Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 81



Pikiran Nadira membayang membuana. Jujur saja gadis itu merasa tidak nyaman setelah perdebatannya dengan Kesya, yang entah mengapa perkataannya terasa tepat sasaran dan terdengar renyah untuk dipertimbangkan banyak orang andai para anggota osis yang lain turut mendengarkannya. Meski nyatanya kalimat-kalimat rivalnya itu tak menimbulkan hal-hal yang membahayakan, entah mengapa ia tetap merasa takut. Nadira menakutkan hari-hari kedepannya yang akan ia lalui dengan keberadaan Kesya. Walaupun mungkin nanti bukan karena permasalahan ini, Nadira mengkhawatirkan akan adanya permasalahan yang lain.


"Naufal, jika tidak salah pernah aku dengar dirimu bercerita bahwa ketika di bangku sekolah menengah pertama dirimu dan Kesya satu sekolah. Apakah itu benar?" Karena saking mengganggunya, akhirnya Nadira membuka suara. Ia ingin mengorek informasi mengenai Kesya. Memastikan gadis itu tak akan begitu berbahaya baginya.


Naufal yang ketika itu kerepotan membereskan berkas-berkasnya, dengan senang hati mengesampingkannya. "Aku tahu, Nadira. Dirimu pasti masih memikirkan kata-kata gadis itu barusan? Meski aku sedikit terperangah karena tidak menyangka ia dapat berkata demikian, tetapi dapat aku pastikan dia tidak akan mampu mengancam jabatan kita."


Sungguh Nadira tidak memikirkan jabatannya. Ia tak peduli jika harus lengser dari tahtanya sebagai sekretaris osis SMA Cakra Buana. Ia justru memikirkan hal lainnya. Memikirkannya nasibnya sendiri sebagai seorang individu yang kebetulan bermasalah dengan sosok Kesya yang kekuasaan ayahnya jelas tak dapat diragukan.


"Kita hanya melakukan kesalahan kecil, Nadira. Sangat-sangat kecil, dan meski itu kesalahan, lihatlah sekarang! Imbasnya ialah progres kita yang jauh lebih berkembang. Pameran kita tidak akan mengecewakan almamater sekolah, sehingga membuat jabatan kita dipertanyakan oleh jajaran para pendidik serta tenaga kependidikan, hingga kepala sekolah." Naufal berusaha menenangkan. Ia tersenyum sangat manis untuk Nadira yang masih berekspresi murung dan cenderung gelisah. "Semua akan baik-baik saja. Aku akan berusaha keras untuk menyelamatkan semuanya andai Kesya benar-benar mengancam."


***


Arif tersenyum mendengar perkataan Kesya. Ia senang gadis itu memikirkan perasaannya hingga memprediksi kemungkinan-kemungkinan yang pada akhirnya tidak benar. Arif tidak menyangka jika diamnya berhasil membuat Kesya menatap penuh atas keberadaannya, menganggap hadirnya berarti dan lebih dihargai. Arif harus berbangga diri.


"Kesya, dirimu tahu aku mencintaimu. Mungkin kemarin aku marah besar kepadamu, tetapi diamku hanyalah cara untukku menenangkan diri sejenak." Kenyataannya memang begitu. Arif diam, karena ia tak ingin secara sengaja maupun tidak, dapat melukai Kesya. Ia ingin melindungi gadisnya meski keadaannya sedang tidak baik. "Aku tak akan pernah sanggup meninggalkanmu." Dan ini bukanlah omong kosong. Seharusnya tak ada celah yang dapat membuat orang lain melihat cacat pada ketulusan Arif terhadap Kesya. Arif telah benar-benar cinta buta pada sulung Tama, sampai tak hanya raga dan batin yang ia korbankan, bahkan logikanya pun turut melunak kepada sosok Kesya.


"Kamu memang bodoh, Arif," celetuk Kesya tanpa dosa.


"Karenamu aku seperti ini, Kesya." Salah satu tangan Arif menuju ke arah kedua tangan Kesya yang melingkar untuk memberikan usapan lembut di sana. "Namun, aku tetap menyukainya. Aku bahagia dengan diriku yang seperti ini."