
"Ibu berharap kalian dapat melangsungkan program kerja ini dengan maksimal. Kalian harus ingat bahwa langkah awal kalian saja sudah sedemikian hebatnya, bagaimana jika nanti pameran itu benar-benar berguna bagi mereka yang membutuhkan? Selain akan memberikan kebahagiaan kepada mereka, sekolah kita juga berpotensi memenangkan kembali nominasi sekolah unggulan." Bu Iis menatap penuh harap kepada Naufal dan Nadira. Senyumnya merekah, seolah apa yang ia katakan sungguh akan terwujud melalui upaya-upaya anak didiknya.
Sejenak Naufal menoleh ke sampingnya, memberikan senyum manisnya kepada sekretarisnya. "Kami akan selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik, Bu." Wajah Naufal tampak berseri mengiringi keoptimisannya.
***
Koridor sekolah tampak sepi sebab jam pulang telah berlalu. Yang tersisa di sana hanyalah Naufal dan Nadira yang tengah berjalan beriringan untuk menuju tempat parkir bersama-sama.
"Apakah perlu untukku berpamitan dengan orang tuamu terlebih dahulu sebelum mengajakmu pergi bersamaku?" tanya Naufal setelah tiba di tempat parkir motornya.
"Aku rasa tidak perlu, Naufal. Aku telah berpamitan terlebih dahulu dengan orang tuaku jika aku akan pulang terlambat hari ini," jawab Nadira dengan senyum simpul yang tersemat pada bibir ranumnya.
Naufal mengangguk paham selepas mendengar jawaban Nadira. Lantas setelahnya lelaki itu bergegas menyiapkan kuda besi yang akan membawanya beserta Nadira menuju suatu tempat bersama-sama. "Kalau begitu ayo kita segera pergi," ajaknya.
Nadira sontak mengiakan ajakan Naufal dengan segera berbonceng pada lelaki itu. Kedua tangannya pun perlahan-lahan mencari pegangan yang pas dirasanya, tetapi dengan cepat Naufal menarik salah satu tangan Nadira dan memberikan perintah agar gadis itu.
"Berpegangan saja di sini," ucap Naufal seraya membawa satu persatu tangan Nadira agar melingkar pada perutnya. "Jika seperti ini, maka aku dapat memastikan dirimu benar-benar dalam keadaan aman. Sebab mau bagaimanapun juga aku telah berjanji pada Tina untuk menjagamu," imbuhnya menerangkan.
Nadira tak memberikan perlawanan. Gadis itu menerima segala arahan Naufal, termasuk dengan permintaan lelaki itu agar Nadira memeluknya dari arah belakang.
"Apa seperti ini membuatmu merasa keberatan, Nadira? Aku hanya berusaha untuk membuatmu nyaman. Namun, apabila dirimu tidak senang, dirimu dapat berpegangan dengan yang lainnya," tutur lelaki itu berniat memastikan Nadira menerima sarannya.
***
Di sepanjang perjalanan Naufal dan Nadira tidak begitu banyak melontarkan percakapan. Entah dikarenakan canggung atau memang tidak memiliki topik pembicaraan yang berarti, keduanya seolah enggan untuk membuka suara terlebih dahulu.
Kondisi jalanan pada sore hari itu terpantau tidak begitu ramai. Lalu lalang kendaraan yang lain terlihat teratur dengan rata-rata kecepatan sedang. Cuaca sore itu pun terasa hangat dengan sorot cahaya matahari terbenam di ufuk barat.
"Bagaimana dengan Kesya? Apakah tadi dia kembali menyakitimu?" Naufal tidak memiliki topik pembicaraan yang lain. Hanya pertanyaan itu yang tersedia dalam benaknya, dan sekaligus menurutnya paling patut untuk dibahas.
Di belakang tubuh Naufal, Nadira menggelengkan kepalanya sebab ia tahu lelaki di depannya itu tengah memperhatikannya lewat kaca spion. "Jangan membahas itu. Saat ini kita sedang bersama, jadi lebih baik kita membicarakan persoalan kegiatan pameran, atau yang lainnya." Sejenak Nadira menghentikan ucapannya untuk menata ulang helaian rambutnya yang berterbangan menutupi wajahnya. "Kabar adikmu misalnya," imbuhnya.
"Apa kamu ingin bertemunya? Aku dapat menjemputnya dari Tempat Penitipan Anak saat ini juga apabila dirimu ingin menemuinya," jawab Naufal dengan antusias. Ia senang apabila adiknya mendapatkan teman bermain atau bercerita, sebab ia tahu bagaimana adiknya begitu kesepian.
Nadira tak langsung mengiakan atau menolaknya. Ia tampak berpikir sejenak, lalu bertanya, "mengapa di Tempat Penitipan Anak? Apakah tidak ada yang mengasuh adikmu di rumah?"
"Kedua orang tuaku sering berangkat pergi untuk urusan pekerjaan di luar negeri, dan aku yang bertugas mengasuh Fauzan jika mereka sedang tidak berada Indonesia. Jika diingat-ingat, Fauzan telah sering ditinggal seperti ini sejak usianya lebih dari dua tahun. Keluarga kami pun sepakat untuk tidak mengambil jasa pengasuh di rumah, sebab kami kurang percaya jika ia dapat menjaga Fauzan dengan baik," terang sang ketua osis itu.
Sesaat kagum memenuhi benak dan batin Nadira. Ia tidak menyangka jika sifat tanggung jawab Naufal sangat patut dipertimbangkan. Jika dihitung-hitung, Naufal telah mengasuh adik kecilnya sejak masih berada di bangku sekolah menengah pertama, dan untuk remaja seusia tersebut justru kebanyakan lebih mementingkan pertemanannya.
"Bukan tanpa alasan keluarga kami memilih Tempat Penitipan Anak untuk menjaga Fauzan sejenak kita aku berada di sekolah. Hal ini kami lakukan sebab Tempat Penitipan Anak yang kami pilih memiliki beberapa macam aktivitas pembelajaran yang ramah anak, dan berpotensi meningkatkan perkembangan kognitifnya," imbuh lelaki itu lagi.