The Journey To Become The Strongest

The Journey To Become The Strongest
Chapter 100 — Senior Lian Huanran, Tang Yelu



Dengan melihat punggung Lian Huanran saja, Lian Haocun sudah mengetahui satu hal, bahwa Tang Yelu meninggal. Tetapi bukan hal itu yang dipedulikan Lian Haocun, nadi Tang Yelu yang berdenyut meski lemah sudah memberikan harapan kepada Lian Huanran bahwa Senior Tang yang sudah dianggapnya sebagai teman dan saudara sendiri masih memiliki kemungkinan untuk selamat.


Rasanya diberikan sinar harapan yang cerah, tetapi sinar harapan itu dirampas dengan cara yang sangat kejam. Ditambah, Lian Haocun mengetahui pasti Lian Huanran akan mengecek kondisi Tang Yelu setiap saat, yang sama saja berarti Lian Huanran sudah melihat kematiannya tanpa bisa melakukan apa pun yang tidak akan berakibat baik untuk mental Lian Huanran.


Ahli medis segera mengecek keadaan Tang Yelu dan mengabaikan Lian Huanran yang kepalanya tertunduk menatap tanah. Seketika ekspresi wajah ahli medis menjadi terkejut dan dipenuhi ketidakpercayaan, suaranya pun sedikit gemetar, “B-b-agaimana bisa!? Apa yang terjadi dengan Tang Yelu? Di mana Wu Shilin?”


Lian Haocun menatap tajam ahli medis dan segera bulu kuduk ahli medis tersebut meremang sehingga ahli medis heran dan bingung. Lalu Lian Haocun menjelaskan secara singkat sambil mendekati Lian Huanran, “Dia ditusuk oleh Wu Shilin. Kemudian Wu Shilin pergi dan melarikan diri.”


Ahli medis semakin terkejut karena perkataan Lian Haocun, dan spontan ia langsung mengecek luka di mayat Tang Yelu. Memang benar terlihat jelas terdapat luka yang cukup dalam di dada Tang Yelu. Lian Huanran yang melihat merasa matanya agak kabur karena air mata, tetapi pada akhirnya tidak ada air mata yang menetes, air mata tersebut hanya berada di pelupuk mata Lian Huanran.


Lian Haocun melemparkan sekantung koin emas yang berisi sangat banyak hingga menjadi menggembung ke ahli medis yang menanggapi dengan kebingungan. Lalu Lian Haocun meletakkan tangan Lian Huanran di bahunya dan berkata dengan nada datar, “Itu ucapan terima kasih kami terhadap Sekte Lembah Darah Biru. Sekarang kami akan pergi terlebih dahulu. Terima kasih.”


Ahli medis langsung menghentikan Lian Haocun yang membawa Lian Huanran pergi, tetapi sayangnya Lian Haocun mengabaikannya dan tetap pergi, menghilang dari pandangan ahli medis dengan kecepatan yang sangat cepat.


Ahli medis yang tidak tau bagaimana harus menghadapi ketua Sekte Lembah Darah Biru hanya bisa menghela nafas berat sambil menatap mayat Tang Yelu yang terbaring tenang di tanah. Di dalam hati ahli medis, ia benar-benar sangat sedih dan berduka untuk kematian Tang Yelu, namun ia masih tidak bisa percaya bahwa Wu Shilin-lah yang melakukan hal tersebut.


'Bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah Wu Shilin dan Tang Yelu sangat dekat?' Batin ahli medis.


...****************...


Lian Haocun segera membawa Lian Huanran ke kota kecil terdekat dari Sekte Lembah Darah Biru. Dalam waktu kurang dari lima belas menit, Lian Haocun berhasil memesan satu kamar penginapan.


Lian Huanran mendudukkan Lian Huanran di kasur lalu menutup pintu kamar penginapan yang ia pesan. Lian Huanran masih terlihat seperti seseorang yang kehilangan jiwanya, hampa dan kosong, tatapannya yang tidak bernyawa tetap mengarah ke arah tanah yang membuat kesan tidak bernyawa-nya semakin kuat.


Lian Haocun berjalan ke arah Lian Huanran sambil menyiapkan kata-kata di dalam pikirannya, tetapi seketika melihat Lian Huanran yang terlihat begitu linglung, Lian Haocun tidak bisa mengeluarkan kata-kata yang sudah disusunnya. Suasana hening yang mencekam menyelimuti kamar penginapan tersebut.


Setelah beberapa menit, Lian Haocun berkata dengan nada seramah mungkin, yang malah terdengar sangat kaku dan aneh, “Kematian akan selalu menjadi akhir bagi setiap orang.”


Meski Lian Huanran terlihat begitu linglung, ia merespon dengan menganggukkan kepalanya pelan dan berkata dengan suara serak, “Iya..., kematian akan selalu menjadi akhir bagi setiap orang, begitu juga dengan Kakak atau pun aku.


Hanya kematian mendatangi Senior Tang lebih cepat, dan itu karena aku... Seandainya aku bisa mencari seseorang yang memiliki elemen cahaya yang bisa menyembuhkan atau pun membuat pil obat ajaib yang memiliki efek lebih kuat.... Mungkin... aku masih bisa menyelamatkan Senior Tang bukan?”


Lian Huanran tertawa kecil yang terdengar sangat menyedihkan dan membuat hati Lian Haocun terasa digores oleh benda tajam, “Kakak..., kenapa Kakak tidak terlihat sedih sama sekali dengan kematian Senior Tang?”


Jawaban Lian Haocun tersendat di tenggorokan, karena memang ia tidak begitu merasa sedih dengan kematian Tang Yelu, apalagi ia tidak terlalu dekat dengan Tang Yelu.


Tentu Lian Huanran mengetahui jawaban Lian Haocun, dan seketika ia merasa dirinya sangat lemah dan egois, meski itu wajar karena ia baru saja mengalami kejadian yang mengerikan, tetapi fakta bahwa Lian Huanran melampiaskan emosinya kepada Lian Haocun tetap merupakan kebenaran. Lian Huanran berniat berkata, ‘Maaf, emosiku sedang kacau.’


Namun tanpa diduga Lian Haocun menjawab, “Iya, kakak memang tidak begitu sedih dengan kematian Tang Yelu. Kakak tidak seperti kau yang bisa merasakan banyak emosi seseorang, bahkan jika Kakak merasakannya Kakak tidak akan mengerti apa emosi itu.”


Ini pertama kalinya Lian Haocun memberitahukan kepadanya bagaimana perasaannya jadi Lian Huanran sangat terkejut hingga tidak dapat langsung merespons perkataan Lian Haocun. Lian Haocun merasa canggung, tetapi ia tetap melanjutkan, “Huanran boleh melampiaskan emosi Huanran kepada Kakak. Kakak tidak akan mempermasalahkannya, bukankah itu yang harus dilakukan saudara? Tempat untuk menceritakan keluh kesah.”


Saat mengetahui bahwa Tang Yelu bisa diselamatkan, Lian Huanran tidak berbohong, ia merasa sangat bahagia, namun kenyataan lagi-lagi mengoyak harapannya dengan kejam. Seiring waktu berlalu, Lian Huanran sudah bisa merasakan bahwa nadi Tang Yelu melemah, ia berusaha mengulur waktu dengan memberikan banyak obat pil ajaib kepada Tang Yelu, yang tentu tidak akan berguna sama sekali.


Itu terjadi beberapa detik setelah Lian Haocun pergi. Lalu semenit kemudian, Lian Huanran sudah tidak bisa merasakan denyut nadi Tang Yelu mau pun nafas lemah dan suara jantung Tang Yelu. Dalam sekejap, Lian Huanran merasa sangat kacau dan linglung.


Namun Lian Huanran berpikir bahwa dirinya tidak boleh terlihat lemah, ia tidak boleh meneteskan air mata sama sekali dan harus kuat menghadapinya, tetapi itu malah membuat Lian Huanran merasa dirinya sendirian, tanpa ada siapa pun yang akan mengulurkan tangan ke arahnya yang tenggelam ke dalam air.


'Setiap orang memiliki caranya sendiri-sendit untuk menghibur seseorang, ternyata ini cara Kakak menghibur seseorang...' Batin Lian Huanran.


Air mata yang sedari tadi ditahan oleh Lian Huanran tiba-tiba keluar tanpa terkendali. Lalu ia memeluk erat Kakaknya dan melampiaskan segala emosi kacaunya dalam kata-kata. Butuh waktu beberapa jam hingga Lian Huanran tenang dan jatuh tertidur karena kelelahan. Lian Haocun seperti delapan tahun sebelumnya, mengompres mata Lian Huanran yang agak bengkak karena terus-menerus menangis.


‘Setidaknya perasaannya menjadi lebih baik.’ Batin Lian Haocun lalu tertidur di samping Lian Huanran.


Keesokan harinya, mereka langsung menggunakan alat sihir transportasi untuk menuju ke Kota Vekado, pusat kota Benua Afer yang merupakan tempat perjanjian pertemuan Lian Haocun dan Lian Huanran dengan Chao Bence, Long Yuan dan Shui Zuo sebelum mereka berpisah di Hutan Mofa.


Sambil menikmati semilir angin, Lian Huanran bertanya, “Kakak, kota Vekado itu kota yang katanya paling unik kan di antara kota-kota lain?”


Lian Haocun menanggapi dengan gumaman ‘Hm’ singkat yang berarti ‘Iya’. Lian Huanran tersenyum tipis dan matanya berbinar dengan rasa semangat.