
"Oh ya, Vien...apa kamu ada janji dengan seseorang disini?"
"Tidak," Viena berusaha bersikap tenang walaupun perasaannya tak menentu.
"Lalu, apa kamu keberatan jika aku menemanimu disini?"
"Tidak, silahkan saja." Jawab Viena sambil tersenyum.
Mereka duduk berdua di padang rumput itu hingga sang mentari kembali ke peraduannya dan membuat keadaan di sekitarnya terlihat remang-remang.
"Udah senja, ngga terasa yah.."ucap Jhones memecah keheningan.
"Apa kamu masih ingin berada disini Vien?" Tanya Jhones perlahan.
Viena tak bereaksi, entah kenapa hatinya tak ingin mengakhiri secepat ini. Debaran jantungnya juga belum mereda. Suasana tempat itu semakin membuat Viena enggan beranjak dari sana. Tiba-tiba Jhones menyentuh jemarinya, terasa begitu hangat...
"Kamu kedinginan Vien, kita balik yuk.." ajak Jhones seraya membantu Viena berdiri. Viena tetap membiarkan Jhones menggenggam tangannya. Ia sungguh tidak ingin melepaskan genggaman itu.
"Ehm..Jhones, terima kasih ya sudah menemaniku disini."
"Ngga masalah, aku senang bisa menemani gadis cantik sepertimu." Jhones tersenyum seraya melepaskan genggaman tangannya.
"Yuk,aku antar kamu pulang,"
"Ngga usah, rumahku dekat dari sini..aku pulang sendiri saja. Sekali lagi terima kasih ya," ucap Viena sambil tersenyum.
"Baiklah kalau begitu, senang bertemu denganmu hari ini..semoga ini bukan yang terakhir ya." Jhones tertawa renyah..
"Tapi aku berharap jika suatu saat kita bertemu lagi, kamu duluan yang menyapaku..boleh kan?" Ucap Jhones sambil mengerling nakal pada Viena.
"Oke!" Seru Viena, dan merekapun tertawa bersama.
Seminggu telah berlalu sejak pertemuan singkat itu. Randy masih tetap sibuk berkutat dengan urusan basketnya, dan entah sejak kapan Viena tidak terlalu memperdulikan hal itu lagi. Hatinya begitu ringan, seakan beban yang menghimpitnya telah hilang tersapu angin sore itu. Bayangan Jhones mampu mengisi kekosongan hatinya yang disebabkan oleh Randy. Selama ini Randy selalu membuatnya kecewa, sebagai seorang pacar tidak pernah Viena merasa diutamakan.
'Tapi apa ini berarti aku telah selingkuh?' Aku masih memiliki Randy, tapi aku malah mendambakan orang lain..' Viena sungguh bingung dengan perasaannya.
"Drt..drt...drt..."
Viena mengambil Hpnya dan menjawab panggilan itu,
"Hallo Sayang," suara Randy terdengar riang diseberang sana.
"Ya, hallo..latihanmu sudah selesai?" Tanya Viena. Ia berusaha bersikap biasa terhadap Randy..Viena tidak ingin Randy curiga padanya disaat segalanya belum jelas seperti ini.
"Iya Sayang...dan kamu tahu, aku berhasil mendapatkan three point sebanyak 4 kali...menakjubkan bukan?!" Randi tertawa, ia terdengar begitu gembira menceritakan keberhasilannya." Dan aku ingin mengajakmu keluar malam ini untuk merayakannya, kamu mau kan, sayang?"
Viena menarik nafas sejenak...'tidak adakah yang lebih penting selain basketmu?' Batin Viena. Matanya mulai terasa panas, namun sebisa mungkin ia menahannya. Viena tidak ingin Randy mengetahui kesedihannya. Setelah terdiam beberapa saat, Viena menerima ajakan Randy.
"Baiklah sayang, nanti aku jemput jam 8 ya..pastikan kamu tampil cantik malam ini. Miss u.."
Panggilan terputus, sementara Viena masih duduk ditempat tidurnya. Tangisnya tak terbendung lagi, dadanya begitu sesak. Setelah meluapkan semua kesedihannya, ia bangkit menuju kamar mandi untuk bersiap-siap sebelum Randy datang menjemputnya.
Tepat pukul 8, bel pintu rumahnya berbunyi. Sekali lagi Viena menatap wajahnya di cermin. Mudah-mudahan Randy tidak mengetahui ia habis menangis. Setelah memastikan semuanya, Viena keluar dan menuju ke ruang tamu untuk membuka pintu.
"Malam sayang..kita pergi sekarang?" Sapa Randy. Viena hanya mengangguk pelan dan membiarkan Randy menggandeng tangannya menuju ke sebuah mobil sedan Honda Silver S2000 yang terparkir dihalaman depan rumah Viena. Mereka berdua bergegas masuk dan Randy mulai menjalankan mobil sport itu.
"Aku sudah memesan tempat paling romantis untuk kita berdua, aku harap kamu akan menyukainya."
Viena hanya tersenyum mendengarkan Randy.
Hanya 10 menit berselang, mereka sampai di Cafe yang paling terkenal di kota itu. Cafe Romanza, Cafe yang sarat dengan nuansa romantis sehingga digemari oleh semua pasangan baik tua maupun muda.
Cafe ini menawarkan berbagai hidangan khas untuk pasangan yang tidak akan dijumpai di Cafe manapun di kota itu. Dekorasinya yang sederhana dengan siluet pink keperakan menambah daya tarik Cafe ini.
Viena mengikuti Randy berjalan memasuki Cafe itu menuju salah satu kursi yang berada di pojok ruangan. Randy mengajaknya duduk dan tak lama seorang pramusaji pria mendatangi meja mereka.
Dandanan pramusajinya menyerupai seorang host dalam serial anime Jepang, dan pelayanan mereka sungguh luar biasa.
Viena membiarkan Randy yang memesan makanan untuk mereka. Matanya mengitari seluruh ruangan Cafe. Tamu hari ini tampaknya tidak terlalu ramai, masih terdapat beberapa kursi yang kosong disekitar meja mereka.
Tidak jauh dari tempat duduknya, Viena menatap sepasang muda mudi yang tengah asyik bercanda. Bahagia sekali kelihatannya, ia berusaha mengingat kapan terakhir kali ia tertawa lepas seperti itu bersama Randy.