
Sosok Lian Haocun yang sebelumnya tampak jelas, perlahan-lahan pecah menjadi pecahan kristal yang sangat kecil, dan di saat bersamaan, saat itu Lian Haocun tampak begitu jauh dan terpisah, seakan-akan ia adalah anomali yang seharusnya tidak ada, dan harus menghilang.
Dalam sekejap, Lian Haocun yang sebelumnya tampak begitu nyata dan jelas, menghilang tanpa jejak, seakan-akan ia bukan bagian dari dunia ini sedari awal. Tepat saat itu juga, tangisan ‘mini Lian Haocun’ pecah, intuisinya mengatakan bahwa, ia tidak akan pernah bisa bertemu Lian Haocun lagi selama-lamanya.
Sementara, kesadaran Lian Haocun kembali ke tubuh aslinya yang berada di ruangan yang didominasi warna putih. Untuk sesaat, kepalanya berdenyut menyakitkan. Sehingga telapak tangannya berkeringat, menahan rasa sakit.
Adeline yang menyadari bahwa Lian Haocun sudah terbangun, segera bergegas ke arahnya dan memberikan Lian Haocun air, atau lebih tepatnya, beberapa tetes air. Karena ukuran tempat minuman manusia, dan peri yang berbeda tentunya, ukuran yang tampak normal dan cocok dengan para peri, berbeda untuk para manusia. Maka dari itu, Adeline segera meminta tolong teman-teman perinya, untuk membawa lebih banyak botol kecil yang berisikan air.
Sayangnya, pada akhirnya, Lian Haocun tidak memandang usaha para peri itu, dan menolak untuk meminum air tersebut. Kemudian, Lian Haocun langsung mengajukan pertanyaan, “Kenapa aku tiba-tiba kembali? Dan, kenapa Huanran dan Qian Wenwu masih belum terbangun?”
Adeline yang sebelumnya kesal, dikarenakan bantuannya ditolak, menjawab dengan nada cemberut, “Kau gagal dalam tes itu! Sedangkan, Huanran dan Wenwu belum menyelesaikan tes mereka.”
Mendengar kalimat pertama Adeline, tubuh Lian Haocun membeku. Dalam kehidupan pertama, maupun keduanya, kegagalan Lian Haocun bisa dihitung dengan jari. Akan tetapi, Lian Haocun tidak terjebak dengan kegagalannya, ia hanya membeku sesaat, sebelum memasang kembali ekspresi dinginnya dan kembali normal.
“Aku mengerti, apakah Huanran dan Qian Wenwu baik-baik saja?” Tanya Lian Haocun.
Adeline menjawab sambil tersenyum, “Tenang, mereka baik-baik saja!” Suasana hatinya berubah secepat kilat, dari cemberut menjadi ceria.
Setelah itu, suasana menjadi hening sejenak karena tidak adanya topik percakapan. Adeline, yang tidak menyukai suasana hening, segera membuka percakapan baru, “Apa kamu tidak akan bertanya mengenai bagaimana orang-orang di dunia yang kamu tinggalkan sebelumnya?”
Mendengar pertanyaan Adeline, Lian Haocun membuat suatu perkiraan di pikirannya dan berbicara sambil menatap Adeline, “Apa kamu menonton semua yang kulakukan selama tes?”
Adeline yang merasa seperti tertangkap mencuri, berekspresi gelisah, dan berkata, “Ya! Memang kenapa? Apakah aku tidak boleh melakukannya!?”
Sikap panik Adeline sangat kontras dengan Lian Haocun yang berekspresi acuh tak acuh, dan tenang. Kemudian, Lian Haocun berkata, “Aku tidak mempermasalahkannya, lalu untuk..., orang-orang di dunia itu, apa yang terjadi?”
'Akan tetapi, kenyataan itu kejam, dan seringkali tidak sesuai ekspektasi..' Batin Adeline.
Adeline menggigit bibir mungilnya, dan berkata, “Dunia itu hanyalah sebuah tes, dan tidak nyata. Tentunya setelah kau pergi, dunia itu akan hancur. Jangan bersedih, segala hal yang sudah terjadi pada masa lalu, tidak akan bisa diulang. Kamu hanya bisa merubah masa kini, dan meninggalkan masa lalu.”
Tentunya, Adeline tidak mengetahui mengenai masa lalu Lian Haocun, tetapi ia bisa menerka-nerka apa yang terjadi. Ditambah,
‘Dia menganggap kedatangannya begitu spesial seperti sudah ditakdirkan, pasti ada sesuatu yang istimewa mengenai orang ini...’ Batin Adeline.
Ketika mendengar jawaban Adeline, Lian Haocun merasakan kehampaan melintasi dadanya. Tentunya, ia tidak terlalu kecewa, ia bahkan sudah memperkirakan hal ini, namun, di sisi lain, ada bagian dari dirinya yang menginginkan ‘mini Lian Haocun' tidak mengalami hal yang sama dengannya, dan hidup selayaknya orang normal.
"Terima kasih." Ucap Lian Haocun ketika mengingat kata penghiburan Adeline.
Saat Adeline berniat mengatakan sesuatu lagi, terdengar suara rintihan Lian Huanran. Lian Haocun segera bereaksi, dan berkata kepada Adeline, “Jangan membicarakan hal yang kau lihat selama tes kepada siapa-pun.” Kemudian, Lian Haocun menghampiri Lian Huanran, dan mengecek keadaannya.
Lian Huanran yang awalnya dalam kondisi sadar-tidak sadar dan sakit kepala, segera berseru ketika melihat Kakak-nya, “Kakak!”
Lian Huanran tidak menangis, tapi ia memegangi lengan Kakaknya erat-erat, seakan-akan takut ia menghilang. Lian Haocun yang melihat tingkah laku Lian Huanran segera memperkirakan apa yang dialami Lian Huanran selama tes tersebut. Akan tetapi, untuk lebih jelasnya, tentu Lian Haocun harus bertanya, “Apa yang terjadi?”
-
Mohon maaf atas keterlambatannya, terima kasih banyak untuk pembaca yang bersedia menunggu eps baru, dan tentunya dukungan dari kalian! Jangan lupa jaga kesehatan, dan stay safe ya! God Bless You All!