
Dengan perasaan khawatir dan cemas, Lian Haocun bergegas ke sumber teriakan tersebut. Entah mengapa, Lian Haocun merasakan firasat buruk yang tidak menyenangkan. Tentu, selama perjalanan, suara ‘Hihihihihi...’ bergema terus-menerus di telinga Lian Haocun, menemani Lian Haocun selama perjalanan.
Bagian Timur Kota Andan merupakan sebuah kebun kecil dan gerbang masuk Kota Andan. Saat perjalanan, Lian Haocun bisa melihat beberapa orang yang berjalan ragu-ragu menuju ke arah timur, sepertinya suara teriakan itu menarik perhatian beberapa orang. Lian Haocun tidak memedulikan mereka dan melanjutkan perjalanannya.
Firasat Lian Haocun tidak salah, di kebun kecil, Lian Haocun menemukan Lian Huanran yang duduk di tanah. Lian Huanran menutup telinganya sambil bergumam mengulangi kata-kata yang sama, “Tenanglah... Tenanglah...”
Lian Haocun bisa melihat wajah Lian Huanran yang pucat karena ketakutan. Sementara Bai dan Cheng mencoba menenangkan Lian Haocun dengan cara mereka sendiri, yaitu mengeluskan kepala kecil mereka ke Lian Huanran, layaknya seorang kucing.
Lian Huanran tampaknya tidak sadar dengan keberadaan Lian Haocun, sepertinya ia benar-benar fokus untuk menaklukkan ketakutannya.
Lian Haocun berjalan mendekati Lian Huanran, namun Lian Huanran tetap tidak sadar sama sekali. Dari jarak yang cukup dekat, Lian Haocun bisa melihat tubuh Lian Huanran gemetaran hebat, seketika, Lian Haocun merasakan penyesalan karena membiarkan Lian Huanran menyelidiki sendirian, meski ada Bai dan Cheng bersamanya.
Lian Haocun berlutut dengan satu kaki, dan meraih tangan Lian Huanran yang gemetaran. Lian Huanran tampak kaget dan terkejut dengan Kakaknya yang tiba-tiba berada di hadapannya. Lian Huanran mendongak dan menatap Kakaknya. Lalu dengan nada ketakutan, Lian Huanran berkata, “Kakak..., ada suara..., ku takut...”
Lian Haocun, “Tenanglah.”
Tidak ada nada penghiburan yang terdapat di kata Lian Haocun, nada Lian Haocun masih seperti biasanya, dingin dan datar, tetapi entah mengapa itu memberikan ketenangan kepada Lian Huanran. Dengan wajah yang seperti ingin menangis, Lian Huanran memeluk Kakaknya erat untuk meredakan ketakutannya. Meski suara itu masih bergema di telinga Lian Huanran, dengan keberadaan Kakaknya, ia tidak setakut sebelumnya.
Lian Haocun bergumam ‘Hm’ singkat dan berdiri. Lalu ia membersihkan debu yang tertinggal di pakaiannya karena berlutut. Lian Huanran juga berdiri dan dengan ekspresi agak malu, memegang ujung pakaian Kakaknya. Bagaimanapun ia tetap merasa takut, meski entah sejak kapan suara ‘Hihihihihi...’ itu sudah menghilang.
Lian Haocun yang mengetahui ketakutan Lian Huanran, hanya membiarkan ia berjalan mengikutinya sambil memegang ujung pakaiannya. Setelah berjalan beberapa menit, mereka bertemu Yun Shao, Qian Wenwu dan Long Yuan di dekat gerbang pintu masuk Kota Andan.
Lian Huanran terlihat cukup bingung, “Kenapa kalian berkumpul?”
Long Yuan menjawab, “Kita tadi bertemu di tengah jalan, suara aneh itu yang membimbing kita. Apa kalian berdua juga mendengarnya?”
Lian Huanran berseru, “Ya! Kalian juga mendengar suara menakutkan itu?”
Long Yuan mengangguk. Sementara Yun Shao yang ingin menanyakan bagaimana keadaan Lian Haocun dan Lian Huanran, terkejut karena guncangan tiba-tiba dari bawah. Tiba-tiba, mereka dikelilingi oleh empat tembok kokoh!
Bersamaan dengan suara keras tembok yang tiba-tiba muncul, suara anak kecil yang terdengar seperti sedang bermain, terdengar di telinga mereka semua.
“Selamat datang di permainan labirin, Kakak-kakak sekalian! Kuharap kalian akan menikmati permainannya!” Ujar suara anak kecil manis yang juga memberikan kesan menyeramkan.