Unconditional Love

Unconditional Love
Chapter 8



Randy membawa Viena ke tempat favorit mereka. Selama perjalanan Viena tidak bicara apapun, ia hanya tertunduk. Randy memperhatikan Viena dengan rasa penasaran, tapi setidaknya sekarang Viena sudah sedikit tenang.


Mereka sampai di pantai, Viena sangat menyukai


suasana di pantai. Deru ombak dan semilir angin serta kicauan burung yang beterbangan membuat Viena begitu nyaman.


Randy berdiri di samping Viena,perlahan meraih tangannya dan mengenggamnya erat. Viena membiarkan Randy menggandengnya. Setelah menarik nafas panjang, Viena mulai memberanikan diri untuk bicara.


“Randy, ada sesuatu yang ingin aku ungkapkan padamu. Tapi sebelumnya aku minta maaf sekiranya semua pengakuanku mungkin akan membuatmu merasa dibohongi.” Viena berhenti sejenak, menatap Randy yang tampak begitu serius mendengarkan setiap kata dari bibir Viena. Viena menilik mata Randy, ia melihat rasa penasaran yang besar disana.


“Hmmm..begini…,”Viena kembali melanjutkan ucapannya,


“Selama ini jujur aku sangat terganggu dengan kegiatan basketmu. Aku bangga, kamu seorang pemain yang handal dan kamu juga pemimpin team sekolah kita. Namun dibalik itu semua, aku merasa benar-benar terganggu. Dimulai dari keseharianmu yang selalu sibuk latihan, terlebih menjelang pertandingan kamu seakan tidak ada waktu lagi untukku. Aku kesepian Randy..”


Viena menghela nafas sejenak, sementara Randy tetap tenang mendengarkannya.


“Aku tau kamu begitu mencintai basket...seakan semua kebahagiaanmu bertumpu disana. Setiap kali aku melihatmu bermain, aku bisa merasakan betapa pentingnya basket bagimu. Aku berusaha sekuat hatiku untuk tidak egois dan berusaha menerima basket sebagai bagian dari hidupmu. Belajar mencintainya seperti kamu mencintainya, berusaha mencari sesuatu yang mungkin bisa membuatku tertarik. Tapi tidak, aku lelah mencari dan tak menemukan satu hal pun yang aku senangi dari basket!”


Matahari mulai condong kebarat, perlahan sinar kuning kemerahan mulai mewarnai langit senja itu. Perlahan matahari itu terbenam dan menghilang ditengah lautan. Viena begitu menyukai pemandangan itu. Matanya menatap lurus kedepan memperhatikan sang mentari yang perlahan mulai lenyap dari pandangan dan membuat suasana di sekitar mulai temaram.


Randy membiarkan Viena terhanyut dengan pemandangan itu. Ia tau Viena begitu menyukainya. Perlahan tangannya merengkuh bahu Viena dan menarik Viena sehingga merekapun bertatapan.


“Vien,” ucap Randy lembut sembari mengusap pipi Viena.


“Maafkan jika selama ini aku tidak benar-benar memahami dirimu. Aku berpikir semuanya tidak masalah, karena kamu selalu kelihatan antusias ketika aku bercerita tentang basket. Sungguh aku tidak tau kamu merasa terabaikan karena kesibukanku. Selama ini aku merasa kamu selalu mendukungku karena kamu tau betapa pentingnya basket bagiku. Tapi ternyata aku malah membuatmu serba salah. Tolong maafkan aku, Vien..”


“Aku yang salah,”ucap Viena tiba-tiba. “Harusnya aku jujur padamu. Harusnya aku tidak membiarkan semuanya jadi seperti ini. Dan seharusnya juga aku tidak mencari apa yang tidak aku dapat darimu pada orang lain.” Viena mulai terisak. Perlahan air mata turun membasahi pipinya. Randy menyekanya perlahan dan merapikan rambut Viena yang sedikit berantakan tertiup angin.


“Vien, aku tidak menyalahkanmu.” Kita menjalani segala sesuatunya berdua. Jika terjadi sesuatu, itu adalah kesalahan kita berdua. Tolong jangan menyalahkan dirimu sendiri seperti ini.”


Randy menatap lembut Viena dan meraihnya dalam pelukannya.