
Jenderal Iblis Baran berkata dengan nada sombong, “Sudah waktunya.”
Lalu Jenderal Iblis Baran bersama Shen Wenhuan yang diikat oleh cambuknya menghilang dari kamar.
Kemudian tempat Chao Bence, Lian Haocun dan Lian Huanran berganti menjadi Jalan Nigra dari sebuah kamar. Cahaya matahari yang bersinar terang membuat penglihatan Lian Huanran menjadi silau. Secara refleks Lian Huanran menutup matanya.
Lian Haocun tidak peduli dengan silaunya matahari, ia sudah memproses segala kejadian di pikirannya. Lian Haocun merasakan hatinya dipenuhi perasaan tidak berdaya, kesal, marah, cemas, gelisah, berbagai emosi bercampur menjadi satu sehingga membuat perasaan Lian Haocun menjadi sangat rumit, namun Lian Haocun tidak bisa mengenali satu pun emosi tersebut. Ia tidak pernah merasakannya dalam kehidupannya sebelumnya.
Chao Bence berbalik menuju ke arah Lian Haocun dan Lian Huanran yang masih memiliki pelindung buatan Chao Bence dengan kepala tertunduk. Lalu Chao Bence melepaskan pelindung tersebut sehingga mereka berdua bisa bergerak leluasa.
‘Jujur aku tidak memikirkan bahwa hal ini benar-benar akan terjadi.’ Pikir Chao Bence yang tidak bisa merebut kembali Shen Wenhuan dari tangan Jenderal Iblis Baran.
Sementara Lian Huanran menggosok-gosokkan matanya dan mengedip-ngedipkan matanya dengan tujuan memastikan ia berada di mana. Lian Huanran mencoba memproses apa yang terjadi beberapa menit yang lalu dan dia jatuh terduduk. Tanpa terkendali, air mata mulai mengucur dari mata Lian Huanran. Dia terlihat sangat emosional dan sosok periangnya yang biasanya hilang entah ke mana. Berulang kali Lian Huanran mengulang kata yang sama,
“Bagaimana bisa? Bagaimana bisa? Bagaimana bisa?”
Sehingga air matanya menjadi lebih deras seiring berjalannya waktu. Lian Huanran tidak memperhatikan Chao Bence yang berdiri tidak jauh darinya maupun Kakaknya dan tenggelam dalam dunianya sendiri. Sementara tangan Lian Haocun mengepal erat hingga mengeluarkan darah, bibirnya pun digigit dengan sangat erat sehingga terlihat luka kecil. Wajahnya yang biasanya terlihat tidak akan terguncang bahkan jika Benua Afer dihancurkan, dipenuhi emosi yang rumit. Sayangnya Lian Huanran yang sudah tenggelam dalam kesedihannya tidak memperhatikannya.
Chao Bence terperangah melihat perubahan ekspresi Lian Haocun yang sebelumnya tidak pernah berubah sekalipun namun Chao Bence tidak bersuara sama sekali dan hanya menonton kedua saudara kembar itu melampiaskan kesedihan mereka dengan cara mereka masing-masing.
Siang hari yang panas terasa sedingin es dan langit cerah yang sangat berlawanan dengan suasana ketiga orang tersebut masih terlihat dengan jelas jika seseorang mendongak ke atas. Angin berembus kencang melewati mereka. Rasa dingin mendera seperti pisau tajam yang menyayat bagi kedua saudara kembar yang masih berusia sepuluh tahun. Saat itu, waktu terasa berjalan begitu lambat.
Lian Haocun menenangkan diri lebih cepat dari Lian Huanran dan berjalan ke arah Chao Bence. Chao Bence yang berekspresi muram, menunggu pukulan dari masternya. Tetapi Lian Haocun tidak melakukan apa yang dipikirkan Chao Bence dan hanya berdiri di samping Chao Bence.
Lian Haocun tidak mengeluarkan suara apa pun yang membuat Chao Bence merasa sedikit tidak nyaman. Meski memang Lian Haocun jarang berbicara tetapi kali ini Chao Bence merasa bahwa ke-diam an Lian Haocun terasa sangat tidak menyenangkan. Sehingga Chao Bence lah yang berbicara terlebih dahulu untuk membuat Lian Haocun berbicara.
“Maaf, aku gagal melindungi Gurumu... Apa...kau baik-baik... saja?”
Lian Haocun tidak menjawab namun tangannya yang tadi sudah tidak terkepal menjadi terkepal kembali dan menambah luka yang sudah ada. Chao Bende tidak tau harus berbuat apa untuk menghibur seseorang, bagaimanapun ia tidak pernah berhadapan dengan masalah seperti ini sebelumnya. Jadi ia berniat untuk mengutarakan beberapa penghiburan yang pernah ia dengar, tapi mulutnya hanya mampu mengeluarkan kata-kata pertama sebelum berhenti karena Lian Haocun memotong perkataan Chao Bence.
Lian Haocun, “Itu bukan salah kau. Ini salah aku karena aku tidak kuat... Jadi kau tidak perlu menyalahkan diri.”
Chao Bence terkejut mendengar perkataan seperti itu keluar dari mulut masternya. Padahal masternya baru berumur sepuluh tahun dan bahkan masternya lah yang kehilangan Gurunya bukan dia. Chao Bence menggaruk rambutnya kasar dan berniat mengatakan sesuatu namun melihat Lian Haocun yang terlihat agak bingung dan linglung membuat Chao Bence mengurungkan niatnya.
‘Aku benar-benar tidak berguna...’ Batin Chao Bence sambil meratap ke tanah.
Suasana menjadi hening dengan hanya tangisan Lian Huanran yang terdengar. Perlahan-lahan Lian Huanran yang meneteskan air mata berganti menjadi hanya terisak-isak. Matanya merah lembab karena menangis dalam waktu yang cukup lama.
Lian Haocun tersadar dari lamunannya dan merasa agak kesal melihat adiknya bertingkah seperti itu, meski reaksi Lian Huanran adalah reaksi yang wajar.
Ekspresi Lian Haocun sudah kembali menjadi seperti biasanya, dingin dan tanpa keinginan duniawi. Lian Haocun berjalan ke tempat Lian Huanran yang masih terduduk dengan kecepatan yang tidak terlalu cepat maupun tidak terlalu lambat. Ia berlutut dengan satu kaki untuk menyamakan ketinggiannya dengan Lian Huanran. Lalu Lian Haocun mengulurkan tangan yang tidak memiliki luka kepada Lian Huanran yang masih terisak sambil menatapnya tanpa jejak emosi yang terlihat di matanya.
Lian Haocun, “Tidak ada gunanya kau menangis. Orang itu tidak akan mengembalikan Guru.”
Dalam hati Lian Haocun melanjutkan perkataannya sambil menekan perasaan rumit yang berkobar kembali, ‘Meskipun itu hanya mayatnya saja.’
Lian Huanran menatap Lian Haocun. Lian Haocun masih terlihat seperti biasanya, tidak ada jejak kesedihan yang terlihat. Melihat hal tersebut, Lian Huanran merasa marah, geram dan kesal dengan campuran beberapa emosi lainnya. Lian Huanran menepis tangan yang diulurkan Lian Haocun dengan kasar dan untuk pertama kalinya, ia berteriak marah kepada Kakaknya yang sangat ia hormati,
“Memang Kakak tidak merasa sedih!? Guru diambil oleh orang jahat itu! Bahkan kita tidak tau bagaimana keadaan Guru ataupun di mana Guru berada! Itu adalah Guru! Guru yang sudah merawat kita sejak masih bayi! Itu adalah Guru yang merawat kita selama sepuluh tahun! Guru yang mengajari kita, Guru yang menghabiskan waktu dengan kita! Kakak tidak merasa sedih!? Sedikit pun?”
Suara Lian Huanran mengecil di akhir kalimat sehingga terdengar seperti gumaman. Seperti dia takut dengan jawaban Lian Haocun yang terlihat sangat berhati dingin. Chao Bence yang melihat kejadian ini merasa bahwa ini agak kelewatan.
‘Bahkan mungkin Kakakmu yang lebih sedih darimu, bocah kecil. Hanya saja... dia memendamnya dan memenjarakan perasaannya.’ Batin Chao Bence menghela nafas.
Namun Chao Bence tidak menyela pembicaraan mereka dan hanya melihat apa yang akan terjadi. Menurut Chao Bence itu adalah permasalahan mereka berdua dan orang luar seperti ia tidak bisa ikut campur.
Lian Haocun tidak menjawab dan hanya menatap Lian Huanran dengan nanar. Untuk pertama kalinya, ia merasa kebingungan dalam mengambil keputusan. Jadi Lian Haocun hanya bisa berkata,
“Ayo kembali ke sekte terlebih dahulu dan kita bicarakan nanti.”
Lian Huanran berniat untuk menolak dan memulai perdebatan dengan Lian Haocun namun Lian Haocun membuat Lian Huanran yang dalam keadaan tidak siaga, pingsan. Sehingga ia hanya bisa terjatuh tidak berdaya ke bahu Kakaknya. Cara yang terkesan kasar memang.
Lian Haocun menggendong Lian Huanran yang pingsan dengan cara menggendong bayi. Lalu Lian Haocun berjalan ke arah Chao Bence tanpa kesusahan seperti tambahan bobot orang yang digendongnya sama sekali tidak berarti untuknya.
Lian Haocun berkata dengan nada tegas, “Pertama-tama, kembali ke sekte dulu.”
Chao Bence masih terperangah dengan cara Lian Haocun menyelesaikan masalah untuk sementara waktu, tetapi mendengar perintah Lian Haocun, Chao Bence tanpa sadar menganggukkan kepalanya, seperti seorang prajurit yang menganggukkan kepalanya kepada Jenderal-nya.
Tingkatan/Posisi Ras Iblis :
-Prajurit Iblis
-Sersan Iblis
-Letnan Iblis
-Mayor Iblis
-Kolonel Iblis
-Jenderal Iblis
-Jenderal Besar Iblis
-Raja Iblis