The Journey To Become The Strongest

The Journey To Become The Strongest
Chapter 196 — Peri Adeline



Sambil menebas roh jahat pertama yang menghalangi mereka, Lian Haocun berkata, “Bunuh semua roh jahat yang kalian temui, dan ambil permata yang dijatuhkan dari roh jahat itu.”


Lian Huanran refleks menjawab, “Bukankah lebih baik kita mengabaikan mereka saja? Bagaimanapun, hanya membuang-buang waktu mengalahkan roh jahat yang jelas tidak akan ada habisnya...”


Lian Haocun menatap mata Lian Huanran dengan tatapan acuh tak acuh, di dalam mata hijau yang jernih itu, Lian Haocun bisa melihat sedikit ketakutan.


Kemudian, Lian Haocun berkata, “Ini adalah kesempatan yang mungkin hanya datang sekali, kau harus mulai menghadapi ketakutanmu, Huanran.”


Lian Huanran terpaku di tempat, tubuhnya sedikit gemetar karena rasa takut. Akan tetapi, ia lebih takut pada tatapan mata Kakaknya, sehingga setelah mempertimbangkan segala aspek dalam beberapa menit, Lian Huanran berkata dengan penuh tekad dan kegigihan, “Aku akan mencoba mengalahkannya!”


‘Ya, begitulah seharusnya.’ Batin Lian Haocun, tidak dapat dipungkiri, ia merasa cukup bangga. Kemudian, mereka pun melanjutkan perjalanan mereka ke Gua Spartal.


Lian Huanran berhadapan dengan roh jahat ke sekian yang sudah ia temui berkali-kali saat menuju ke tempat Lian Haocun berada. Terdapat sedikit perbedaan dari sebelumnya, mata Lian Huanran memancarkan keberanian yang didapatnya dari Kakaknya. Meski masih terdapat ketakutan di mata hijau yang indah itu.


Namun, Lian Huanran tidak mundur, atau melarikan diri seperti sebelumnya. Lian Huanran mengeluarkan akar tumbuhan merambat dari tangannya, dan menggunakannya untuk mengikat roh jahat itu! Kemudian, tanpa ampun, Lian Huanran langsung menggunakan elemen apinya untuk membakar roh jahat tersebut! Teriakan kesakitan roh jahat itu terdengar, namun, ia tidak bisa melakukan apa-apa sebelum menghilang.


Roh jahat tidak bisa di serang secara fisik, namun, mereka dapat diserang dengan Qi Spiritual dan kekuatan elemen. Jadi jika menyalurkan Qi Spiritual kepada senjatamu, senjata tersebut dapat digunakan untuk membunuh roh jahat. Karena hal tersebut, Lian Haocun dapat menebas roh jahat dengan pedangnya.


Perasaan Lian Huanran cukup rumit. Bagaimanapun, hal-hal menyeramkan yang selama ini ia takuti, bisa dikalahkan semudah ini!? Lian Huanran merasa tidak percaya, namun hal tersebut, membawa dampak positif kepada Lian Huanran.


Ketakutannya kepada hal-hal menyeramkan berkurang cukup drastis. Bagaimanapun, siapa yang akan takut pada sesuatu yang bahkan tidak bisa menyentuh sehelai rambutnya?


Selama perjalanan, Lian Haocun, Lian Huanran dan Qian Wenwu mengumpulkan banyak sekali batu permata hitam, yang kegunaannya masih belum diketahui.


Setelah berjalan selama sepuluh jam, dan mengeluarkan banyak usaha untuk menemukan Gua Spartal, mereka akhirnya berhasil mencapai Gua Spartal. Gua Spartal adalah gua yang gelap, dan membuat orang merasa terdapat banyak misteri di dalamnya.


Lian Haocun menebas satu roh jahat yang berhasil mengejar mereka, lalu masuk ke Gua Spartal, untuk menyusul Lian Huanran dan Qian Wenwu yang sudah masuk terlebih dahulu.


Dengan api di tangannya, Lian Haocun menerangi gua yang gelap dan lembab itu. Dalam perjalanan menyusul Lian Huanran, dan Qian Wenwu, Lian Haocun menemukan banyak sekali tulisan-tulisan yang tidak ia kenal, terukir di dinding. Lian Haocun menduga kalau itu adalah tulisan para peri yang tinggal di Gua Spartal.


Lian Huanran yang sedang menunggu Kakaknya, sambil mengagumi pemandangan di hadapannya, segera melambaikan tangannya ketika melihat siluet Kakaknya. Setelah Lian Haocun mendekat, dengan nada bersemangat dan tidak sabar, Lian Huanran berkata, “Lihat Kakak! Kota yang unik, bukan!?”


Sambil berkata, Lian Huanran menunjuk kota di bawahnya. Kota itu berbentuk seperti spiral ke bawah, dan dasarnya tidak terlihat, tapi diperkirakan sangat dalam. Yap, itu adalah kota tempat para peri tinggal! Sepertinya, mereka membangun kota di dalam gua.


Dari tempatnya, Lian Haocun mengamati kota tersebut sekilas, dan menemukan beberapa ‘jembatan penghubung' yang menghubungkan dua tempat berseberangan, yang tingginya berbeda satu sama lain. Dengan mata Lian Haocun yang tajam, ia juga dapat melihat peri-peri kecil yang beterbangan sana sini melewati jembatan tersebut.


Lian Haocun menganggukkan kepalanya, lalu mengambil langkah pertama ke bawah. Ia menggunakan tangga yang disejajarkan dengan dinding gua untuk turun ke bawah. Untungnya, tangga ini tidak sempit seperti tangga di Desa Thano, sehingga Lian Huanran tidak takut terjatuh.


Suara telapak kaki mereka yang menginjak tangga demi tangga, terdengar oleh para peri yang sebelumnya fokus dengan aktivitas mereka masing-masing. Para peri itu segera menuju ke sumber suara, dan melihat Lian Haocun, Lian Huanran dan Qian Wenwu yang masih dalam ‘perjalanan' turun ke bawah.


Para peri tampak terkejut sejenak melihat tamu asing yang mengunjungi tempat mereka. Namun, setelah keterkejutan, mereka tampak penasaran, dan kegirangan. Bagaimanapun, peri-peri di Gua Spartal selalu memiliki rasa ingin tahu yang tinggi pada hal-hal yang tidak mereka ketahui dengan jelas.


Peri yang mungil, cantik dan imut, dengan kedua sayap yang indah seperti kupu-kupu, segera berputar mengelilingi Lian Haocun, Lian Huanran, dan Qian Wenwu yang sudah sampai bawah. Setiap peri bernama Adeline itu bergerak, terdapat serbuk-serbuk putih kecil seperti salju, mengikutinya.


Bukan hanya terbang mengelilingi Lian Haocun, Lian Huanran dan Qian Wenwu, Adeline juga mulai mengenalkan dirinya dan bertanya berbagai pertanyaan, yang bagi Lian Huanran seperti interogasi.


Lian Huanran menjawab beberapa pertanyaan antusias dari Adeline yang masih mengelilingi mereka. Awalnya, Lian Huanran tampak antusias dan ceria juga menjawab setiap pertanyaan Adeline, namun setelah hampir setengah jam berlangsung, Lian Huanran pun merasa kewalahan dengan Adeline yang energinya tidak terbatas.


Ia menatap ke arah Lian Haocun dan Qian Wenwu, meminta pertolongan. Lian Haocun tidak menanggapi tatapan Lian Huanran, dan tetap berwajah dingin, dengan dua tangan terlipat di depan dadanya. Sementara, Qian Wenwu tampak menyusut di antara kerumunan peri-peri yang mengikuti Adeline.


Setelah sesi tanya jawab melelahkan yang berlangsung selama empat puluh lima menit penuh, akhirnya Adeline yang merasa dirinya sudah berlebihan berkata dengan suara mungil nan menawannya itu, “Maaf! Maaf! Aku terlalu antusias sampai mengabaikan kenyamanan kalian. Maaf!”


Lian Huanran tersenyum sambil menggerakkan giginya, lalu menjawab Adeline, “Tidak, tidak masalah. Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi itu bagus. Bukankah begitu..., Kakak?”


Lian Haocun yang terpaksa terlibat dengan percakapan, berkata dengan nada acuh tak acuh, “Ya.”


Mata Adeline yang berukuran cukup besar, berbinar-binar mendengar jawaban Lian Huanran. Lalu, Adeline bertanya, “Oh ya, siapa nama kalian! Peri di sampingku Pixly, ini Allura, ini Ella, ini Elle, mereka kembaran! Lalu, oh, ini....”


Adeline mengenalkan satu persatu peri di sana kepada Lian Huanran, Lian Haocun dan Qian Wenwu. Setelah Adeline selesai berbicara, Lian Huanran segera mengambil kesempatan itu untuk mengenalkan mereka.


Lian Huanran, “Namaku Lian Huanran, kalian bisa memanggilku Huanran. Ini Kakak kembarku, Lian Haocun, kalian bisa memanggilnya..., ehm..., Haocun..? Sedangkan ini temanku, Qian Wenwu, kalian bisa memanggilnya Wenwu!”


Sambil mengenalkan Lian Haocun dan Qian Wenwu, Lian Huanran juga menarik mereka ke hadapan sekelompok peri, sehingga sekelompok peri tersebut bisa membedakan siapa Lian Haocun dan Qian Wenwu.


Adeline yang tidak tampak kelelahan meski sudah berbicara sepanjang kereta, langsung menanggapi, “Wow, Huanran, Haocun dan Wenwu, nama yang bagus!”


Mata Lian Haocun segera menyipit. Lian Haocun benar-benar tidak terbiasa dengan orang baru yang mengenalnya, lalu memanggilnya akrab. Ini juga menjadi alasan, mengapa Lian Huanran tampak ragu menyebutkan nama panggilan Lian Haocun.


Adeline tidak memperhatikan protes di mata Lian Haocun, dan dengan penuh semangat, berkata sambil tersenyum manis, “Oh ya, apa tujuan kalian ke sini!”