
Sejak kejadian di Cafe beberapa hari yang lalu, Viena tidak ada komunikasi apapun dengan Randy. Entahlah..mereka berdua saling berdiam diri, tak seorangpun berusaha menegur atau memulai pembicaraan. Saat bertemu di sekolah keduanya tampak seperti musuh, teman-teman mereka bingung dengan kecanggungan diantara mereka. Mereka yang merupakan pasangan ideal di sekolah ini tiba-tiba saja seperti dua orang asing.
Selena POV
Tiga hari tidak ada pembicaraan apapun dengan Randy. Tiga hari berlalu begitu saja tanpa ada telepon ataupun pesan singkat dari Randy. Tapi hatinya baik-baik saja..apakah semua rasa itu telah menghilang? Kemana perginya segala kerinduan yang dulu begitu menyiksa saat tidak ada kabar dari Randy?
Tadi saat berpapasan di lorong sekolah, Selena hanya melihat sekilas tanpa berbicara apapun. Begitupun Randy, hanya menatap sekilas dan berlalu.
‘Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan. Apakah aku sudah kelewatan sehingga begitu menyinggung Randy? Tidak pernah Randy mendiamkanku selama ini. Dia bukan tipe pria yang suka memperpanjang masalah. Setiap kali mereka bertengkar, biasanya Randy pasti selalu yang mulai bicara. Dia bukan pria yang suka bertengkar terlalu lama. Tapi ada apa dengannya kali ini?
Apa dia benar-benar tidak ingin berhubungan lagi denganku? Kenapa dia diam saja? Kenapa dia tidak menghiraukan aku lagi?
Apa dia sungguh tidak perduli lagi padaku?
Randy POV
Aku begitu menyayanginya. Begitu sayangnya sampai aku tidak ingin menjauh darinya. Tapi apa yang terjadi padanya belakangan ini?
Apa aku terlalu sibuk hingga keberadaanku mulai memudar?
Kenapa dia tidak bicara jujur padaku? Kenapa dia menutupi perasaannya dan membohongiku?
Tapi kenapa dia bersikap seakan tidak terjadi apapun, lalu marah tanpa sebab saat pertemuan terakhir di cafe?
Dan pria itu, kapan Selena mengenalnya? Kenapa dia tidak memberitahuku, aku belum pernah melihat pria itu sebelumnya.
Tadi, saat melihatnya, hati ini begitu ingin menyapanya..melihat senyumnya lagi..tapi dia tidak bereaksi apapun. Aku ingin dia mengatakan segalanya, agar aku dapat memahami apa yang sesungguhnya ada di hatinya. Tapi kala aku mendiamkannya, diapun seolah tak perduli.
Kemana perginya segala kecemasan dan kerinduan yang dulu selalu ia tunjukkan saat aku belum ada kabar? Apakah memang kehadiranku tidak penting lagi baginya?
Dua hari lagi adalah hari pertandingan Randy, Viena masih ragu akankah ia menghadirinya atau tidak. Kebisuan di antara mereka membuat Viena merasa serba salah. Ingin ia kembali menegur Randy, atau kembali menghubunginya lagi seperti biasa. Tapi hatinya merasa sangat canggung. Ditambah reaksi Randy yang sepertinya tidak perduli membuat Viena semakin ragu untuk memulai pembicaraan.
Sementara itu ditempat berbeda, Jhones tengah berkumpul dengan team basketnya. Mereka akan latihan untuk pertandingan besok.
"Kita harus mempertahankan reputasi sekolah kita. Jangan sampai kita dikalahkan oleh team tuan rumah." Sahut sang kapten team.
"Ya benar. Kita tidak boleh membuat nama sekolah kita tercoreng. Kita harus berusaha sekuat tenaga untuk memperoleh kemenangan." Sahut yang lainnya.
"Ok..mari kita mulai latihan. Jangan membuang-buang waktu lagi. Satu menit itu sungguh berharga!"
Merekapun memulai latihan dengan pemanasan ringan. Semuanya terlihat begitu bersemangat, begitupun Jhones. Basket adalah olah raga favoritnya. Ia sangat bersyukur dapat bergabung dengan team basket sekolahnya, karena team ini terkenal dengan kemampuan mereka yang bisa membuat lawan kalah telak.