
Adiyasta terduduk di bangku panjang koridor demi menepati janjinya kepada Farhan semalam. Ia berjanji untuk mengantar sekaligus menemani lelaki itu menyelesaikan tes untuk seleksi tim promosi, dengan suatu imbalan yang akan langsung ia tagih sepulangnya nanti. Namun, melalui begitu panjang waktu sendirian tak ayal membuatnya merasa sangat bosan dan mengantuk juga. Hingga sampai akhirnya.
“Minum?” Tina datang menyodorkan sebotol teh kemasan kepada Adiyasta dengan senyum mengembang sempurna di wajahnya. “Pasti menunggu Farhan membuatmu bosan. Jadi, aku yang akan menemanimu di sini. Bagaimana?”
Adiyasta tak lekas menjawab pertanyaan gadis yang telah mengambil duduk di sisinya tersebut. Tatapannya justru terpaku lekat pada wujud Tina yang hari itu tampak sangat-sangat memesona menurutnya. “Terima kasih, Tina.” Kemudian tangannya terulur perlahan-lahan untuk menerima pemberian perempuan tersebut. “Tetapi bolehkah jika posisi duduk kita jangan terlalu dekat? Aku merasa jantungku berdebar-debar tidak karuan karena didekati olehmu. Aku tidak ingin mati muda, Tina. Banyak hal yang urung aku tuntaskan.”
Tina sontak mengernyitkan dahinya. Ia sungguh tidak paham dengan apa yang baru saja Adiyasta katakan. “Apa maksud perkataanmu, Adi? Apakah hari ini aku terlihat menyeramkan? Aku rasa, kemarin kita masih berhubungan dengan sangat baik. Lantas, mengapa hari ini dirimu tidak ingin aku dekati?”
“Aduh, Tina.” Seketika Adiyasta memukul keningnya sendiri. “Apakah dirimu tidak paham sama sekali? Dirimu terlihat sangat-sangat cantik hari ini. Aku merasa canggung sekaligus rendah diri karena dapat duduk bersisian denganmu seperti sekarang ini.” Adiyasta lekas membuka tutup botol teh kemasan yang Tina berikan kepadanya, lalu menenggak isinya hingga tersisa setengah bagian. “Jantungku pun terasa berdebar-debar. Menurutmu, ada apa dengannya? Apakah dijamin baik-baik saja?”
Tina tampak menggelengkan kepalanya sebab tak paham dengan arah pembicaraannya dengan Adiyasta. “Aku rasa tidak hanya jantungmu yang tidak baik-baik saja, melainkan juga keadaan tubuhmu yang mungkin sedang dalam keadaan demam.”
Seketika Tina menarik tangannya dengan cepat. Ia tak dapat menahan keterkejutannya terhadap perkataan Adiyasta barusan. “Dugaanku benar, dirimu memang sedang demam. Alangkah baiknya, dirimu segera pergi periksakan dirimu di klinik terdekat. Jangan sampai dirimu benar-benar mati muda nanti.” Gadis itu beranjak dari tempat duduknya dan berniat menjauh dari Adiyasta yang telah membuatnya tak habis pikir.
Akan tetapi, ketangkasan Adiyasta mencekal pergelangan tangan Tina, lebih mumpuni menghentikan pergerakan gadis itu dalam hitungan detik. “Aku hanya bercanda, Tina cantik. Jadi, boleh aku minta tolong untuk dirimu tetap menemaniku di sini? Aku kesepian jika dirimu tinggal sendiri,” pinta lelaki itu memelas.
Tina tak memberikan jawaban apa pun. Ia hanya patuh dan kembali duduk di sisi Adiyasta, meski kesannya tak senyaman sebelumnya. Gadis tersebut memutuskan untuk mendukung kehadiran hening yang menyergap suasana saat itu.
“Bagaimana tesnya? Apakah dirimu dapat melaluinya dengan baik?” Adiyasta kembali buka suara. Ia pun memberikan perhatiannya penuh kepada gadis di dekatnya itu. “Aku berharap kita dapat bertemu di pameran nanti, dengan keberhasilan masing-masing dari kita menjadi bagian penting dari kegiatan itu.”
“Tetapi aku sama sekali tidak menaruh harapan besar terhadap hal ini, Adi.” Tina menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan sesuatu yang benar-benar mengganggunya.