Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 77



"Arif!" Dari kejauhan Naufal tergopoh-gopoh menghampiri Arif yang terlihat sedang menuju lapangan basket. Sang ketua osis itu datang untuk sekadar menyampaikan pesan, jika. "Sepulang sekolah tolong segera menuju ruang osis. Kita akan membahas lebih lanjut mengenai program kerja kita waktu itu, dan tolong sampaikan hal ini kepada Kesya."


Arif menganggukkan kepalanya singkat, kemudian kembali melanjutkan langkahnya menuju lapangan basket. Ia benar-benar tidak ingin berbicara kepada siapa pun pada saat ini. Ia membutuhkan waktu untuk meredakan emosinya, meredakan gejolak kekecewaannya, dan segala aspek pendukung adanya luka di hatinya.


Kesya yang menyaksikan segalanya di ambang pintu sudah tak lagi dapat membendung tangisnya. Ia tidak pernah sesedih ini menghadapi permasalahannya dengan Arif. Ia pernah dengan tenang, sungguh, dan tak sungkan ketika meminta lelaki itu untuk pergi. Namun, mengapa kini rasanya sangat berbeda? Kesya benar-benar tidak rela Arif mencampakkannya, mengabaikannya, dan menghentikan kepedulian serta perhatiannya.


***


Kesya membuka matanya dan seketika mendapati langit-langit berwarna putih serta sekelilingnya yang tampak tidak asing. Gadis itu berada di UKS, dan ada seseorang yang berada satu ruangan dengannya, seseorang itu berdiri membelakanginya, serta berkemungkinan adalah sosok yang membawanya ke sana. Kesya berpikir keras untuk menerka siapa sosok itu sebab kedua netranya yang belum berhasil melihat dengan jelas untuk sekadar mengenali punggungnya. Namun, di tengah kesibukannya untuk menebak, sosok itu lantas membalikkan badan.


"Mengapa tidak memanggilku jika sudah sadar? Apakah dirimu sengaja membuatku berlama-lama denganmu di sini?"


Kesya tak perlu lagi susah payah mengenali sosok itu sekarang. Ia dapat mengenal dengan baik siapa yang mengantarnya ke UKS siang itu hanya dengan mendengar suaranya. "Mengapa aku bisa berada di sini, Naufal? Apakah tadi aku pingsan?" tanya gadis itu sembari berusaha bangkit dari rebahnya untuk berposisi duduk di atas brankar.


Naufal berjalan mendekat ke arah Kesya. Ia memperhatikan dengan saksama wajah pucat dan payah gadis yang menurutnya selalu sok berkuasa. Kali ini, Kesya terlihat lemah, serta sorot matanya kentara menunjukkan kesedihan. "Ya, dirimu pingsan."


"Lalu dirimu membawaku kemari dengan meminta bala bantuan?" tanya Kesya lagi.


Kesya berbunga-bunga. Mendengar Naufal membopongnya, Kesya tak dapat menolak perasaan senang yang datang menghampiri batinnya. "Sungguh dirimu melakukan itu untukku?"


"Jangan terlalu berbangga hati, Kesya. Tiada siapa pun yang sudi menolongmu jika bukan aku yang berbesar hati melakukan itu." Melihat binar di mata Kesya jelas membuat Naufal merasa tidak suka. Naufal risih apabila Kesya sampai menganggapnya pahlawan hanya karena persoalan membopong ke UKS. "Lagi pula Arif tidak ada di sana. Dia pergi entah karena sudah tak lagi peduli atau memang ia terburu-buru berlatih untuk turnamen."


"Mengapa harus berkata seperti itu, Naufal? Jika dirimu memang tidak ingin menolongku, mengapa tidak dirimu biarkan saja aku tergeletak di sana?"


"Asal dirimu tahu Kesya! Dirimu jatuh tepat di bawah kakiku, di ambang pintu kelasmu! Jika dirimu tidak merencanakan siasat agar aku yang membawamu kemari, mengapa dirimu tidak pingsan di dalam kelas, atau di bangkumu saja? Bukankah itu akan mempermudah segalanya?"


Kesya tidak tahu jika dirinya akan pingsan. Ia meninggalkan tempat duduknya dan menuju ke ambang pintu hanya ingin melihat punggung Arif yang perlahan-lahan menjauh meninggalkannya. "Asal dirimu tahu jika aku tidak seperti Nadira yang pandai dengan dramanya. Aku tidak tahu jika akan jatuh di bawah kakimu hingga membuatmu terpaksa berbesar hati untuk menolongku."


"Terserah apa yang dirimu katakan. Aku hanya ingin berpesan untuk jangan berpikir macam-macam atau sampai mengira jika aku peduli denganmu!" Setelah mengucapkan itu Naufal lantas melangkah pergi.


Namun, dengan cepat Kesya berujar, "aku tidak sedang atau akan mengira, Naufal! Dirimu lah yang sudah bersenang hati menunjukkan kepedulianmu dengan menolongku tadi!" Akan tetapi ia melihat Naufal tak sedikit pun menggubris ucapannya.