Ia merasa sesak sekaligus senang mendengar ucapan Naufal barusan. Pasalnya, setelah apa yang lelaki itu katakan, Nadira seketika merasa berharga, merasa diinginkan, dan juga dicintai baik oleh Fauzan maupun sang ketua osis. Akan tetapi, di sisi lain ia tak mengerti bagaimana caranya menempatkan lelaki di hidupnya saat ini. Ia memiliki kedua sahabat yang perlu dijaga perasaannya, apalagi setelah konflik yang terjadi di antara Naufal dan kedua temannya tersebut, pasti mereka tidak dapat dibaurkan.


"Aku merasa sangat-sangat tersanjung dengan pengakuanmu, Naufal. Namun, bolehkah jika kita tetap seperti ini saja? Jangan terlalu dekat, tetapi juga tidak berusaha menjauhi." Meski bertolak belakang dengan keinginan nuraninya, Nadira tetap memilih jalan tengah sebagai titik tumpuannya. Ia berusaha untuk tidak berat sebelah. "Aku tahu, meski ini bukanlah urusanku, tetapi teman-temanku tentu tidak akan senang melihat kita berhubungan seperti dulu. Mereka telah dirimu lukai, dan meski dirimu meminta maaf berulang kali, sakit hati mereka mungkin masih kekal terpatri."


"Ini hanya sementara, jika seiring berjalannya waktu dirimu berhasil membuat Tina dan Farhan bersedia untuk bermudah-mudah denganmu."


"Apa menurutmu aku bisa lakukan itu? Aku merasa sangat tidak percaya diri, apalagi mengingat pagi tadi Farhan berusaha untuk cepat-cepat pergi."


"Itu karena kami harus lekas pergi ke sekolah, Naufal."


Tetap saja, tetap saja Naufal merasa jika hal tersebut akan sangat sulit dilakukannya. Ia melihat Farhan serta benteng pertahanannya yang akan sangat alot untuk ditaklukkan. Ia tidak yakin lelaki itu akan sudi membuka diri untuk menerimanya menjadi teman atau bahkan karib.


"Dirimu harus mencobanya, Naufal. Dirimu hanya perlu sedikit saja merendah kepada mereka. Cukup akui kesalahanmu, tunjukkan penyesalanmu, dan semoga segalanya berakhir perdamaian di antara kalian," terang Nadira menyemangati.