The Journey To Become The Strongest

The Journey To Become The Strongest
Chapter 205 – Ratu Peri



Lian Huanran tidak langsung menjawab, tetapi ia mengatur nafasnya terlebih dahulu. Kemudian, dengan sedikit terbata-bata, Lian Huanran menceritakan apa yang terjadi. Tes Lian Huanran berkaitan dengan ingatan.


Ketika Lian Huanran memulai tes-nya, semua ingatan Lian Huanran menghilang. Ia tidak mengingat namanya, ataupun mengapa ia bisa berada di sana.


Hari-hari penuh kekosongan dan kehampaan itu berlalu tanpa terasa bagi orang lain. Akan tetapi bagi Lian Huanran sendiri, sehari terasa seperti beberapa tahun. Tanpa ingatan, Lian Huanran benar-benar tidak tau apa yang harus ia lakukan. Ia hanya mengamati kehidupan normal dan bahagia orang-orang di sekitarnya, sambil mengepalkan tangannya karena rasa iri di dalam hati.


Lian Huanran berusaha mencari petunjuk mengenai dirinya sendiri, dan mencoba mengingat. Akan tetapi usahanya tidak membuahkan hasil. Lian Huanran tidak dapat menemukan petunjuk apa-pun. Seakan-akan ia bukan berasal dari dunia itu, sehingga tidak ada jejak mengenai dirinya. Dua bulan berlalu ketika Lian Huanran berjuang. Tepat ketika Lian Huanran mulai berpikir untuk bunuh diri, untuk kesekian kalinya, seorang pemuda menghampirinya.


Singkatnya, Lian Huanran ditawarkan hal yang sangat menggiurkan baginya saat itu, jika ia menyetujui kesepakatan pemuda itu, ia akan mendapatkan kembali ingatannya. Tentunya, Lian Huanran tidak mempercayai pemuda itu sepenuhnya, akan tetapi, ia memutuskan untuk mengetahui apa yang harus ia lakukan untuk mendapatkan kembali ingatannya. Meski mungkin itu hanya secercah harapan palsu, setidaknya ada harapan yang bisa dipegang oleh Lian Huanran, yang sudah putus asa saat itu.


Lian Huanran dibawa ke sebuah tempat di mana terdapat seorang pria tua terbaring tidak bergerak di alas batu. Pemuda di samping Lian Huanran menyuruhnya memilih, “Pilihlah, ingatanmu, atau ingatan pria tua yang hampir mati itu..”


Mendengar perkataan pemuda itu, Lian Huanran bergidik ngeri, dan di saat bersamaan, ingin menjawab 'Ingatannya', meski tawaran pemuda itu jelas tidak masuk akal. Entah karena apa, saat itu, Lian Huanran tidak bisa berpikir jernih. Ia hanya bisa mengandalkan emosinya untuk menentukan pilihan.


Lian Haocun menatap Lian Huanran yang kepalanya tertunduk. Dari sikapnya, Lian Haocun sudah menduga pilihan apa yang diambil Lian Huanran. Akan tetapi, kata selanjutnya dari Lian Huanran membuat Lian Haocun menyipitkan matanya,


“Aku tidak menerima tawaran itu, meski aku tidak bisa berpikir jernih, aku hanya..., tidak mau ada orang yang merasakan hal yang sama dengan yang pernah kualami. Ditambah, walaupun pria tua itu tampak seperti bisa mati kapan saja, aku merasa, dia mau mati dengan ingatannya...”


Ekspresi Lian Haocun tidak berubah mendengarkan keputusan Lian Huanran yang bisa terhitung hanya dilakukan oleh orang-orang yang memiliki hati yang sangat mulia dan baik.


Meski tidak menerima tanggapan dari Kakak-nya, Lian Huanran tidak kesal. Ia sudah merasa sangat bersyukur memiliki Lian Haocun sebagai pembimbing, sekaligus keluarganya.


Lalu, perhatian Lian Huanran mulai teralih ke Qian Wenwu yang baru saja berhasil kembali dari tes. Lian Huanran segera merawat Qian Wenwu yang tampak linglung.


Sementara, Lian Haocun tetap berdiri di tempat. Mata birunya yang seperti samudra menyipit, yang mengakibatkan aura dinginnya menguat. Tatapan Lian Haocun juga menajam, hingga tidak seorangpun bisa menebak apa yang ada di pikirannya.


‘Dia terlalu misterius!’ Batin Adeline melihat Lian Haocun yang mengeluarkan aura dingin di sekujur tubuhnya.


Qian Wenwu tidak membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan kembali kesadaran penuhnya. Dan, setelah Qian Wenwu sadar sepenuhnya, Adeline bersama sekelompok peri, memulai pidato singkat mereka, yang menurut Lian Haocun hanya membuang-buang waktu.


Adeline, “Baiklah, kita sudah sampai di penghujung pengumuman ini! Orang yang memenangkan tes adalah...!”


“Lian Huanran dan Qian Wenwu!!”


Seketika terdengar sorakan dari sekelompok peri di belakang Adeline, mereka tampak ikut berbahagia dengan keberhasilan Lian Huanran dan Qian Wenwu. Sedangkan, Lian Huanran dan Qian Wenwu terkejut karena Lian Haocun tidak berhasil melewati tes.


Sontak, Lian Huanran berteriak bingung, “Hah!?”


Adeline berkata dengan lebih detail dan penuh penekanan, “Ratu Peri berkata, dia ingin menemui kalian bertiga!”


Tepat ketika Adeline selesai mengatakannya, Lian Haocun, Lian Huanran dan Qian Wenwu diteleportasikan ke tempat lain. Tempat itu adalah taman yang hijau, asri, dan indah. Udaranya terasa menyejukkan, dan menenangkan hati.


Kemudian, seorang wanita cantik, dengan rambut hijau panjang, dan mata berwarna emas, menatap Lian Haocun, Lian Huanran dan Qian Wenwu bergantian. Alisnya yang tipis bergetar setiap beberapa saat. Hidungnya kelihatan mungil, dan bibirnya yang tipis membuatnya terlihat lebih menawan. Tubuhnya yang ramping dibalut gaun sederhana berwarna hijau muda, yang terlihat sangat cocok untuknya.


Melihat wanita cantik itu, wajah Lian Huanran sedikit memerah. Ini pertama kalinya ia melihat wanita secantik ini. Qian Wenwu pun bereaksi sama, tetapi reaksinya bisa dikatakan wajar, karena ia merupakan orang yang pemalu. Hanya Lian Haocun yang tidak bereaksi sama sekali, bahkan aura dinginnya tidak berkurang sedikitpun.


Senyum tipis, yang penuh dengan pesona muncul di wajah wanita itu. Ia berjalan ke arah mereka bertiga, dan berkata dengan nada lembut, “Kenalkan aku, Vivian, Ratu Peri yang disebut oleh Adeline..”


Lian Huanran dan Qian Wenwu tampak terkejut, pasalnya, penampilan sang Ratu Peri terlalu berbeda dengan peri yang mereka temui sebelumnya. Tubuhnya seukuran manusia, dan ia tidak memiliki sayap yang dimiliki peri.


Ratu Peri tampak memahami keraguan Lian Huanran, akan tetapi, ia tidak menjelaskan apa-pun. Malahan Ratu Peri mengajak Lian Haocun, Lian Huanran, dan Qian Wenwu untuk berkeliling taman sambil mengobrol. Sambutan Ratu Peri terasa hangat, dan ramah.


Sepanjang mengelilingi taman, Ratu Peri juga mengenalkan banyak jenis tanaman, yang didengarkan Lian Huanran dengan saksama dan serius. Bahkan, Lian Huanran tampak tidak sabar untuk segera mengeluarkan buku catatannya, dan mencatat semua yang dikatakan Ratu Peri. Waktu berlalu dengan cepat bagi Lian Huanran dan Qian Wenwu, dan tanpa terasa, mereka berempat sudah mengelilingi seluruh taman itu.


“Apakah perjalanan kelilingnya terasa menyenangkan?” Tanya Ratu Peri dengan nada lembut yang menyenangkan.


Lian Huanran dan Qian Wenwu menganggukkan kepalanya. Sementara Lian Haocun tetap diam. Sehingga Lian Huanran harus berkata, “Maaf, Kakakku tidak terlalu pandai mengekspresikan emosinya, jadi tidak perlu memedulikan pendapatnya, haha.”


Ratu Peri mengangguk mengerti sambil memasang senyum lembut. Lalu ia berkata, “Aku belum mengucapkan ini, selamat Lian Huanran, dan Qian Wenwu karena berhasil lulus tes kami.. Sementara untuk Lian Haocun, sayangnya kamu tidak berhasil lolos, tapi tidak masalah, setiap orang akan mengambil keputusan yang berbeda-beda.”


Lian Huanran tersenyum, dan mengatakan terima kasih serta meminta penjelasan mengapa Lian Haocun tidak lolos. Qian Wenwu juga mengucapkan terima kasih, dan tampak penasaran dengan Lian Haocun juga. Sedangkan, Lian Haocun tidak menanggapi, ia hanya menatap Ratu Peri dengan tatapan tajam. Lian Haocun tampak tidak menyukai Ratu Peri.


Ratu Peri terkekeh ringan, namun ia tidak menjelaskan lebih lanjut. Kemudian, Ratu Peri berkata, “Kalian bisa bertanya mengenai hal itu ke orangnya langsung. Bagaimana kalau kita sekarang.., membahas tentang, hadiah kalian?”


Mata Lian Huanran berbinar, sulit untuk menutupi betapa bersemangatnya dia. Ratu Peri yang melihat keantusiasan Lian Huanran, tersenyum lembut lagi. Kemudian Ratu Peri menjentikkan jarinya, dan tiga benda jatuh dari langit bersamaan. Hal yang menakjubkan adalah, ketiga benda itu mendarat tepat di depan Lian Haocun, Lian Huanran, dan Qian Wenwu.


Ratu tersenyum lembut lagi, dan berkata, “Ini hadiah untuk kalian. Sementara untuk Haocun, anggap saja itu bonus..”


'Untuk meredakan kekesalan anak ini juga...' Lanjut Ratu Peri dalam hati. Tampaknya sikap ketus Lian Haocun sedari tadi, disalahpahami Ratu Peri sebagai anak yang sedang merajuk.