
Kesya menyaksikan kepergian Arif dengan denyut nyeri di dadanya. Sebelum ini gadis tersebut tidak pernah mendapati kemarahan Arif yang seperti itu. Entah sejahat apa pun mulut dan sikapnya selama ini, ia tak pernah menerima sikap Arif yang seperti itu.
Kesya mendorong gerbang rumahnya untuk masuk ke dalam, lalu kembali menutupnya. Ia berjalan lunglai sebab rasa bersalah yang merundung hingga menerungku batinnya. Ia tidak ingin Arif mendiamkannya seperti itu. Ia tidak ingin Arif memutus pandang dan perhatiannya seperti itu. Karena Kesya belum siap hidup tanpa semua itu, tanpa sisi kepedulian Arif yang begitu berjasa menimangnya dalam cahaya bahagia selama ini.
"Sayang, bagaimana dengan sekolahmu hari ini?" Tama menyambut kepulangan putrinya dari ambang pintu. Senyumnya tersaji sangat manis, seolah tengah mendapatkan sesuatu yang diidamkannya. "Apakah masih ada yang berusaha mengusikmu di sekolah?"
Kesya hanya menggelengkan kepalanya tanpa menatap langsung wajah ayahnya. Ia tidak ingin berlama-lama di sana, ia ingin segera ke kamarnya untuk tidur sejenak, lalu melupakan segala hal yang mengusiknya.
"Kita makan malam di luar malam ini, ya? Sudah lama sekali Papa tidak berkencan dengan putri Papa sendiri. Lagi pula sepertinya keadaan hatimu sedang tidak baik," ucap Tama sembari mengikuti langkah Kesya yang telah melaluinya.
Kesya sontak menghentikan gerak kakinya, kemudian ia memutar tubuhnya dan menatap ayahnya. "Kita lakukan itu lain waktu saja ya, Pa? Hari ini Kesya benar-benar sedang tidak ingin kemana-mana."
Tama tidak dapat menyembunyikan perasaan kecewanya ketika mendapati penolakan Kesya yang demikian. Ia sungguh merindukan putrinya setelah berhari-hari sibuk menyertakan diri dengan berkas-berkas setumpuk. Lalu, ketika dirinya telah mendapati sedikit waktu luang, justru Kesya tak dapat menuruti keinginannya.
"Maafkan Kesya, Pa. Hari ini kepala Kesya terasa sangat berat, dan badan Kesya juga terasa pegal-pegal," keluhnya sebagai dalih atas suasana hatinya yang buruk serta beban pikiran otaknya yang penuh. "Kita cari waktu senggang di lain hari saja ya, Pa? Toh kita masih memiliki banyak waktu untuk bersama," imbuhnya.
Mendengar hal tersebut Tama tak tega untuk membantah. Ia pun dapat melihat wajah pucat putrinya sore hari itu, hingga ia langsung percaya dengan alasan yang disampaikan oleh Kesya kepadanya beberapa saat lalu. "Seharusnya Papa yang meminta maaf kepadamu, Sayang." Tangan kanan Tama bergerak menuju puncak kepala Kesya untuk memberikan elusan lembut di sana. "Kita lakukan lain waktu saja, ya? Hari ini beristirahatlah dengan benar, dan jika terjadi sesuatu pada kondisi tubuhmu, jangan lupa untuk kabari Papa," imbuhnya.
***
Di kamarnya, Farhan menatap langit-langit dengan perasaan yang tidak karuan. Sore itu ia belum berhasil melakukan interaksi berarti dengan ibunya. Hawa masih saja banyak diamnya, hingga membuat Farhan semakin merasa sedih ketika menyaksikannya.
"Farhan."
Namun, mendengar panggilan itu sontak membuat Farhan bangkit dari rebah di ranjangnya. Ia menghampiri pintu kamarnya, kemudian membukanya untuk menyambut seseorang yang baru saja memanggilnya barusan. "Ibu? Apakah keadaan Ibu sudah membaik? Apakah Ibu memerlukan sesuatu? Tolong katakan kepadaku, Bu," cecar lelaki itu.
Hawa lantas menyambar tubuh Farhan untuk dipeluknya dengan erat. Wanita itu menangis di pundak anak lelakinya hingga terdengar isakannya yang memilukan.
"Bu, ada apa denganmu?" Farhan bingung dengan situasi yang tengah hadapinya saat itu. Ia berusaha mengingat-ingat apakah ada salah satu atau banyak dari perkataannya yang melukai perasaan ibunya tersebut. "Apakah Farhan melakukan kesalahan kepada Ibu? Tolong katakan kepadaku, Bu," pintanya.
Hawa tak memberikan jawaban atas pertanyaan serta kebingungan putranya. Ia hanya terus menangis seolah hal tersebut adalah kebutuhannya pada saat itu.
"Farhan beri waktu untuk Ibu menangis sampai benar-benar merasa tenang," ucap remaja lelaki itu dengan lembut sembari menggerakkan tangannya untuk membalas pelukan Hawa dengan sama eratnya.