
Lian Haocun bertanya lagi, “Apakah ini bisa membahayakan kami?”
Adeline dengan cepat menggelengkan kepalanya, lalu ia mendekati Lian Haocun dan berkata, “Tidak sama sekali, kalian tidak akan berada dalam bahaya! Kami akan menjamin itu!”
Lian Haocun hanya mengenal Adeline selama beberapa jam sehingga ia belum bisa mempercayai Adeline sepenuhnya. Namun, Lian Haocun memutuskan untuk menerima tes tersebut setelah berpikir sebentar. Karena Lian Haocun menyetujuinya, otomatis Lian Huanran dan Qian Wenwu ikut menyetujuinya.
“Baiklah kalau begitu, ayo kita pergi!” Seru Adeline dengan penuh semangat, sambil membimbing Lian Haocun dan yang lainnya ke tempat yang tidak pernah mereka kunjungi sebelumnya.
Untuk menuju ke lokasi terakhir di kota itu, Lian Haocun, beserta dengan yang lain bersama Adeline dan sekelompok peri lainnya, melewati suatu lorong yang panjang. Lorong itu tidak seperti lorong-lorong berukuran kecil yang Lian Haocun lewati sebelumnya dengan menunduk atau berjongkok. Lorong itu bisa dilewati oleh manusia yang sedang berdiri. Akan tetapi, bagi Lian Haocun, hal tersebut benar-benar aneh dan janggal.
Pasalnya, lorong-lorong yang ia lewati sebelumnya disesuaikan dengan ukuran sekelompok peri yang tinggal di Kota ini, namun, lorong yang Lian Haocun lewati sekarang, mampu di lewati oleh dirinya, yang memiliki tinggi paling tinggi di antara Qian Wenwu dan Lian Huanran. Yang berarti, lorong ini memang dibuat khusus untuk dilewati manusia, atau pun ras-ras lain yang memiliki tinggi seperti manusia.
Setelah melewati lorong panjang yang kosong, sambil ditemani dengan obrolan Adeline dan sekelompok peri lainnya, Lian Haocun, Lian Huanran dan Qian Wenwu akhirnya sampai ke tempat terakhir di kota tempat tinggal para peri yang dikatakan Adeline.
Tempat itu adalah ruangan dengan warna dominan putih, dan dilengkapi dengan berbagai perlengkapan serta tanaman hijau. Bisa dikatakan, ruangan itu tampak seperti ruang tamu, namun dibuat khusus untuk ras dengan tinggi dan berat seperti manusia.
Adeline pun memulai tur-nya di ruangan yang tampak elegan tersebut, bersama dengan Lian Haocun, Lian Huanran, Qian Wenwu dan sekelompok peri lainnya. Ruangan itu benar-benar tampak seperti ruang tamu biasa, tanpa mekanisme tersembunyi apa-pun. Tur tidak berlangsung lama, karena ruangan tersebut tidak terlalu luas.
“Nah! Kalian bisa duduk di kursi itu, dan aku akan memulai tes kalian!” Ujar Adeline sambil menunjuk ke suatu kursi empuk, yang berwarna putih juga.
Tanpa basa-basi, Lian Haocun melangkah, dan duduk di kursi yang ditunjuk oleh Adeline. Sementara, Lian Huanran mencoba mencari lebih banyak informasi mengenai tes yang akan diberikan Adeline, tetapi sayangnya, Adeline tidak membocorkan informasi sama sekali. Sehingga, baik Qian Wenwu mau pun Lian Huanran duduk di kursi tersebut tanpa informasi apa-pun yang berguna.
Setelah Lian Haocun, Lian Huanran, dan Qian Wenwu duduk di kursi mereka masing-masing, Adeline berkata dengan suara mungilnya, “Siap! Mulai!”
Adeline menggerakkan jari mungilnya, lalu cahaya terang yang mampu membutakan mata keluar dari jari telunjuk Adeline! Seketika, Lian Haocun, Lian Huanran dan Qian Wenwu yang sebelumnya tersadar, langsung jatuh tertidur di kursi yang mereka duduki.
-
Lian Haocun membuka kelopak matanya yang terpejam, dan merasakan tubuhnya terasa berat untuk sesaat. Kemudian, mulai terdengar suara sorak-sorai yang teramat keras. Ketika membuka mata, Lian Haocun langsung diserang oleh cahaya terang, yang membuatnya harus mengedipkan mata.
Namun, hanya dengan melihat sekilas, Lian Haocun langsung dapat mengenali tempatnya berada. Ia berada di koloseum, tempatnya dulu bertarung mati-matian untuk bertahan hidup. Bahkan, rasa kebisingan di telinga Lian Haocun sekarang, terasa sama persis dengan suara di kehidupan pertama-nya.
Kelapa Lian Haocun terasa pusing mendengarkan banyak suara teriakan dan kebisingan dari para penonton di koloseum tersebut. Ditambah, indra pendengarannya yang tajam membuat kepala Lian Haocun semakin pusing, maka dari itu, Lian Haocun menggunakan Qi Spiritualnya untuk menutupi telinganya.
Yang Lian Haocun ingat, sebelumnya ia duduk di kursi, lalu Adeline memulai tes-nya, dan tiba-tiba saja, ia berada di sini. Lian Haocun mengamati sekelilingnya, dan menemukan, hewan buas yang sedang mengaum ke arahnya! Ya, itu adalah seekor singa, yang tampak sangat kelaparan.
‘Apa ini ilusi yang membuatku mengulang apa yang terjadi di masa lalu, tapi dengan tubuhku di kehidupan kedua?’ Pikir Lian Haocun sambil menganalisis apa yang terjadi saat ini, pasalnya, ia sedikit kebingungan dengan perubahan yang sangat tiba-tiba ini. Ditambah, Lian Haocun tidak mengetahui sama sekali tes semacam apa yang harus ia lalui.
Namun Lian Haocun sangat yakin kalau ia tidak berpindah tubuh, atau pun berubah menjadi anak kecil. Pasalnya ia masih bisa menggunakan Qi Spiritualnya dengan sesuka hati.
Lian Haocun membutuhkan waktu untuk berpikir, tetapi sayangnya, singa yang menjadi lawannya bertanding, tidak memberikan waktu berpikir kepada Lian Haocun, singa itu langsung mencoba menerkam Lian Haocun!
Dengan tubuh kultivator-nya saat ini, tentunya, Lian Haocun dapat dengan sangat mudah meremukkan singa yang berniat memakannya itu. Namun, Lian Haocun tidak melakukannya.
Mengingat perlakuan singa yang ia lawan, di kehidupan pertama-nya saat berumur lima tahun, Lian Haocun merasakan amarah dari dadanya. Mungkin itu adalah singa yang berbeda, namun, Lian Haocun ingin membalaskan sedikit dendamnya dari kehidupan sebelumnya.
Maka dari itu, di tangan Lian Haocun, nasib singa yang sudah mengenaskan itu, menjadi semakin mengenaskan. Singa itu disiksa selama kurang lebih sepuluh menit, lalu dibunuh dengan cara yang tidak manusiawi. Bisa dikatakan, bagi sang singa yang angkuh dan ganas, pertemuan dengan Lian Haocun merupakan gerbang pintu menuju neraka.
Penonton yang menonton adegan penyiksaan tersebut, bersorak-sorai senang, mereka tidak menyangka akan menonton pertunjukan yang menakjubkan. Mereka menganggap, pertarungan yang mempertaruhkan nyawa ini sebagai hiburan menyenangkan layaknya sedang bermain suatu permainan.
Bahkan tidak sedikit dari mereka yang mengomentari Lian Haocun, seperti sedang mengomentari benda, mau pun berencana membeli Lian Haocun supaya bisa menghasilkan uang untuk mereka dengan bertarung di arena.
Lian Haocun yang tidak membiarkan dirinya ternoda darah singa sedikitpun, mulai berjalan ke arah sebuah pintu hitam. Pintu itu akan terbuka setelah pemenangnya ditentukan.
Setelah membuka pintu, Lian Haocun melihat lorong yang sangat familier di ingatannya. Itu adalah lorong yang ia lewati setiap kali berhasil memenangkan pertandingan. Tidak ada yang berubah sedikit pun dari ingatan Lian Haocun, bahkan orang yang memasangkan rantai di tangannya juga merupakan orang yang sama di ingatannya.
Ya, di sebelah Lian Haocun, berdiri seorang prajurit mengenakan armor, yang terlihat cukup berat, ia dengan cepat memasangkan rantai di kedua tangan Lian Haocun, lalu menyeret Lian Haocun ke sel tempat ia tinggal. Lian Haocun tidak memedulikan sikap kasar prajurit itu, karena di kehidupan sebelumnya, ia sudah sangat sering mengalami itu.
Sambil mengikuti prajurit tersebut, Lian Haocun memutar otak untuk memahami apa yang terjadi.
‘Apakah aku dikirimkan kembali ke kehidupan pertamaku? Atau ini hanya tes ilusi dari para peri?’ Batin Lian Haocun penuh pertanyaan.
Bukan hanya itu, Lian Haocun juga berpikir, apakah ia mampu bertemu dirinya yang masih berusia lima tahun di sini?