Unconditional Love

Unconditional Love
Unconditional Love 106



"Tina, katakan kepadaku ada apa?" Farhan berjalan mendekati Tina, kemudian ia memegang kedua bahu gadis itu untuk memaksakannya berbicara. "Apakah rumahmu baru saja terkena musibah? Apakah tadi ada pencuri? Apakah dirimu dan Ibumu baik-baik saja? Kalian tidak ada yang terluka, kan?"


Tina menggelengkan kepalanya. Lagi-lagi air matanya turun dengan sesukanya, membuatnya tak berhasil menyembunyikan segalanya dari lelaki di hadapannya.


"Hei, mengapa dirimu menangis? Apakah aku menyakitimu?" Farhan bergerak memeluk tubuh Tina. Memberikan ruang untuk gadis itu memuaskan tangisnya. "Dirimu tidak perlu mengatakan apa pun jika memang tidak mau. Maaf karena aku memaksamu."


"Ayahku datang kemari." Tina menerima sekaligus membalas pelukan Farhan dengan erat. Ia berniat untuk menceritakan apa yang baru saja dialaminya dengan harapan setelahnya ia akan merasa lebih lega. "Dia datang untuk membawaku bersamanya."


"Lalu mengapa? Apakah dirimu merasa sedih karena harus meninggalkan Ibumu seorang diri?"


"Aku menolak ajakannya, Farhan. Ayahku adalah seseorang yang buruk. Dia berselingkuh, dia mengkhianati Bunda." Tangisnya terisak-isak, tak bersuara, tetapi semakin mengaliri air mata yang deras. "Seharusnya dia sudah bahagia dengan keluarga barunya. Namun, mengapa ia belum puas sehingga memintaku untuk membersamainya juga? Aku tidak dapat membayangkan bagaimana sakit hatinya Bunda selama ini. Ayah telah melukai hati Bunda berkali-kali."


Farhan turut berempati. Ia dapat melihat bagaimana sulitnya hidup Tina selama ini. Keluarga kecilnya tidak berhasil menjadi tempat berpulang yang dinanti, kepala keluarga yang seharusnya mampu mengayomi justru pergi meraih kebahagiaan dirinya sendiri. Tina pasti lelah merasakan drama di panggung dunia yang semakin hari semakin menghakiminya dengan sadis.


Farhan mempertahankan Tina di pelukannya beberapa waktu. Ia ingin memastikan gadis itu dapat benar-benar tenang dan merasa lebih lega setelah menceritakan segalanya. Toh, dalam hal ini Farhan tidak memiliki kuasa apa pun untuk membantu. Cukup menyediakan diri sebagai tempat bercurah saja mungkin lebih baik.


***


"Kesya, boleh aku bertanya sesuatu kepadamu?" Arif memandang wajah gadis di hadapannya dengan saksama. Ia melihat Kesya yang sangat cantik hari ini, meski riasannya telah luntur oleh keringatnya sendiri. "Apa dirimu bahagia?"


Kesya tersenyum singkat. Ia tertarik dengan pertanyaan unik yang Arif tujukan kepadanya saat ini. "Aku bahagia. Sangat-sangat bahagia. Memangnya ada apa?"


"Apakah dirimu masih mengharapkan Naufal menjadi milikmu setelah ada aku di sisimu? Kita memang sudah berkomitmen waktu itu, tetapi jujur saja aku tidak tahu bagaimana sesungguhnya isi hatimu." Arif hanya mengkhawatirkan apabila ternyata perasaan Kesya terhadap sang ketua osis masih menggebu-gebu, sebab terkadang lisan dan batin tidak mengatakan sesuatu dengan padu.


"Ini baru beberapa hari, Arif. Aku mohon kepadamu beri waktu lagi untukku dapat merasa biasa saja ketika tanpa sengaja berdekatan dengannya." Kesya memahami maksud tersirat dari pertanyaan Arif tersebut. Menurutnya wajar saja Arif mengkhawatirkan hal itu sebab mau bagaimanapun juga Arif adalah saksi dari segala tingkah waras hingga gila Kesya untuk meraih hati sang ketua osis. "Namun, sesungguhnya aku sangat bahagia denganmu. Karena bersamamu tidak ada lagi rasa sakit yang membuatku menangis berkali-kali."