The Journey To Become The Strongest

The Journey To Become The Strongest
Chapter 152 — Sikap Acuh Tak Acuh atau Keangkuhan?



Zhong Xia menggeram kesal di dalam hati, lalu mengubah ekspresinya 180°.


“Maafkan tindakan kekurangajaranku sebelumnya...” Kata Zhong Xia dengan nada minta maaf yang 'tulus'. Namun Lian Haocun mengetahui, tidak ada ketulusan di mata Zhong Xia saat mengatakan itu.


Lian Haocun tidak menanggapi permintaan maaf Zhong Xia, ia hanya mengangguk singkat kepada petugas keamanan yang melindunginya, lalu langsung pergi menuju petugas resepsionis.


Terjadi kericuhan saat Lian Haocun dengan santainya melewati kerumunan tanpa rasa bersalah. Pasalnya, tindakan Lian Haocun tadi, bisa dikatakan sangat angkuh, terlepas dari apakah pernyataan minta maaf Zhong Xia tulus mau pun tidak. Zhong Xia tetaplah seorang murid tetua yang dihormati oleh semua anggota Sekte Serigala Giok.


Tetapi, tentu, Lian Haocun tidak memedulikan pendapat orang lain tentang dirinya, ia mengantre sebentar, sebelum memulai pertandingan selanjutnya. Kali ini, Lian Haocun tidak menantang seseorang dengan peringkat tertinggi di distrik itu, ia menantang seseorang dengan peringkat platinum.


Beberapa orang yang menonton pertandingan Lian Haocun dan Zhong Xia, memperhatikan pertandingan Lian Haocun selanjutnya dengan penuh minat. Sayangnya, karena lawan Lian Haocun yang bisa dikatakan rata-rata, tidak ada pertarungan yang benar-benar menakjubkan dan menyenangkan untuk ditonton. Lama-kelamaan pun, sekelompok orang yang tertarik untuk melihat kemampuan Lian Haocun, pergi dan menonton pertandingan lain di distrik tersebut.


Saat Lian Haocun menyelesaikan pertandingan ke sekian kalinya, perhatian banyak orang yang ditujukan kepadanya sudah banyak menghilang. Kegemparan dan kericuhan yang disebabkan pertarungan Lian Haocun dan Zhong Xia pun perlahan-lahan mulai menghilang, namun menciptakan lubang untuk reputasi sempurna Zhong Xia.


Tanpa wajah senang yang seharusnya dimiliki oleh seorang pemenang, Lian Haocun keluar dari ring dan menuju meja resepsionis. Karena saat itu sudah hampir sore hari, distrik emas tidak seramai sebelumnya. Tanpa perlu mengantre lagi, Lian Haocun mendapatkan kembali kartu poin miliknya.


“Peringkatmu saat ini adalah platinum bintang delapan, kau membutuhkan tiga bintang lagi untuk naik peringkat menjadi zamrud. Untuk bertarung selanjutnya silakan pergi ke distrik platinum. Terima kasih sudah mengunjungi distrik emas, jaga dirimu.” Ucap petugas dengan sikap profesional.


Lian Haocun menganggukan kepalanya mengerti, lalu matanya mulai menjelajahi ring-ring di distrik emas. Bagaimanapun sebelumnya ia datang bersama Qian Wenwu, dan harus kembali bersama Qian Wenwu juga. Kalau tidak, mungkin Lian Haocun akan dimarahi oleh adik kembarnya.


Senjata yang digunakan oleh Qian Wenwu agak unik, dan tidak umum. Itu adalah tongkat dari bambu. Qian Wenwu menggerakkan tongkat itu seakan-akan itu adalah senjata tombak yang tajam. Lian Haocun juga bisa merasakan wibawa Qian Wenwu kala menggunakan tongkat tersebut untuk menyerang lawan.


‘Cukup menarik. Wajar jika ia bisa mencapai emas semudah itu.’ Batin Lian Haocun sambil menyaksikan pertarungan Qian Wenwu.


Sesuai yang diprediksi oleh Lian Haocun, Qian Wenwu menang dengan cukup mudah. Setelah Qian Wenwu keluar dari ring, sosoknya yang tampak tegas dan berwibawa, digantikan dengan sosok yang tampak pemalu dan rendah hati.


Lian Haocun menghampiri Qian Wenwu yang baru keluar dari ring, dan dengan nada datar, berkata memuji, “Kemampuan yang bagus.”


Saat pertarungan tadi, Qian Wenwu tidak pernah menggunakan elemennya sekali pun, yang berarti, ia murni memenangkan pertandingan dengan tongkat bambunya! Tentunya, mengalahkan lawan murni dengan senjata saja sudah membuktikan kemampuan orang tersebut dalam mengendalikan senjata tersebut.


Qian Wenwu menundukkan kepalanya malu-malu, dan dengan wajah yang sedikit memerah, ia berkata terbata-bata, "T-ter-ima ka-sih..."


Bagaimanapun, ini pertama kalinya Qian Wenwu menerima pujian dari orang lain selain Yun Shao, jadi ia agak terkejut, meski nada suara Lian Haocun tidak seperti seseorang yang mengucapkan pujian, Qian Wenwu merasa lebih percaya diri.


Lian Haocun dan Qian Wenwu sepakat untuk kembali, dan mencari Lian Huanran, Long Yuan, dan Yun Shao. Setelah menemukan mereka bertiga, bersama dengan Bai dan Cheng, mereka kembali ke asrama untuk beristirahat. Tentu, hanya Lian Haocun yang melanjutkan aktivitasnya dengan berkultivasi.


Tanpa terasa, tiga hari berlalu secepat air mengalir, dan hari perjanjian temu dengan Shen Nong tiba.