Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 82



"Bagaimana keadaan Fauzan? Dirimu meninggalkannya sendirian di rumah atau di tempat penitipan anak?" Nadira hampir melupakan anak kecil itu. Kemarin sore mereka bersama, menghabiskan makan sore bersama dengan sup buatan Naufal. Kini, secara tiba-tiba ia mengkhawatirkan keadaannya. "Apakah demamnya sudah turun?"


"Keadaannya sudah sangat membaik. Pagi tadi, ia sangat mandiri mempersiapkan dirinya sendiri sebelum berangkat ke tempat penitipan anak. Di saat aku sedang menyiapkan sarapan, ia bangun sendiri dari tempat tidurnya, mandi dengan air hangat yang telah aku siapkan, kemudian mematutkan dirinya sendiri dan setelahnya menghampiriku untuk sarapan bersama." Sesaat Naufal menghentikan obrolannya. Ia melepas tas yang berada di belakang tubuhnya lalu memindahkannya ke depan tubuhnya. "Melihat dia yang sangat pintar sekaligus lucu di satu waktu adalah anugerah untukku. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk terus menjaganya meski harus mengorbankan segala sesuatu milikku."


Nadira menyimak segala ucapan Naufal dengan saksama. Gelisah di hatinya mulai reda seiring lelaki itu mengoceh di sisinya.


"Bahkan, aku pernah secara terang-terangan memutuskan hubungan dengan seorang gadis yang sangat aku cintai demi Fauzan. Aku tidak peduli kalau harus kehilangannya meski aku sangat mencintainya, sebab Fauzan adalah segalanya." Naufal menyasar tatapannya pada sepasang manik mata Nadira. "Dia adalah aku, kami dialiri oleh darah yang sama, dan memprioritaskan hidupnya bukan hanya formalitas sebagai saudara, melainkan sebuah keharusan."


Langit sore itu dirundung mendung. Nadira melihat bagaimana awan kelabu mengiringi perjalanan pulangnya bersama Naufal di atas motor. Lambat laun, terasa rintik-rintik membasahi permukaan kulit. Mungkin tak lama lagi deras akan menyusul dan membuat mereka berdua basah kuyup.


"Hujannya semakin deras, Nadira. Apakah dirimu tidak keberatan apabila kita berteduh lebih dulu?" Naufal memekik sembari memelankan laju sepeda motornya. Ia sedikit menoleh ke belakang, memastikan Nadira mendengar dengan baik ucapannya. "Kita akan basah kuyup andai memaksa untuk menerjang hujan."


Nadira tak menjawabnya. Ia hanya mengangguk kepalanya, menyetujui ajakan Naufal barusan. Hingga akhirnya keduanya menepi di sebuah minimarket yang di pelatarannya pun digunakan oleh beberapa orang lainnya meneduh.


"Maaf, Nadira. Karena memintamu untuk menungguku merapikan berkas-berkas, dirimu harus pulang kehujanan seperti sekarang." Naufal merasa bersalah. Ia seharusnya bertanggung jawab atas kepulangan Nadira yang tepat waktu serta dalam keadaan selamat. Namun, hujan menjadi menghambat segalanya.


Naufal menganggukkan kepalanya. Ia senang berada di sisi Nadira yang selain berkepribadian tenang, gadis itu pun ternyata cukup memberikan kenyamanan bagi siapa saja yang berada di sekitarnya. Pantas saja, Farhan seorang lelaki misterius itu menjadikan Nadira sebagai sandaran di kala ia berduka hebat.


***


Sama halnya dengan keadaan Nadira dan Naufal yang tengah meneduh dari hujan lebat, Kesya beserta Arif pun melakukan hal yang sama. Keduanya tengah meneduh di halte yang sepi dan hanya menyisakan mereka yang kedinginan diterjang angin dari segala penjuru arah.


"Seharusnya aku dapat mengantarmu sampai rumah dengan tepat waktu, Kesya. Keadaan tubuhmu-"


"Aku tidak apa-apa," potong Kesya dengan cepat. Ia tidak ingin mendengar kalimat penyesalan dalam diksi apa pun dari mulut Arif. "Dirimu memacu motor dengan kecepatan sedang, karena dirimu tidak ingin membuatku celaka. Kemudian hujan ini. Kita tidak dapat memprediksinya karena langit mendung pun terkadang tak menurunkan hujan."


Arif lekas mengambil tubuh Kesya ke dalam dekapannya. "Setidaknya ini dapat sedikit menghangatkan." Ia tak membawa jaket atau pakaian semacam apa pun yang dapat menghangatkan. Yang menempel di tubuhnya hanyalah kemeja batik seragam sekolah, sama dengan yang dikenakan oleh Kesya saat ini. Namun, ia tahu bahwa gadis itu sedang membutuhkan sesuatu yang dapat menjaga suhu tubuhnya karena ia sedang sakit, dan yang Arif berikan hanyalah itu. Pelukannya.