The Journey To Become The Strongest

The Journey To Become The Strongest
Chapter 65 — Kepribadian bagai Api dan Es



Setelah Lian Haocun pergi, Lian Huanran yang tertidur tiba-tiba membuka matanya yang sudah terlihat agak baikkan. Matanya dipenuhi emosi kebingungan yang rumit. Begitu juga dengan hatinya.


Setelah Lian Haocun pergi dari kamar Lian Huanran, ia membereskan pakaian-pakaiannya di kamarnya. Lalu menyimpannya dalam cincin penyimpanan. Proses membereskan berbagai barang-barang dari kamarnya berlangsung cukup lama.


Tidak lupa Lian Haocun membawa pil-pil penyembuhan dan berbagai pil lainnya. Kemudian ia mengecek kembali semua barang yang disimpannya di cincin penyimpanan sebelum keluar dari kamar dan menuju kamar Lian Huanran.


Lian Haocun memasuki kamar Lian Huanran dan menatap Lian Huanran yang masih tertidur padahal sudah sekitar pukul delapan dan sembilan pagi. Lian Haocun mengecek keadaan matanya dan mendesah puas di dalam hati,


‘Syukurlah, matanya sudah terlihat lebih baik.’


Meski ekspresinya tidak berubah sedikit pun, aura di sekitarnya menjadi sedikit lebih hangat. Lian Haocun duduk di kursi kayu dan menunggu Lian Huanran terbangun sambil membaca buku keterampilan seni bela diri untuk menghabiskan waktu.


Lian Huanran yang sebenarnya sudah terbangun namun hanya berpura-pura tertidur, “...”


Lian Haocun menunggu cukup lama hingga Lian Huanran ter-‘bangun’. Lian Haocun menutup buku keterampilan seni bela diri dan menyimpannya kembali ke dalam cincin penyimpanan.


Lian Haocun berkata dengan nada dingin dan acuh tak acuh khas-nya, “Selamat pagi. Apa kau ingin sarapan?”


Lian Huanran menatap Kakaknya dengan rasa bersalah dan menyesal dalam hatinya. Meski ingin meminta maaf, Lian Huanran merasakan gengsinya berlawanan dengan keinginannya tersebut. Jadi ia mengerucutkan bibirnya kesal dan dengan angkuh memalingkan pandangannya.


‘Sepertinya ia masih agak marah...’ Batin Lian Haocun mengamati reaksi Lian Huanran.


‘Lebih baik membicarakannya nanti.’ Lanjut Lian Haocun di dalam hati.


Kemudian Lian Haocun keluar dari kamar Lian Huanran dan memanggil pelayan. Lian Haocun meminta pelayan untuk menyiapkan beberapa makanan kesukaan Lian Huanran. Lalu ia kembali ke kamar Lian Huanran. Terlihat Lian Huanran yang masih ‘marah’ dan ‘kesal’. Lian Haocun menghela nafas berat di dalam hatinya.


Lian Haocun berkata dengan nada dingin dan acuh tak acuh, “Kakak minta maaf.”


Sehingga permintaan maaf tersebut benar-benar tidak terdengar seperti permintaan maaf yang tulus, jika yang mendengarnya adalah orang-orang yang tidak dekat dengan Lian Haocun. Namun Lian Huanran bisa merasakan ketulusan dalam permintaan maaf Kakaknya.


Hati Lian Huanran melembut dan kemarahannya yang tersisa di hatinya menghilang. Dia berlari dan melompat memeluk Lian Haocun. Lalu mulai menangis dan terisak-isak sambil menyuarakan keluhan di hatinya.


Lian Haocun terkejut dengan tindakan tiba-tiba Lian Huanran. Sehingga ia tidak membalas pelukan Lian Huanran yang hangat dan malah membeku di tempat. Beberapa kali mata Lian Haocun berkedip kebingungan mendengar keluhan Lian Huanran. Dia tidak pernah menghadapi situasi seperti ini sebelumnya.


“Jadi intinya, Huanran juga... minta maaf kepada Kakak. Meski Kakak tidak bisa mengekspresikan emosi Kakak dengan baik, Kakak tetaplah Kakak Huanran yang terbaik!” Kata Lian Huanran tulus sebelum mengakhiri pidato keluhannya yang lumayan panjang.


Lian Haocun merasa sesak di hatinya sedikit berkurang. Tanpa Lian Haocun sendiri sadari, wajahnya membentuk senyum yang sangat tipis. Sayang sekali Lian Huanran yang sedang mengusap-usap kepalanya di jubah Kakaknya yang terasa hangat, tidak melihatnya.


Lian Haocun menanggapi singkat permintaan maaf Lian Huanran, “Iya.”


Pelayan memasuki kamar Lian Huanran dan mulai menata makanan-makanan yang mengeluarkan bau harum yang memikat. Mata Lian Huanran yang sedari kemarin suram dan kosong, berbinar melihat makanan kesukaannya. Sejenak Lian Huanran melupakan kesedihannya karena Shen Wenhuan. Setelah menata semua makanan, pelayan tersebut mengundurkan diri setelah memberi hormat kepada Lian Haocun dan Lian Huanran.


Bai dan Cheng yang masih tertidur pulas, dibangunkan oleh Lian Huanran dengan cara yang halus. Lalu Bai dan Cheng ikut makan bersama Lian Huanran. Lian Huanran juga mengajak Kakaknya untuk makan. Namun Lian Haocun berkata ia tidak lapar. Sehingga Lian Huanran mengabaikannya dan fokus untuk menghabiskan makanannya. Bagaimanapun ia kelelahan kemarin karena menangis terus-menerus ditambah ia tidak makan apa-pun.


Satu orang dan kedua binatang ajaib makan dengan lahap. Sehingga tidak ada yang tersisa. Setelah menyelesaikan makanannya, Lian Huanran baru menyadari kekurangan orang di ruangan tersebut,


“Kakak, di mana Chao Bence?”


Lian Haocun yang sedari tadi membaca buku untuk menghabiskan waktu menjawab, “Ia sedang berjalan-jalan karena bosan.”


Lian Huanran bergumam ‘Hm’ sebagai tanggapan.


Seketika suasana menjadi sunyi senyap. Karena Lian Huanran fokus makanan tadi, ia tidak merasakan suasana sunyi senyap yang menyelimuti kamar ber-interior cerah tersebut. Lian Huanran mengamati sekeliling ruang tempatnya tidur sambil menekan emosi-emosi sedih yang mulai menyeruak kembali. Dengan nada yang agak berat, Lian Huanran bertanya,


“Kakak, setelah ini, apa yang akan kita lakukan?”


Lian Haocun menatap mata Lian Huanran yang dipenuhi emosi dari tempatnya duduk. Lian Haocun menjawab,


“Aku akan meningkatkan kemampuan dan tingkat kultivasiku. Huanran... Apa kau mau ikut denganku?”


Lian Huanran agak kaget dan terkejut mendengar jawaban Lian Haocun. Ia tidak menjawab pertanyaan Lian Haocun dan malah bertanya lagi dengan nada lemas,


“Terus... Terus... Bagaimana dengan sekte ini?”


Lian Haocun menjawab tanpa ragu-ragu, “Aku sudah membicarakannya dengan pemimpin sekte, aku akan meninggalkan sekte.”


Mendengar jawaban Kakaknya, jantung Lian Huanran serasa diremas dengan kuat. Berbagai pikiran muncul begitu saja di otak Lian Huanran,


‘Bagaimana bisa Kakak meninggalkan sekte tempat kita bersama Guru begitu saja? Apa Kakak tidak memiliki perasaan apa-pun dengan sekte tempatnya berada selama sepuluh tahun? Bagaimana Kakak bisa dengan mudahnya..., meninggalkan tempat penuh kenangan bersama Guru?’


Tapi Lian Huanran tidak menyuarakan pertanyaan di pikirannya sama sekali. Dia hanya menatap meja dengan tatapan nanar dan linglung. Bai dan Cheng yang menyadari keanehan Lian Huanran segera mendekatinya. Lalu Bai dan Cheng menggunakan berbagai cara untuk mengalihkan perhatian Lian Huanran, meski itu tidak berguna.


Chao Bence berdiri tepat di depan pintu masuk kamar Lian Huanran. Dengan hanya pintu kayu yang memisahkan, Chao Bence menggelengkan kepalanya pelan dan menghela nafas berat.


Pikiran Lian Haocun sangat rasional bahkan jika dihadapkan oleh situasi yang sangat emosional. Sementara Lian Huanran sangat berkebalikan dengan Lian Haocun, dia tipe orang yang sangat emosional dan selalu menampakkan emosi yang dirasakannya. Mereka saling melengkapi, tetapi perbedaan cara berpikir mereka juga bisa membuat jurang yang sangat lebar di antara mereka berdua.


Chao Bence berpikir, 'Seperti pedang bermata dua. Aku tidak tau apakah perbedaan cara berpikir mereka adalah hal baik atau buruk.'