
"Ada apa sebenarnya, Arif? Mengapa kamu terlihat begitu berusaha, kamu seperti sangat ingin diriku melepaskan Naufal." Kesya curiga. Gelagat Arif semakin lama semakin membuatnya penasaran. "Ada apa, Arif?" Kesya ingin memastikan kebenaran prasangkanya.
"Aku mencintaimu, Kesya. Sejak dulu, sejak kita disatukan pada gugus yang sama, saat masa orientasi siswa di sekolah menengah pertama." Arif memilih untuk menyatakannya. Dia lelah terus bersembunyi, dia akan merasa lebih lega jika mengatakan yang sejujurnya. "Aku kira itu hanya rasa yang labil, tapi kenyataannya rasa itu terus ada dan tidak pernah berubah sampai sekarang. Itu adalah cinta pandangan pertama, sungguh."
Air muka Kesya berubah. "Seharusnya jangan seperti itu, Arif. Aku tidak mungkin bisa membalasnya dengan rasa yang sama," ucapnya.
"Aku tahu, Kesya. Kamu sudah menjelaskannya sejak tadi, hatimu yang hanya ditempati oleh Naufal, itu semua sudah menyatakan bahwa akan sulit untukku menggapaimu." Arif tahu, hanya saja dia tidak peduli. "Tapi, Kesya. Kamu sudah tahu semuanya, sekarang. Bisakah kamu berikan aku kesempatan, untuk menggeser Naufal dan menggantikannya dengan namaku, apakah bisa?"
Naasnya Kesya menjawab dengan geleng kepala. "Tidak bisa, Arif. Aku hanya mencintai Naufal, hanya menginginkan Naufal, benar-benar hanya Naufal." Penegasan yang membuat luka di hati Arif menganga lebar. "Aku tahu rasanya pasti akan sangat sakit. Aku tahu betul pedihnya hatimu, sekarang. Aku juga merasakannya, kita sama-sama merasakan luka itu."
"Apa kita tidak bisa untuk saling menyembuhkan? Aku akan selalu ada untukmu, peduli, dan menyayangimu." Arif masih bersikeras. Dia sungguh menginginkan Kesya.
Arif menangis di hadapan Kesya. Dia telah kalah, dan dia sadar dengan kenyataan itu. Tidak ada lagi cara untuknya mendapatkan Kesya, dan perjuangannya telah usai saat itu, saat Kesya bersikeras memihak hati lelaki lain. Deritanya terlalu pilu untuk di ceritakan, sebab Arif terlalu bodoh dengan mempertahankan hati Kesya, sedangkan jelas-jelas dia tahu bahwa posisinya tidak akan pernah diterima. Tapi bukankah hati berhak memilih pada siapa dia akan jatuh? Arif tidak bisa mengaturnya walau dia sangat ingin.
"Maafkan aku, Arif. Berpaling bukanlah hal yang mudah bagiku, jadi maafkan aku." Kesya dihadapkan pada posisi yang sulit, tapi dia harus bisa memilih lalu melepaskan salah satunya, sebab memegang keduanya hanya akan membuat harapan palsu yang dapat mematahkan hati di antaranya.
Arif wajib berlapang dada. Walau sangat sulit untuk dilakukan, dia harus tetap memaksakannya. "Tidak masalah." Arif mengelus lembut surai Kesya, seraya menahan sesak yang kian menekan jalan napasnya. Memang sungguh menggambarkan sebuah derita.
"Cup" Kecupan manis dan hangat Arif berikan di kening Kesya. "Jika kamu berubah pikiran, atau takdir tidak menyatukanmu dengan Naufal, percayalah aku masih ada di sini, masih setia di sini, hanya untukmu, Kesya."