Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 31



Arif masih bergeming di tempat. Ia teringat kejadian beberapa waktu yang lalu. Lanjut Kilas Balik. 


"Aku akan bertemu dengan Bapak Kepala Sekolah." Kesya membuat keputusan secara tiba-tiba. "Aku harus menjalankan skors dua minggu yang telah dibebankan padaku," imbuhnya. 


"Bukankah masalahnya sudah usai, Kesya? Ayahmu telah menyelesaikan kasus itu, jadi untuk apa kamu menjalankan hukumannya?" Arif sebenarnya tidak setuju, sebab dirinya akan kehilangan semangatnya untuk dua minggu kedepan jika Kesya benar-benar menjalankan hukuman skors dua minggu. "Toh, kamu akan kesulitan menyerap materi pelajaran nantinya. Apa tidak lebih baik jika kamu lupakan kasus itu dan hukumannya. Jangan kecewakan Ayahmu, Kesya." Arif berusaha menasihati. 


"Naufal yang kecewa padaku, sekarang. Dia bilang jika aku menjijikkan dengan tidak menjalankan hukuman yang Bapak Kepala Sekolah berikan." Kesya menerangkan alasan dibalik keputusannya. "Aku tidak ingin membuat Naufal kecewa. Aku takut, Arif." 


Arif menyunggingkan senyum yang semu di bibirnya. Dia terluka sebab Kesya begitu memikirkan pandangan Naufal. Kesya terlalu menjaga, seolah Naufal adalah benda kesayangannya yang mudah retak. Lalu sekarang Arif harus bagaimana? Terus berpura-pura baik-baik saja akan sangat sulit untuk waktu jangka panjang. Sebab suatu saat semuanya juga bisa meledak, meruahkan luka yang telah lama menghuni ruang hatinya. 


Ini sangat tidak adil sebenarnya. Arif diwajibkan menguasai keadaan agar senantiasa terlihat sehat, dengan menyembuhkan luka Kesya, sekaligus menyembunyikan lukanya sendiri. Tidak ada yang berkenan memegang peran serupa dengannya. Karena semua tahu hal itu hanya akan menyiksa dan secara perlahan membasmi kewarasan. Seharusnya Arif tahu, seharusnya dia tidak lakukan itu jika ingin merasakan sedikit saja zona nyaman yang telah menjadi suguhan secara percuma. 


"Tidak apa-apa, Arif. Aku sudah terlanjur begitu mencintainya. Jadi rasa sederhana ini biarkan mengalir sesuai alur yang telah ditentukan." Kesya yang begitu tegar, dan dia menjadi sekuat itu karena cinta. 


"Ini bukan alurnya, Kesya. Kamu yang membuat jalan seperti ini. Berkelit-kelit, dan menyusahkan dirimu sendiri." Arif berusaha menjelaskan faktanya. Dia hanya ingin Kesya berhenti menyakiti diri sendiri. Sebenarnya sangat sederhana, akan tetapi mengapa Kesya begitu sulit untuk mengerti? "Berhenti Kesya. Kamu hanya akan menyakiti dirimu sendiri jika terus berada di jalan seperti ini. Sungguh ini bukan takdirmu, kamu harus tahu."


"Kamu tidak tahu, Arif. Aku sudah begitu mencintai Naufal. Bahkan aku rela menggadaikan apa pun yang kumiliki hanya demi dirinya, hanya demi Naufal." Kesya juga tidak tahu mengapa dirinya begitu jatuh hati pada sosok Sang Ketua Osis. Semua itu terjadi secara murni, dan hakiki karena hati. "Usulanmu untuk berhenti, itu hanya akan membuatku semakin sakit."


"Kesya, kumohon cobalah untuk mengerti. Berhenti tidak selamanya menyakitkan, adakalanya kamu harus benar-benar bergeming pada satu tempat, dan melihat sekelilingmu bahwa sebenarnya kamu tidak akan pernah berakhir sendirian dan kesepian." Arif ingin Kesya mengerti dan menuruti ucapannya, sungguh hanya itu saja. "Melepaskan Naufal, tidak akan mengubur berjuta hati lain yang ingin menggapaimu. Percayalah, Kesya, akan ada lelaki lain yang menunggu waktu untuk membawamu dalam dekapannya." Dan lelaki itu telah ada sekarang, lelaki itu ada di hadapanmu, lelaki itu adalah tameng terkuat yang senantiasa melindungi dirimu.