The Journey To Become The Strongest

The Journey To Become The Strongest
Chapter 77 — Jalan Keluar



Lian Haocun mengernyitkan keningnya, “Sambutan?”


Chao Bence menjawab sambil mengelus kepala Cheng, “Hm, master akan mengerti nanti. Nah, sekarang mari kita mencari jalan keluar.”


Setelah Chao Bence mengatakan itu, Hutan Mofa yang awalnya terlihat jelas, mulai diselimuti oleh kabut tebal yang misterius. Kerutan di kening Lian Haocun tampak semakin erat melihat apa yang terjadi di hadapannya.


Chao Bence menenangkan Lian Haocun, “Tenanglah..., jika kedua bocah itu tidak berbuat sesuatu yang buruk, mereka tidak akan terkena masalah.”


'Dan mereka juga tidak akan berani menyakitinya.' Lanjut Chao Bence di dalam hati.


Lian Haocun, “Apa yang harus dilakukan sekarang?”


Chao Bence, “Mencari jalan keluar dari kabut ini.”


Lian Haocun, “Kau mengetahui caranya?”


Chao Bence menggelengkan kepalanya tidak tau.


Lian Haocun, “Kau pernah ke sini, bukan?”


Chao Bence berkata, “Memang pernah, tapi mereka tidak melakukan ini untuk menyambutku.”


‘Jadi sambutan ini hanya untuk orang.’ Batin Lian Haocun.


Chao Bence melanjutkan, “Mereka pasti akan memberikan keringanan ah..., soalnya kan ada aku yang bersama kalian. Master dan kedua bocah itu benar-benar harus bersyukur.”


Lian Haocun, “...” Orang ini benar-benar tidak tau malu.


Lalu Chao Bence mulai mengoceh di sepanjang perjalanan saat Lian Haocun mencoba menembus kabut tebal. Tentu Lian Haocun juga menandai pohon-pohon yang dilewatinya dengan tanda ‘X’, agar Lian Haocun bisa memperkirakan arah tempat ia berjalan.


Sementara Chao Bence mengikuti di belakang Lian Haocun dengan sangat santai. Dia bahkan bermain-main dengan Cheng saat Lian Haocun sedang menandai sebuah pohon.


Mereka berjalan sekitar setengah jam tanpa henti, namun mereka tidak berhasil menemukan jalan keluar sama sekali. Kabut-kabut tetap terlihat, tidak peduli seberapa cepat maupun jauh mereka berjalan.


Apalagi pemandangan hutan-hutan dengan kabut tebal menyelimutinya benar-benar terlihat sangat mirip satu sama lain, sehingga membuat Lian Haocun berkali-kali mencurigai bahwa mereka melewati jalan yang sama.


Tetapi Lian Haocun tidak dapat menemukan tanda-tanda ‘X’ yang sudah ia tandai di pohon. Jadi Lian Haocun tetap berjalan sambil memutar otaknya dengan sangat keras untuk mencari petunjuk sambil tetap mengawasi sekitarnya. Sedangkan Chao Bence masih berceloteh sambil bermain dengan Cheng kecil.


Semakin lama mereka berjalan, Lian Haocun menemukan bahwa kabut tebal yang menyelimuti Hutan Mofa agak memudar. Jadi, Lian Haocun melangkahkan kakinya lebih cepat tanpa memedulikan Chao Bence yang berada di belakangnya.


Chao Bence yang terpaksa berjalan lebih cepat, berkata, “Master..., kau tidak perlu begitu tegang... Adik kembarmu akan baik-baik saja.”


Tiba-tiba pemandangan yang di hadapan mereka sedikit berubah. Kabut menjadi lebih tipis dan bidang penglihatan Lian Haocun menjadi lebih luas. Mata Lian Haocun langsung terpaku pada laki-laki tua berambut putih yang sedang duduk memancing di dekat sungai yang berwarna sangat indah.


Kakek tua menyadari keberadaan Lian Haocun, Chao Bence serta Cheng dan langsung meminta mereka untuk duduk di sampingnya. Lian Haocun ragu sejenak sebelum memutuskan untuk duduk.


Kakek tersebut terlihat sudah sangat tua, wajahnya dipenuhi keriput dan rambutnya sudah banyak memutih, tetapi ekspresi wajahnya tetap dipenuhi keramahan dan kebaikan. Laki-laki tua itu bertanya, “Kenapa kalian datang ke hutan ini?”


Lian Haocun menjawab tanpa berpikir dan tanpa ragu, “Menawarkan kerja sama yang saling menguntungkan.”


Wajah Kakek masih tenang dan ia menjawab dengan ‘Oh’ singkat. Lalu laki-laki tua itu menatap Lian Haocun dan bertanya, “Nak.., aku memiliki empat pertanyaan untukmu. Apa kau bersedia menjawabnya?”


Lian Haocun menganggukkan kepalanya tanpa ragu-ragu.


Kakek tua itu mengalihkan pandangannya ke air yang sangat indah dan mulai bertanya pertanyaan pertama, “Apa kau pikir warna air ini sangat indah?”


Lian Haocun menatap air dan menjawab, “Aku tidak memedulikan apa itu indah atau tidak, kalau itu berbahaya bukankah keindahan itu hanya jebakan semata?”


Kakek tua terkekeh pelan dan berkomentar, “Jawabanmu sangat menarik, Nak... Kalau begitu pertanyaan kedua, apa menurutmu kau sendiri adalah orang yang baik?”


Lian Haocun tanpa ragu menggelengkan kepalanya.


Kakek tua terkekeh lagi dan berkata, “Kau sangat jujur..., Nak. Kalau begitu pertanyaan ketiga, kenapa kau membunuh binatang-binatang ajaib itu?”


Saat menanyakan pertanyaan ketiga, mata Kakek tua menjadi serius dan tajam. Suasana juga menjadi sedikit tegang dan terasa sangat serius, namun tumben-tumbennya kali ini Chao Bence tidak menghancurkan suasana.


Lian Haocun tanpa ragu-ragu menjawab, “Untuk menjadi lebih kuat.”


Kakek tua tersenyum namun Lian Haocun mengetahui bahwa matanya tidak ikut tersenyum.


Kakek tua menanyakan pertanyaan terakhir, “Kalau begitu untuk apa kau menjadi lebih kuat?”


Lian Haocun menjawab langsung, “Aku tidak bisa memberitahumu.”


Kakek tua itu berniat mengatakan sesuatu lagi, namun Chao Bence menyelanya dengan sebuah peringatan, “Kakek tua~~~, master-ku sudah sangat baik bukan, menjawab pertanyaan-pertanyaanmu dengan sangat sabar..., biasanya dia bahkan sangat jarang menjawab pertanyaan dari saya...,” Kata Chao Bence sambil tersenyum.


Lalu Chao Bence melanjutkan dengan tatapan agak tajam dan berbahaya, walaupun senyum masih mengembang di wajahnya yang menciptakan gambaran yang terlihat ber-kontradiksi dan terasa menakutkan serta mengerikan, “Jadi~~, kakek tua ini harus bermurah hati, bukan? Ini untuk menjaga harga diriku juga, ah!”


Kakek tua menyipitkan matanya dan menanggapi Chao Bence dengan senyum ramah di wajahnya. Chao Bence juga menanggapi senyum kakek tua dengan senyum yang sama ‘ramah’-nya. Lian Haocun merasa bahwa ada percikan listrik tidak terlihat dari mereka yang saling berhadapan.


Kakek tua menghela nafas, yang Lian Haocun tidak tau itu helaan nafas lega atau kesal. Lalu kakek tua itu berkata dengan nada ramah yang terasa dingin, “Kalau begitu silakan kalian lewat, tapi kalian lewat, bukan berarti dua orang lainnya lewat juga.”


Setelah mendengar perkataan kakek tua, Lian Haocun ingin menanyakan detail yang lebih jelas kepada kakek tua, namun pemandangan hutan penuh kabut dan kakek tua itu tiba-tiba menghilang begitu saja, digantikan oleh pemandangan Hutan Mofa yang sangat indah. Seakan-akan hal-hal tadi tidak pernah terjadi dan hanya khayalannya saja.


Chao Bence menenangkan Lian Haocun, “Tidak perlu khawatir, master. Kedua bocah itu baik-baik saja... Mereka tidak akan berani mengganggu orang yang bersamaku.”


Mata Chao Bence mengeluarkan aura yang tajam dan mengancam. Seakan-akan dia bukan hanya menenangkan Lian Haocun, yang sebenarnya tidak terlihat panik maupun cemas sama sekali, tetapi Chao Bence juga memperingatkan penghuni Hutan Mofa untuk tidak berani mengganggu orang-orang yang datang bersamanya.