
Lian Haocun dan Lian Huanran berkultivasi, berburu binatang ajaib untuk pengalaman bertarung dan berlatih gulungan yang didapatkan dari Shen Wenhuan.
Peningkatan kembar keluarga Lian cukup mengesankan, Lian Haocun bisa mengeluarkan 80% hingga 90% Gerakan Pertama Gulungan Gerakan Teratai Biru yang bisa dibilang sangat luar biasa dan ia juga mulai mempelajari Gerakan Kedua Gulungan Gerakan Teratai Biru meskipun pemahamannya belum cukup tinggi saat ini untuk mengeluarkan seluruh kekuatan yang terdapat di dalam Gerakan kedua.
Sedangkan Lian Huanran memiliki pemahaman yang bagus mengenai teknik pertama yang ia pelajari sehingga dia bisa mengeluarkan sekitar 50% hingga 70% kekuatan di dalam teknik Panah Api Merah.
Meski masih tidak bisa dibandingkan dengan pencapaian luar biasa Lian, bakat Lian Huanran untuk mengeluarkan kekuatan teknik Panah Api Merah diatas 50% dalam kurun waktu 3 bulan berlatih sudah sangat bagus. Sehingga bahkan bisa membuat sedikit kegemparan di sekte-sekte tingkat atas.
Bukan hanya itu, Lian Haocun mencapai tingkat Foundation Building stage 4 dengan kecepatan yang menentang surga, 6 bulan saja. Bahkan seseorang dengan bakat khusus sekalipun hanya bisa mencapainya setelah sekitar 2 tahun.
Meski Lian Huanran tidak memiliki peningkatan terhadap kultivasi nya, Lian Huanran merupakan seseorang dengan bakat yang bahkan akan diincar oleh sekte-sekte kelas atas dan bisa dibilang menakjubkan.
Walaupun masih tidak bisa dibandingkan dengan Lian Haocun yang terlalu luar biasa hingga mampu disebut mengerikan. Dan begitulah kurun waktu 3 bulan yang diberikan Shen Wenhuan selesai.
...****************...
“Kakak, waktunya makan!” Teriak Lian Huanran memanggil Lian Haocun yang menjelajahi Pegunungan Yama di sekitar Gua tempat Lexie tinggal.
Di sisi Lian Huanran terdapat Lexie yang berekspresi muram dan sedih meski sudah ditutupi dengan senyuman dan aura lembutnya bersama dengan Harimau Kuning Bersayap kecil yang berwarna putih salju, Bai dan Cheng, Harimau Kuning Bersayap kecil yang berwarna jingga.
Bai dan Cheng berbaring di dekat Lexie seakan-akan tidak akan bisa dipisahkan. Lexie mengelus Bai dan Cheng satu persatu sambil mencoba meringankan rasa sedih di dalam hatinya.
Aroma harum dari makanan yang dimasak Lian Huanran segera menyerbu ke indra penciuman Lian Haocun ketika ia semakin dekat dengan Lian Huanran, Lexie dan anak kembarnya. Lian Haocun melirik Lian Huanran dan Lexie sebentar lalu duduk bersila tidak jauh dari tempat mereka berada hingga mereka duduk bertiga berhadap-hadapan.
Makanan yang dimasak oleh Lian Huanran memiliki porsi yang cukup banyak sehingga Lian Haocun mau tidak mau bertanya, “Apa Bai dan Cheng sudah bisa memakan daging?”
Lian Huanran menjawab sebelum Lexie sempat menjawab, “Iya. Mereka sudah bisa memakannya.”
Lian Haocun menanggapi dengan ‘Hm’ singkat.
Lexie berkata kepada Bai dan Cheng dengan nada lembut dan kasih sayang, “Ayo makan.”
Bai dan Cheng segera menerkam daging yang dimasak oleh Lian Huanran dengan semangat dan memakannya lahap membuat Lexie dan Lian Huanran tertawa kecil dan menggoda Bai dan Cheng.
Bai dan Cheng yang masih belum bisa berbicara hanya bisa mengaum mengancam, tetapi di mata Lian Huanran mereka berdua terlihat sangat imut hingga membuat Lian Huanran ingin memeluknya.
Melihat sikap Kakaknya, Lian Huanran menempatkan Bai di pangkuan Lian Haocun membuat tubuh Lian Haocun menjadi kaku. Lian Huanran segera menyadarinya dan mengambil Bai kembali, tetapi dia menertawakan dan mengejek Lian Haocun dengan nada bercanda saat makan.
Suasana antara binatang ajaib dan ras manusia itu sangat harmonis, namun di bawah suasana harmonis itu terdapat atmosfer kesedihan yang dipertahankan hingga makanan habis.
Lexie mengetahui bahwa waktunya sudah tiba, bagaimanapun dia tidak bisa menunda Lian Haocun dan Lian Huanran meskipun dia menginginkannya untuk bersama anak-anaknya lebih lama. Lexie mengusap Bai dan Cheng dengan kepalanya untuk terakhir kalinya, walaupun Lexie tidak mengeluarkan air mata, Lian Haocun dan Lian Huanran bisa merasakan kemuraman dan kesedihan dari mata Lexie.
Lian Huanran bertanya spontan setelah melihat mata Lexie yang mencerminkan perasaannya yang sebenarnya, “Apa kau yakin tidak mau ikut?”
Lexie menggelengkan kepalanya dan berkata, “Tidak... Terima kasih..., tolong jaga mereka.”
Lian Huanran mengangguk diikuti dengan Lian Haocun. Lexie tersenyum lalu menatap Bai dan Cheng, mengukir mereka ke ingatannya untuk terakhir kalinya. Seakan merasakan sesuatu, Bai dan Cheng menempel erat-erat dengan Lexie tidak membiarkannya pergi. Ikatan antara anak dan ibu memang tidak terpisahkan.
“Kalian harus menjaga diri kalian baik-baik, ok?”
Mata Lexie memerah mengatakan itu, merasakan keinginan untuk menangis, Lexie menahannya mati-matian supaya bisa meninggalkan gambaran terakhir yang baik di depan anak-anaknya. Bai dan Cheng semakin memegang Lexie erat dengan kedua kaki kecil mereka masing-masing, tidak berniat melepaskannya dan berkata berulang kali melalui auman kecil mereka yang imut,
“Ibu! Ibu! Jangan pergi! Jangan pergi!”
Lian Huanran yang tidak tahan, berkata membujuk Bai dan Cheng, “Ayo kemari.”
Bai dan Cheng memegang Lexie semakin erat, mata binatang ajaib kembar yang baru melihat dunia dua bulan lebih itu memerah, bahkan terlihat air mata di pelupuk mata Bai dan Cheng membuat mereka terlihat sangat sedih.
Mau tidak mau Lian Huanran mendekati mereka dan dengan paksa menggendong mereka, Lexie berkata untuk terakhir kalinya ke Lian Haocun dan Lian Huanran, “Kuserahkan pada kalian.”
Lalu pergi ke dalam pegunungan Yama yang luas. Air mata turun dari matanya saat Lexie berlari perlahan menjauh dari anak-anaknya. Sedangkan Bai dan Cheng mencoba melepaskan diri dari Lian Huanran sambil mengulurkan kaki kecil mereka ke arah Lexie pergi dan berkata dengan auman kecil yang terdengar menyedihkan.
Lian Haocun menyaksikan dengan acuh tak acuh, tetapi suasana hatinya terasa sedikit lebih berat. “Ayo pergi.”
Lian Haocun berkata sambil berjalan menuju perbatasan Pegunungan Yama sedangkan Lian Huanran menenangkan Bai dan Cheng yang menangis sambil mengikuti Lian Haocun.
Meski bertemu binatang ajaib yang menyerang berkali-kali, Lian Haocun memusnahkan mereka dengan mudah ditambah hatinya dipenuhi dengan emosi yang tidak ia mengerti membuatnya menyalurkan emosinya melalui pembunuhan kepada binatang ajaib yang menyerangnya.