Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 37



"Kamu tidak pergi ke sekolah, Kesya?" Pagi itu Tama mendapati putrinya masih tertidur di kamar. 


"Kesya tidak akan pergi ke sekolah. Kesya akan menjalan hukuman skors dua minggu yang Naufal berikan." Kesya sungguh-sungguh dalam ucapannya kemarin. Dia tidak pergi ke sekolah, demi menjalankan hukuman yang Naufal berikan.


"Papa sudah menyelesaikan masalahnya. Untuk apa kamu repot-repot menjalankan hukumannya?" Tama tidak ingin putrinya dihukum, atau menjalankan sebuah hukuman. Putrinya akan selalu baik-baik saja selama dirinya masih hidup, sebab Tama akan mengusahakan semuanya, Tama akan senantiasa berada di sisi Kesya hingga akhir hayatnya. 


"Papa tidak menyelesaikannya. Justru Papa membuat masalah baru." Kesya masih meringkuk membelakangi Tama. Dia tidak tidur, dia sudah bangun sejak pukul lima pagi, akan tetapi ia enggan untuk bangkit dan keluar, dia masih bersedih, jadi biarkan dia menenangkan diri dulu. 


Tama teringat, kemarin putrinya membela habis-habisan seorang lelaki yang menjabat sebagai Ketua Osis. Bahkan karena lelaki itu juga, putrinya menjadi berani memarahinya. "Papa tidak ingin kamu dihukum siapa pun." 


"Tapi Papa mematahkan cinta Kesya, Naufal adalah lelaki yang Kesya cintai sejak lama." Kesya bangun, dia menatap ayahnya, dengan netra yang telah basah. Kesya tidak bisa membayangkan bagaimana buruknya dirinya di hadapan Naufal, hingga lelaki itu menyebutnya menjijikkan. 


Tama tahu sekarang. Putrinya sedang jatuh cinta, dan cinta itu buta sekali. Kesya mencintai Naufal, lelaki yang dengan mudahnya menjatuhkan hukuman untuknya. Kesya tidak melihat bagaimana ruginya dirinya saat menjalankan hukuman skors dua minggu, dan berapa banyak materi pelajaran yang tertinggal nantinya? Yang jelas sampai saat ini Kesya hanya melihat Naufal, hanya memikirkan bagaimana pandangan Naufal padanya, dan hanya memikirkan bagaimana membuat Naufal sudi membersamainya walau setelah kasus yang dibuatnya. 


"Naufal, namanya Naufal. Kesya mencintai lelaki itu, Pa." Kenyataannya Kesya sangat sulit berpaling, walau Naufal telah menolaknya lebih dari dua kali. Kesya susah untuk dibuat mengerti, hingga lelaki selembut Arif saja tidak berhasil membuatnya paham. 


"Lelaki itu yang membuatkanmu hukuman. Lelaki itu membuatmu rugi sekarang. Untuk apa mencintai lelaki seperti dia?" Apakah Tama sedang mencela Naufal? Apakah akan baik-baik saja setelah ini? Apakah putrinya tidak akan membencinya? 


"Ini tentang hati, Pa. Seharusnya Papa paham tanpa harus bertanya. Kesya sudah begitu jatuh hati pada Naufal, dan Papa bertanya untuk apa." Andai Tama tahu, Kesya sendiri tidak bisa menjelaskannya kendati itu adalah perasaannya sendiri.


"Kamu sangat cantik, Sayang. Tidak seharusnya kamu menyiksa dirimu sendiri dengan mencintai lelaki yang jelas-jelas telah memberikan hukuman padamu." Tama berusaha menerangkan. Andai saja dia tahu usaha Arif yang sia-sia. "Lelaki itu tidak akan membalas cintamu. Dari matanya saja dia terlihat enggan bersamamu, bagaimana kamu akan bahagia jika bersamanya?"


"Kesya tahu, Naufal enggan bersama Kesya, Naufal enggan menerima cinta Kesya, dan akan sulit meminta balasan darinya. Tapi ini hanya sulit, hanya terdengar tidak mungkin, bukan berarti akan berakhir kegagalan." Kesya menyemangati dirinya sendiri. Ayahnya tidak mungkin membelanya atau mendukungnya. Jelas-jelas saat ini Tama memilih untuk menjadi kubu kontra. 


Tama tidak ingin berdebat. Putrinya begitu bersikeras, dan sulit dinasihati. Berbicara pada kondisi seperti ini tidak akan menyelesaikan apa-apa. Kesya sedang bancuh, hatinya sedang tak utuh, sebab sebagiannya telah runtuh, dan kini semakin luruh. Hanya Naufal yang bisa mengembalikannya seperti semula, membawa pada keadaan baik-baik saja, hanya Naufal yang bisa, dan Tama paham betul dengan itu. Kesya akan lekas membaik saat mendapatkan apa yang diinginkannya.