Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 61



"Kesya!" Naufal segera mengadang jalan Kesya dan kedua temannya. "Kapan dirimu akan berhenti menyakiti Nadira?"


Kesya yang semula menyunggingkan senyumnya sebab Naufal datang menghampirinya, kini air mukanya berubah serius tatkala mendengar tuduhan yang lelaki itu tujukan padanya. "Apa maksudmu, Naufal?" Kesya benar-benar tidak mengerti. Bahkan pagi ini dirinya belum bertemu dengan Nadira sama sekali. 


"Bukan hanya sekali aku memperingatkanmu untuk berhenti merundung siswa lain, tapi kenyataannya sekarang apa? Sedikit pun dirimu tidak berkenan mendengarkan aku, Kesya." Naufal terus membahas dan mempertahankan asumsinya. Melihat Nadira menangis, membuat prasangkanya secara serta-merta menghina Kesya dalam hati. 


Kesya berusaha untuk mengerti apa yang dikatakan oleh Naufal saat ini. Dirinya jelas bingung dengan segala ucapan Sang Ketua Osis yang agaknya tengah menyalahkannya. Namun, tanpa sengaja ketika Kesya menoleh ke samping, ia mendapati Nadira berdiri tak jauh dari posisinya. Bagaimana bisa dirinya mengabaikan perempuan yang sedang bersandiwara dan berusaha menjebaknya sekarang ini? "Akting macam apa ini, Nadira? Apa tujuanmu, ha?" Kesya mengabaikan Naufal, kemudian segera mendatangi mantan gadis cupu yang menjijikkan itu untuk memberikan pelajaran. 


"Jauhkan dirimu dari Nadira, Kesya!" Naufal lantas mencekal lengan Kesya, lalu menariknya dengan kasar hingga gadis itu hampir saja jatuh terjengkang. "Jangan berusaha untuk mendekati Nadira, ataupun berniat melukainya." Penuturan Naufal sarat akan kebencian serta penuh dengan penekanan. Naufal telah termakan air mata palsu Nadira, dan lelaki itu telah kehilangan kebijaksanaannya sebab tak lagi memiliki pertimbangan untuk menyelesaikan masalah yang ada di hadapannya. 


"Dirimu telah dibohongi, Naufal!" Kesya geram dengan situasi konyol yang menimpanya. Naufal telah dikelabui oleh gadis mimikri dan lelaki itu pun tak menyadarinya. 


"Hentikan usahamu mengelak, Kesya. Akan lebih baik jika dirimu mengakui perbuatanmu saja." Naufal tetap berpegang teguh pada pemikirannya. Lelaki itu kadung terhasut oleh permainan Nadira, hingga pada akhirnya dirinya tidak akan mungkin dapat percaya dengan penjelasan Kesya. 


Meski kesal dengan fitnah-fitnah yang Naufal berikan, sejatinya berdebat dengan Sang Ketua Osis bukanlah cara yang Kesya inginkan untuk menyelesaikan masalah. Perempuan itu memilih untuk melangkah mendekat, merapati posisinya dengan Naufal dan semakin mengikis jarak yang mengantarai mereka. "Di mana sosok Naufal yang cerdas dan bijaksana seperti biasanya? Di mana Sang Ketua Osis yang terkenal dengan kepintarannya mengadili perkara?" Kesya mengatakannya dengan tenang, seraya menatap netra lawan bicaranya secara saksama. "Jika dirimu berpikir aku yang melakukannya, maka akan aku buat keadaan sesuai dengan yang kalian tuduhkan sekarang," imbuhnya seraya mengedarkan pandangannya ke arah Naufal, Nadira, serta Tina secara bergantian. "Aku pastikan usaha kalian ini tidak akan sia-sia." Sejurus dengan itu Kesya lantas berlalu, membawa kedua temannya meninggalkan panggung sandiwara yang telah Nadira sajikan untuknya. 


***


Lonceng pertanda waktu istirahat telah dibunyikan. Hari ini Nadira dan Tina sama sekali tak berniat untuk pergi ke kantin, jadi kedua gadis itu memilih untuk menghabiskan bekal yang mereka bawa dari rumah. 


"Farhan bagaimana kabarmu?" Nadira telah duduk di hadapan Farhan. Menyaksikan wajah sahabatnya yang tampak lelah, lesu, dan tak bersemangat. Setibanya lelaki itu ke kelas pagi tadi bertepatan dengan kedatangan guru mata pelajaran jam pertama, hal tersebut membuat Nadira dan Tina tidak memiliki waktu untuk bersua dengannya lebih dulu. 


"Cukup baik, Nadira. Terima kasih karena telah memedulikan aku." Meski kesedihannya tak luput dari rupa pucatnya, Farhan tetap berusaha mengulas senyum terbaik dari bibirnya. Lelaki itu hanya tidak ingin mengecewakan Nadira yang telah berusaha menghiburnya. 


"Aku yakin dirimu mampu melewati semuanya dengan baik, Farhan. Tetap semangat, ya." Tina pun mengeluarkan suaranya untuk membangkitkan asa dalam diri Farhan. Dirinya ingin lelaki di sisinya itu tumbuh lebih tangguh untuk kedepannya. 


"Oh ya, Farhan. Aku membawa buku catatan pelajaran-pelajaran yang sempat dirimu lewatkan." Nadira bangkit dari duduknya dan segera menuju laci mejanya untuk mengambil beberapa buku tulis dari dalam sana. Kemudian gadis itu kembali duduk di hadapan Farhan seraya meletakkan buku-buku tersebut di hadapan sahabat lelakinya. "Tenang, meski banyak tapi aku telah merangkumnya dengan spidol berwarna, tulis saja kalimat-kalimat yang telah aku tandai, ya."


"Terima kasih." Farhan tak mungkin melukai kedua sahabatnya yang telah berusaha membangkitkan semangatnya. Farhan akan menjalankan hidupnya sama seperti sebelum-sebelumnya, meski telah kehilangan ayahnya serta gairah hidup ibunya. Di sekolah Farhan masih memiliki Tina dan Nadira, dua teman baiknya yang begitu mementingkan hidupnya.