Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 109



"Naufal, mengapa dirimu berkata seperti itu? Dirimu tidak tahu bagaimana Farhan dan Tina yang sebenarnya. Tolong jangan berkata buruk tentang mereka." Nadira semakin dibuat frustrasi. Ia tidak mengerti harus menyikapi dua kubu yang saling memojokkan itu dengan seperti apa lagi.


"Dirimu harus mendengarkan aku, Nadira. Mereka berdua ini tidak lain hanya sahabatmu saja, dia bukan orang tuamu yang memiliki hak sebesar itu untuk mengatur hidupmu. Dirimu bebas berteman dengan siapa pun dan kapan pun. Jangan persempit kebebasanmu, Nadira. Dirimu boleh tinggalkan mereka berdua jika mereka tidak menguntungkan dirimu sama sekali."


"Cukup, Naufal! Cukup!" Nadira leluasa untuk bersuara sebab di rumah itu tidak ada siapa-siapa, selain dirinya dan orang-orang yang kini tengah mempersulit hidupnya. "Mengapa dirimu keras kepala sekali? Bukankah aku telah memintamu untuk jangan berkata buruk? Tina dan Farhan tidak pernah mengatakan apa pun tentangmu, dia tidak pernah mencemarkan namamu sebagaimana dirimu mencemarkan mereka."


Menyaksikan Kak Na kesayangannya membentak kakaknya, Fauzan kini beralih haluan. Jika sebelumnya ia terus bersembunyi di belakang tubuh Nadira, kini ia beralih menuju Naufal dan meminta perlindungan lelaki itu.


"Sudah aku peringatkan jika aku tidak akan meninggalkan sahabat-sahabatku meski aku menyaksikan mereka bersalah! Mereka lah yang lebih dulu peduli dengan hidupku, Naufal! Bukan dirimu!"


Farhan dan Tina serempak menatap Nadira lekat-lekat. Mereka tidak mengira apabila Nadira akan sanggup berkata demikian kepada sang ketua osis.


"Bukan dirimu, Naufal. Bukan dirimu yang lebih peduli dengan hidupku," imbuh Nadira lirih. Kedua matanya berubah sayu, seolah-olah keadaan itu benar-benar menguras habis tenaganya. "Sebenarnya ini hanya permasalahan kecil. Sangat-sangat kecil. Namun, mengapa buntutnya sampai sekompleks ini? Jujur saja aku kehabisan cara untuk menghadapi ini."


"Kenapa Kak Na memarahi Kak Naufal?" Fauzan beralih membuka suara setelah hening menyergap suasana. "Kita baru saja bersenang-senang bersama, Fauzan kira Kak Na telah menyayangi Kak Naufal sama seperti Kak Na menyayangi Fauzan."


Naufal yang mulai bergeming sesaat setelah Nadira membentaknya pun menjadi tak kuasa menjawab perkataan-perkataan adiknya sendiri. Ia merasakan sakit hati ketika mendapati gadis yang akhir-akhir ini sering bersamanya itu tiba-tiba menentangnya secara terang-terangan. Naufal terluka, tetapi ia paham betul jika ucapannya beberapa waktu lalu pun pastinya melukai hati gadis di hadapannya.


"Kenapa, Kak Na? Apakah Kak Farhan lebih baik daripada Kakakku, sampai-sampai Kak Na lebih memilih dekat dengannya?" Fauzan tidak senang melihat kedekatan Nadira dan Farhan. Selain karena memiliki sedikit benci kepada lelaki itu, Fauzan pun ingin Nadira hanya dekat dengan kakaknya saja, hanya dengan Naufal saja.


Nadira tak ingin menjawab apa pun pertanyaan Fauzan. Ia tidak ingin hatinya memaklumi apa yang jelas-jelas salah hanya karena ia iba terhadap bocah itu.


"Apakah Kak Na marah besar terhadap Kakakku? Apakah Kak Na tidak akan memaafkan Kakakku setelah ini?" Fauzan mendesak. Ia berlari menghampiri Nadira dan menggoyang-goyangkan kaki gadis itu. "Kalau begitu tolong katakan kepadaku apa yang dapat membuat Kak Na memaafkan Kakakku. Aku mohon, Kak Na."