
Tidak berniat membuang waktu sama sekali, Lian Haocun, Lian Huanran, Long Yuan, Shui Zuo serta Chao Bence langsung menuruni puluhan tangga yang terbuat dari batu tersebut.
Lian Huanran berkomentar, “Tangga ini benar-benar tidak aman, cukup sempit dan tidak ada pembatas.”
Chao Bence yang menuruni tangga demi tangga dengan santainya berkata, “Makanya hati-hati... Dasar bocah kecil.”
Lian Huanran yang fokus melihat tangga sambil menuruni tangga karena takut terjatuh, “...”
Sementara Shui Zuo hanya tersenyum tipis melihat keharmonisan dan keakraban mereka berdua.
Para warga yang tinggal di Desa Thano mulai berbisik kala melihat orang-orang asing yang menuju ke desa mereka. Lian Huanran yang melihat warga-warga berkerumun dan mengabaikan kegiatan yang mereka lakukan sebelumnya, berpikir, ‘Apakah sangat jarang desa ini dikunjungi orang asing?’
Long Yuan juga berpikir hal yang sama dengan Lian Huanran, pasalnya reaksi para warga sangat ‘heboh’. Sementara Lian Haocun, Chao Bence dan Shui Zuo merasakan kejanggalan, meskipun sebenarnya tidak ada hal yang aneh. Bagaimanapun Desa Thano adalah desa terpencil yang bahkan jika Lian Haocun tidak mengelilingi batu besar tersebut, mereka tidak akan berhasil menemukan Desa Thano.
Lian Haocun mulai mengamati sekeliling Desa Thano yang sebelumnya tidak terlalu terlihat jelas karena jarak. Semua rumah-rumah di Desa Thano terlihat sederhana, atapnya pun dibuat dari jerami. Strukturnya sederhana, kasar dan agak berantakan, namun itu cukup untuk ditinggali di dalam gua. Bagaimanapun langit-langit gua sudah menghalangi hujan dan matahari panas yang menyengat.
Lian Haocun dan kelompoknya tiba di jalan utama Desa Thano yang dikerumuni oleh banyak orang. Terdapat pagar-pagar kayu yang terlihat tidak kokoh dan agak letoi di kedua sisi jalan.
Seorang wanita yang berwajah cantik dan berkulit agak gelap, membungkukkan badannya ke arah Lian Haocun dan kelompoknya, lalu tersenyum ramah sambil berkata dengan sopan, “Ini sudah sekian lama sejak kami kedatangan orang asing... Salam kenal, saya Thea.”
Lian Huanran menyahut, “Salam kenal! Aku Lian Huanran, kau bisa memanggilku Huanran!”
Kemudian mereka melakukan perkenalan singkat dengan Thea. Lebih tepatnya hanya Lian Huanran, Long Yuan, Shui Zuo dan Chao Bence. Jadi seperti biasa, Lian Huanran lah yang mengenalkan Lian Haocun.
Lian Haocun berniat untuk mendapatkan beberapa informasi dari Thea, namun sayangnya sebelum dapat mengajukan pertanyaan, Lian Haocun disela oleh Thea. Thea berkata dengan senyum ramah nan sopan, “Mari saya antarkan ke kepala desa. Dia pasti sangat senang dengan kedatangan orang asing setelah sekian lama.”
Tidak bisa menanyakan pertanyaan, Lian Haocun mulai mengamati Thea. Sedari awal Lian Huanran dan yang lainnya melakukan percakapan dengan Thea, Lian Haocun merasakan kejanggalan yang aneh dengan senyumnya, ia merasa bahwa ada makna lain dari senyuman itu.
‘Terus kenapa mereka sepertinya sangat menyambut dan senang dengan orang asing? Biasanya para warga yang hidup di tempat tertutup, tidak akan seramah ini pada orang asing yang tidak mereka kenal sama sekali.’ Batin Lian Haocun.
Tentu, baik Chao Bence dan Shui Zuo juga merasakan hal yang sama dengan Lian Haocun. Bagaimanapun mereka sudah hidup sangat lama dan telah menghadapi lebih banyak jenis orang dibandingkan Lian Haocun, Lian Huanran mau pun Long Yuan. Bahkan meski semuanya tampak normal di permukaan, setidaknya insting mereka pasti akan bereaksi.
Bai dan Cheng hanya mengikuti dalam diam di samping Chao Bence dan Lian Huanran, padahal sebelumnya mereka sangat aktif.
Sementara Lian Huanran tidak merasakan keanehan apa pun dan merasa bahwa Desa Thano tidak seperti yang diperkirakan olehnya. Sedangkan Long Yuan merasakan sedikit keanehan, tetapi ia memutuskan untuk mengamati situasi terlebih dahulu.
Selama perjalanan ke rumah kepala desa, Lian Haocun terus menerus mengobservasi sekelilingnya. Thea juga terus menerus berbicara sepanjang perjalanan sehingga membuat Chao Bence berpikir, ‘Apakah ia tidak lelah berbicara terus-menerus?’ Namun pikiran itu dengan cepat dihilangkan dari pikiran Chao Bence, pasalnya ia melihat Lian Huanran menanggapi setiap perkataan Thea tanpa henti sepanjang perjalanan. Jika Chao Bence tidak mengetahui mengenai Lian Huanran yang kelewatan polos, ia akan menduga bahwa Lian Huanran sedang menggoda Thea.
Tanpa terasa, Lian Haocun dan kelompoknya dengan cepat tiba di rumah kepala desa. Rumah kepala desa tidak memiliki terlalu banyak perbedaan dengan rumah-rumah sederhana lainnya. Hanya terlihat lebih rapi dan terstruktur.
Seakan-akan menyadari tindakan tidak sopannya, lelaki tua yang bungkuk itu berkata, “Ah..., maafkan saya. Mata saya... sudah tidak bisa melihat dengan jelas. Jadi saya tanpa sadar memicingkan mata untuk mengenali siapa kalian. Ternyata kalian adalah orang asing ya... Silakan masuk...”
Thea menghampiri lelaki tua itu dan berkata, “Tidak apa-apa, kepala desa. Jangan terlalu dipikirkan. Tidak apa-apa kan? Huanran?”
Lian Huanran yang tidak menduga akan ditanyai seperti itu, refleks menjawab, “Y-aa?”
Sedangkan Lian Haocun langsung mengetahui bahwa kakek tua tersebut berbohong kepada mereka.
‘Tatapan tajam itu... Jelas bukan karena tidak bisa melihat dengan jelas. Tapi kenapa ia berbohong?’ Batin Lian Haocun dan ia pun mulai menghubungkan petunjuk-petunjuk yang ia dapatkan.
Tidak mengetahui bahwa kebohongannya sudah diketahui, kakek tua itu membawa Thea, Lian Haocun dan kelompoknya memasuki rumahnya.
Kakek tua itu berkata, “Maaf kalau tempat ini tidak sesuai dengan standar kalian. Bagaimanapun ini hanya desa kecil... Hua! Tolong siapkan tujuh minuman untuk tamu!”
Seseorang yang dipanggil Hua, menyahut ‘Ya’ dengan agak gemetar. Lian Haocun langsung mengenali bahwa itu karena ketakutan.
‘Apa yang membuatnya takut? Kami? Atau...’ Batin Lian Haocun menerka-nerka.
Tidak lama kemudian, terlihat sosok anak kecil perempuan yang membawa nampan kayu dengan tujuh teh di atasnya. Tubuhnya agak gemetaran entah karena apa, dan semakin memburuk saat berhadapan dengan Lian Haocun dan kelompoknya, Thea dan kakek tua.
Kakek tua yang melihat Hua gemetaran, menjelaskan kepada Lian Haocun dan kelompoknya, “Hua memang agak takut dengan orang asing. Kalau orang-orang desa yang berkunjung pun, terkadang ia suka gemetaran. Jadi jangan terlalu dipikirkan...”
Lian Huanran menanggapi dengan bergumam ‘Oh’ singkat.
Tanpa menatap Lian Haocun dan kelompoknya, Hua meletakkan nampan dan bergegas kembali ke dapur.
Lian Haocun yang melihat Hua bergegas, merasa sedikit rumit, ‘Apakah apa yang dikatakan kakek tua itu benar?’
Dengan bantuan Thea, Kakek tua duduk dan berkata, "Silahkan diminum."
Lian Huanran mengangguk, tetapi tidak menyentuh cangkir teh sama sekali. Begitu juga dengan Long Yuan, Chao Bence, Shui Zuo dan Lian Haocun. Sepertinya meski Lian Huanran tidak merasakan adanya keanehan, ia tetap waspada.
Chao Bence, Lian Huanran dan Long Yuan duduk di alas jerami dan mulai bercakap-cakap dengan kepala desa dan Thea. Tentu, Chao Bence lah yang mengendalikan pembicaraan. Awalnya ia hanya berbasa-basi, namun setelah itu Chao Bence mulai permainan kata menjebak untuk mendapatkan informasi tambahan. Hasilnya, tanpa diduga, Thea berhasil mengelak berulang kali.
‘Kemampuan komunikasi manusia ini..., benar-benar tidak bisa diremehkan.’ Batin Chao Bence mengakui kehebatan Thea.
Sementara Lian Huanran dan Long Yuan tampak agak bingung dengan suasana yang harmonis di permukaan, namun sebenarnya sangat mencekik. Sedangkan Lian Haocun dan Shui Zuo mengamati gerak-gerik kepala desa dan Thea setiap saat.