
Arif bersama Kesya melalui jalanan kota dengan semilir angin yang berembus menggelikan. Di atas motor itu keduanya sama-sama bergeming, masih tak selera untuk berbincang selepas percakapan terakhir mereka. Baik Arif maupun Kesya, keduanya serasi membatin dan mengoceh ria dalam benak yang entah tentang apa. Hingga sampainya tujuan menjadi alasan untuk salah satu dari keduanya membuka suara.
"Bagaimana jika kita makan di sini saja?" tanya Arif sembari menatap teduh wajah Kesya melalui kaca spion motornya.
Kesya hanya menganggukkan kepala seraya mengulas senyumnya yang begitu tipis dan hampir tidak terlihat. Gadis itu tampak berbeda dari sebelumnya, dan Arif telah kehabisan akal untuk menghiburnya.
"Kita bisa pergi ke tempat yang lain jika dirimu tidak terlalu berkenan di sini," ucap Arif lagi. Namun, kali ini berharap Kesya mau memberikan responsnya.
Kesya tak langsung menjawab, ia justru lekas turun dari motor Arif dan melepas helm yang dipakainya. "Jangan terlalu memikirkan aku. Jangan terlalu mempertimbangkan apakah aku menyukainya atau tidak. Karena seharusnya kamu tahu bahwa aku sama sekali tidak memiliki izin untuk merepotkanmu sampai seperti ini," jawabnya di luar dugaan.
Arif menyusul pergerakan Kesya setelah memastikan motornya terjagang dan terparkir dengan baik. "Ada apa denganmu, Kesya? Kumohon berhenti seperti ini, berkata yang bukan-bukan, dan berkesan menyalahkan dirimu saja."
Kesya menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Ini tidak hanya sekadar berkesan, melainkan memang benar. Aku adalah pihak yang sal-"
"Tidak." Arif menyahut seraya menutup mulut Kesya dengan jari telunjuknya. "Apa yang dirimu katakan tidak benar, dan aku ingin kita akhiri saja perbincangan yang aneh ini," pintanya.
Kesya tidak membantah maupun melawan. Ia tak banyak beraksi pada hari ini, dan Arif merasa tidak nyaman dengan sesuatu yang berbeda itu.
"Kita datang untuk makan, bukan? Untuk itu, ayo!" ajaknya seraya menggandeng tangan Kesya dan sedikit menariknya agar gadis itu mengikuti langkahnya menuju kafe klasik di hadapannya.
"Hey, Jagoan," panggil Naufal lirih, tepat di sisi telinga kanan Fauzan.
Lelaki kecil itu sontak mengejapkan matanya, kemudian setelah tersadar ia disambut oleh wajah Naufal yang begitu dekat dengan pandangannya. "Kak," jawabnya dengan suara parau. "Fauzan menunggu Kakak sejak tadi. Fauzan ingin segera berbaring di ranjang Fauzan di rumah," imbuhnya.
Naufal menganggukkan kepalanya. "Maafkan Kakak," ucap Naufal menyesal. "Bagaimana keadaanmu? Apakah sudah cukup baik untuk dirawat di rumah? Atau kita pergi ke rumah sakit saja?"
Fauzan berusaha bangkit dari rebahnya di atas sofa tersebut. "Keadaan Fauzan sudah sangat baik, Kak." Anak laki-laki itu menunjukkan senyumnya. Sangat manis meski ia tengah sakit. Tak lama setelah mengucapkan itu, pandangannya beralih pada keberadaan Nadira yang tak jauh di sisi kakaknya. "Kak Na, apakah Kakak datang kemari untuk bertemu dengan Fauzan?"
Nadira merendahkan tubuhnya dengan berlutut di hadapan Fauzan, di samping Naufal. "Awalnya begitu." Nadira mengangguk kepalanya. "Kakak ingin bermain dan bercerita banyak dengan Fauzan, tapi rasanya itu tidak dapat kita lakukan sekarang," imbuhnya menyesal.
Namun, Fauzan dengan cepat membantah, "tidak, itu tidak benar, Kak Na. Kita tetap bisa lakukan itu di rumah, di rumahku dan Kak Naufal. Ayo kita pulang sekarang." Anak itu terlihat begitu bersemangat dan berusaha mengesampingkan rasa sakitnya.
Mendengar hal itu Naufal sontak menatap Nadira. Berharap rekannya itu berkenan mengiakan ajakan Fauzan untuk bertandang ke rumah meski hanya sebentar. Sebab entah mengapa dirinya pun menginginkan Nadira berada di sekitarnya, ia tidak ingin gadis itu meninggalkannya lebih cepat.
"Ayo!" Dan Nadira menyetujuinya. Tak hanya membuat Fauzan senang, melainkan juga dengan Naufal.